close

[Book Review] Tindakan-Tindakan Kecil Perlawanan

Tindakan Kecil Perlawanan

Tindakan Kecil Perlawanan

Judul Buku: “Tindakan-Tindakan Kecil Perlawanan: Bagaimana Keberanian, Ketegaran, dan Kecerdikan dapat Mengubah Dunia”

Pengarang: Steve Crawshaw dan John Jackon

Penerjemah: Roem Tomatipasang

Penerbit: INSISTPress (2015)

Jumlah Halaman: 261 halaman

 

Akhir Juni 2016 lalu, dunia digegerkan dengan beredarnya banyak foto telanjang pekerja-pekerja Belarusia di dunia maya. Hal tersebut dikarenakan Presiden Belarusia, Alexander Lukashenko, keseleo lidah. Lukashenko yang telah memimpin Belarusia selama 22 tahun dengan tidak sengaja memerintahkan rakyatnya untuk bekerja dengan telanjang. “Inovasi, teknologi informasi, privatisasi–semua sudah jelas. Kita telah menguasai semuanya. Tetapi segalanya begitu sederhana, kita harus melucuti baju kita dan bekerja,” perintah Lukashenko.

Menurut kantor berita RT di Rusia, Lukashenko mungkin ingin mengatakan “berkembang dan bekerja”, karena melucuti baju dan berkembang terdengar mirip, ‘razviVAtsa’ dan ‘razDEvatsa’. Namun, rakyat yang sudah jengah memanfaatkan momen itu untuk menghina presiden otoriter mereka yang justru menghancurkan perekonomian Belarusia dengan inflasi tinggi dan tingkat pengangguran yang tinggi. Bersama-sama mereka mengunggah foto telanjang di tempat kerja dengan menggunakan tagar #getnakedandwork. Pekerja-pekerja Belarusia itu berhasil mengolok-olok Lukashenko yang disebut sebagai diktator terakhir Eropa. Perlawanan rakyat Belarusia dilakukan dengan tindakan yang cerdas, lucu, dan tepat sasaran.

Sejarah dunia juga dipenuhi dengan tindakan-tindakan perlawanan seperti yang dilakukan warga Belarusia tersebut. Steve Crawsah dan John Jackson mengumpulkan banyak contoh kasus dalam buku mereka Tindakan-tindakan Kecil Perlawanan: Bagaimana Keberanian, Ketegaran, dan Kecerdikan dapat Mengubah Dunia. Buku tersebut diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Roem Topatimasang. Tindakan-tindakan perlawanan dari seluruh dunia dikumpulkan menjadi satu buku 261 halaman dengan 15 bab. Tiap tindak perlawanan disajikan dengan cara bercerita. Jadi, buku ini dapat dibaca dengan cukup cepat dan mudah dipahami. Setiap bab mempunyai cerita yang mirip kandungannya. Misal, bab tiga berisi kisah-kisah perlawanan yang dilatarbelakangi oleh olahraga. Sedangkan di bab empat berisi perlawanan dalam mengelabui sensor ketat pemerintah.

Meskipun memiliki judul tindakan-tindakan kecil, beberapa cerita dalam buku tersebut tidaklah kecil sama sekali. Memang ada kisah-kisah tentang tindakan perlawanan dalam skala kecil, namun ada banyak juga tindakan yang membutuhkan keberanian luar biasa.

Contoh perlawanan skala kecil adalah apa yang dilakukan orang-orang anonim di Oxford dan kota-kota universitas lain di Inggris pada 1984. Ada suatu fenomena munculnya tulisan liar di atas setiap ATM Bank Barclay. Di atas salah satu ATM terpampang tulisan “Hitam” yang ditulis denga cat semprot, dan di ATM lain tertulis “Putih”. Tulisan tersebut tentu tidak membuat orang kulit putih harus masuk di ATM bertulis “Putih” dan orang kulit hitam di ATM bertulis “Hitam”. Mereka tetap bebas memilih ATM yang mereka mau. Namun, grafiti tersebut adalah pengingat bagi para nasabah Bank Barclay bahwa bank tersebut terlibat dalam pemisahan warna kulit (apartheid) di Afrika Selatan. Kala itu, pemisahan ATM masih berlaku di Afrika Selatan. Jumlah rekening mahasiswa di Bank Barclay menurun jumlahnya dari 27% sampai hanya 15% dari aksi corat-coret itu. Lulusan Oxford dan banyak universitas lain di Inggris juga semakin sedikit yang melamar di Bank Barclay. Akhirnya, pada tahun 1986, Bank Barclay angkat kaki dari Afrika Selatan berkat aksi corat-coret ATM tersebut.

