close

[Book Review] The Silmarillion

The Silmarilion
The Silmarilion

Judul: The Silmarillion

Penulis: J.R.R. Tolkien

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Penerjemah: Tanti Lesmana

Tahun Terbit: 2015

Jumlah Halaman: 624 halaman

Sejatinya bagi Anda yang mempercayai keberadaan Tuhan, tentunya Anda akan mengakui bahwa Tuhan-lah pencipta semesta ini. Tuhan akan menceritakan bagaimana Ia menciptakan semesta ini lewat kitab suci. Berbeda agama, berbeda kitab suci, maka akan berbeda pula cerita yang akan anda dapati.

Begitu pula seorang J.R.R. Tolkien yang menjadi Tuhan atas dunia imajinasinya. Tolkien sendiri terkenal akan karya-karya novel fantasinya. Salah satu yang tidak asing ditelinga anda adalah Trilogi  Lord of The Rings. Dalam cerita trilogi tersebut Tolkien seolah membuat dunia versi imajinasinya sendiri. Karya-karya Tolkien yang lain pun kebanyakan berikatan satu sama yang lain. Satu latar yang sama namun fokus karakter dan cerita yang berbeda. Misalnya antara karya trilogi  Lord of The Rings dengan The Hobbit. Dunia imajinasi Tolkien ini saling mengaitkan karya-karya antar satu dengan yang lainnya. Maka dari itulah sebagai ‘Tuhan” atas dunia imajinasinya, ia bertanggung jawab untuk menuliskan ‘kitab suci’ untuk dunianya ini.

Atas rasa tanggung jawabnya, ia pun menuliskan sebuah novel berjudul The Silmarillion. Nama tersebut ia ambil dari kata Silmarilli yang artinya kilau cahaya murni. Novel ini menceritakan awal mula penciptaan dan sejarah penting pada dunia imajinasi Tolkien. Novel ini ia tulis menjadi lima bagian. Bagian pertama adalah Ainulindale. Menceritakan tentang Ainur yang merupakan roh-roh yang diciptakan Eru atau Illuvatar. Dalam dunia imajinasi Tolkien, Eru atau Illuvatar merupakan Tuhan.  Selanjutnya bagian kedua adalah Valaquenta. Bagian ini menceritakan tentang Valar dan Maiar yang merupakan roh-roh penjaga dunia. Perbedaannya di antara keduanya adalah kedudukan Maiar lebih rendah daripada Valar. Bagian ketiga adalah Quenta Silmarillion. Bagian merupakan yang paling utama dari novel ini. Menceritakan  tentang peristiwa-peristiwa penting pada rentang waktu yang ia sebut zaman pertama. Bagian keempat dinamakan Akallabeth. Bercerita tentang kisah dalam rentang waktu yang disebut zaman kedua. Bagian terakhir adalah Tentang Cincin-cincin Kekuasaan dan Zaman Ketiga. Bagian ini yang menandakan awal mula dimulainya Zaman Ketiga. Jika merujuk pada Silmarillion, cerita The Hobbit maupun Lord of The Rings berlangsung pada zaman ketiga ini.

Di antara ke lima bagian yang telah disebutkan, inti buku ini ada pada bagian Quenta SilmarillMengisahkan peristiwa-peristiwa penting yang dialami anak-anak Illuvatar yaitu, Elves dan Manusia pada zaman pertama.  Awal mula konflik terjadi ketika Feanor putra Finwe pemimpin bangsa Noldor membuat tiga buah batu permata yang dinamai Silmarillion. Permata tersebut merupakan permata yang terbaik yang pernah ada hingga dijadikan pusaka bangsa Noldor. Bersamaan saat itu pula Melkor sang Valar pembawa kejahatan lepas dari hukuman. Melkor pun tidak diizinkan oleh para Valar untuk bebas melanglang buana. Ia hanya diizinkan bepergian disekitar Valinor. Namun ia sudah menyiapkan sebuah rencana licik bermaksud membawa dirinya lepas dari Valinor. Seketika itu pula hawa kejahatan mulai kembali terasa. Ia menghasut Feanor untuk memberontak pada Valar terkait pembicaraan mengenai Silmarillion yang ia buat. Dalam diri Feanor pun mulai tumbuh rasa benci terhadap para Valar. Karena hal itu ia pun dipanggil ke Valinor oleh para Valar.

Saat Feanor pergi ke Valinor, Melkor pun menyerang kerajaan bangsa Noldor di wilayah yang dinamai Aman dengan  bantuan mahkluk laba-laba raksasa. Dalam peristiwa tersebut Finwe sang pemimpin bangsa Noldor tewas terbunuh. Selain itu ikut pula diambil tiga buah permata Silmarillion oleh Melkor. Mendengar kabar tersebut, Feanor pun murka. Kebenciannya bertambah kepada para Valar karena ia merasa jika ia tidak ke pergi ke Valinor peristiwa tersebut tidak akan terjadi. Atas dasar itulah Feanor mengucapkan sumpah yang mewakili bangsa Noldor bahwa kaumnya tidak akan patuh pada para Valar. Selain itu, seluruh bangsa Noldor pun angkat kaki dari Valinor untuk merebut kembali permata Silmarillion yang diambil Melkor. Dalam kekacauan yang dibuatnya, Melkor dapat berhasil kabur dari Valinor dan pergi ke bumi. Maka para bangsa Noldor pun ikut hijrah ke bumi. pergi untuk berjuang bersama

Saat itulah menandai awal mula kejadian-kejadian di bumi. Nantinya cerita-cerita yang ada di bab ini memiliki hubungan dengan cerita-cerita pada novel-novel Tolkein yang lain. Misalnya Unfinished Tales of Numenor and Middle-earth, Sauron Defeated, The Children of Hurin, dan masih banyak lagi. Maka dari itu kisah-kisah tiap bab pada bagian Quenta Silmarillion terkesan singkat dan hanya beberapa bagian yang mendetail. Hal ini juga membuat dalam novel ini terdapat banyak sekali karakter dan juga nama tempat yang tentunya hanya anda dengar di dunia imajinasi Tolkien.

Banyaknya karakter, nama tempat, serta istilah tentunya akan sulit membuat pembaca mencerna isi cerita. Maka dari itu pada bagian akhir buku ini dilengkapi sebuah glosarium. Dalam glosarium tersebut berisi nama-nama, tempat, dan juga istilah dari bahasa Elves yang Tolkien ciptakan. Sehingga jika pembaca lupa akan nama-nama pada novel ini dapat langsung membuka glosarium. Pembaca tidak perlu repot membuka lagi halaman-halaman sebelumnya. Meski begitu, bagi pemula nampaknya bakal menemui sedikit kesulitan, pasalnya istilah-istilah asing di atas tidak tercetak miring.

Selain glosarium, pada halaman belakang dilengkapi pula dengan sebuah peta. Tentunya peta ini memudahkan sinkronisasi imajinasi anda dengan apa yang Tolkien gambarkan. Akan tetapi ada sedikit kekurangan yang perlu disoroti mengenai asal-usul setiap bangsa. Dalam buku ini diceritakan tentang bahwa bangsa Elves dan Manusia merupakan anak-anak Illuvatar. Bangsa kurcaci merupakan ciptaan Aule, salah satu Valar. Orc berasal dari bangsa Elves yang ditawan oleh Melkor. Elves tersebut kemudian diubah oleh kekuatan Melkor menjadi Orc sebagai pasukannya. Namun tidak diceritakan awal mula penciptaan bangsa Hobbit  atau dalam buku ini dijuluki kaum Halfling. Sebagaimana  yang kita tahu Hobbit merupakan karakter penting dalam cerita  novel Lord of the Rings maupun The Hobbit.

Memang ‘kitab suci’ dunia Tolkien ini masih ada kekurangan dalam penceritaannya. Penyempurnaan buku ini memang lepas dari sentuhan J.R.R. Tolkien. Penyuntingan buku ini dilakukan oleh sang anak, Christopher Tolkien. Awalnya ia merasa ragu dan sedikit canggung. Ia sangat berhati-hati dalam penyuntingan buku ini terutama pada bagian ketiga. Oleh karena itu, buku ini baru pertama kali terbit empat tahun sejak J.R.R. Tolkien meniggal yaitu tahun 1977. Tidak hanya buku ini saja, banyak karya-karya Tolkien yang terbit selepas ia meninggal.

Dalam karir kepenulisannya, sudah ada 43 novel yang diterbitkan. Menurut J.R.R. Tolkien sendiri buku ini adalah yang paling legendaris dan paling berbeda yang pernah berbuat. Karena cerita-cerita dalam karyanya yang lain merupakan percabangan dari cerita buku ini. Untuk itu, bagi Anda penggemar J.R.R. Tolkien, wajib hukumnya untuk membaca The Silmarillion. [WARN!NG/ Rifki Afwakhoir]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response