Contoh tindakan yang tak bisa dibilang kecil ialah apa yang dilakukan warga kota Leipzig menentang pemerintah Jerman Timur. Pada tahun 1989, aksi unjuk rasa di Leipzig semakin meningkat dari sebelumnya. Aksi unjuk rasa warga Leipzig itu selalu dimulai dengan ‘Berdoa untuk Perdamaian’  di Nikolaikirche, gerja tua abad 12 di tengah kota. Acara doa mingguan itu kemudian berubah menjadi unjuk rasa bersar-besaran. Bahkan, bertambah dengan pawai besar setiap Senin petang. Semua itu untuk menuntut perubahan di Jerman Timur. Meski polisi memukuli dan menangkapi para pengunjukrasa, mereka terus saja melawan. Puncaknya, satu surat pembaca tampil di koran kota Leipzig pada tanggal 6 Oktober memperingatkan bahwa akan ada senjata di aksi unjuk rasa selanjutnya. Surat pembaca itu memang berasal dari warga biasa. Namun, warga Leipzig tidak percaya begitu saja bahwa pengirim surat pembaca itu adalah warga biasa. Surat pembaca itu adalah sebuah teror bagi warga Leipzig bahwa pertumpahan darah akan terjadi di aksi unjuk rasa berikutnya.

Sebelum acara doa mingguan dimulai pada 9 Oktober 1989, 16 truk milisi pekerja bersenjata telah bersiap. Ribuan aparat keamanan bersiaga di seluruh penjuru kota. Wartawan asing dilarang masuk. Peringatan yang dilancarkan pemerintah ternyata tak mempan. Warga Leipzig tak peduli lagi ancaman bahaya, ancaman terbunuh pada aksi unjukrasa hari itu. 70 ribu warga Leipzig mulai berkeliling di jalanan kota Leipzig. Dengan gelisah mereka berteriak, “Tidak ada kekerasan!” Mereka tahu bahwa kepala-kepala mereka telah menjadi incaran moncong-moncong senjata para aparat keamanan. Namun, ternyata tak ada apa pun yang terjadi hari itu. Pemerintah Jerman Timur membatalkan keputusannya dengan mempertimbangkan harga politik yang harus dibayar jika ada pertumpahan darah hari itu. Sebulan kemudian, pada tanggal 9 November 1989, Tembok Berlin akhirnya runtuh. Perubahan besar yang terjadi saat itu bukanlah karena negara adikuasa, tetapi sepenuhnya oleh perlawanan rakyat jelata.

Buku Tindakan-tindakan Kecil Perlawanan ini juga menunjukkan kisah-kisah yang penting namun tak banyak diketahui. Pada tanggal 2 Maret 1955, Claudette Colvin menolak memberikan tempat duduknya kepada seorang penumpang berkulit putih. Dia dikeluarkan dari bus dan ditangkap polisi karena menolak memberikan tempat duduknya. Colvin kemudian menjadi saksi kunci di pengadilan, dari mulai Pengadilan Federal Distrik Alabama hingga Mahkamah Agung Amerika Serikat. Akhirnya, pada tanggal 13 November 1956, Mahkamah Agung Amerika Serikat memutuskan untuk menghapus untuk selamanya undang-undang tentang pemisahan tempat duduk penumpang bus berdasarkan warna kulit. Namun, Colvin nyaris tak pernah tertulis dalam sejarah. Ia berasal dari kawasan yang dipandang kurang baik di kota itu. Ia dihamili oleh seorang lelaki yang jauh lebih tua. Keberaniannya diabaikan dan dilupakan. Yang kemudian menjadi terkenal adalah Rose Parks yang melakukan hal yang sama yang dilakukan oleh Colvin. Parks melakukan tindakanny pada bulan Desember, berbeda 9 bulan dengan Colvin. Parks menjadi sosok yang terkenal, sedangkan Colvin nyaris tak dikenal sama sekali.

Tindakan-tindakan Kecil Perlawanan adalah buku yang bisa dibilang tanpa cela. Setiap kisahnya diceritakan dengan sederhana dan dapat dengan mudah dicerna. Klasifikasi kasus tiap bab memudahkan pembaca untuk melahap semua informasi, sebab materinya tidak melompat-lompat. Steve Crawshaw dan John Jackson berhasil membuat pengingat bagi dunia bahwa berbagai perubahan yang terjadi di dunia berawal dari tindakan-tindakan yang sederhana.

Kami memberi tempat bagi mereka yang menolak bungkam, menunjukkan proses yang memungkinkan para diktator bisa ditumbangkan, yang mengubah hukum dan peraturan yang tidak adil atau sekadar menunjukkan bagaimana orang-orang menemukan kembali rasa kemanusiaan mereka menghadapi pihak-pihak yang menafikannya selama ini. (hlm. 2)

[WARN!NG/Unies Ananda Raja]

warningmagz

The author warningmagz

1 Comment

Leave a Response