close

[Book Review] To Kill A Mockingbird

to-kill-a-mocking-bird
to-kill-a-mocking-bird

Judul Buku: To Kill A Mockingbird

Pengarang: Harper Lee

Penerbit: Qanita (2015)

Penerjemah: Femmy Syahrani

Jumlah Halaman: 396 halaman

Dalam sebuah persidangan yang dilaksanakan oleh pengadilan Maycomb County, aula penuh sesak. Barisan bawah sudah terisi dan atas pun tak menyediakan ruang bagi mereka yang ingin menyaksikan. Hari itu sebuah tonggak sejarah sedang dituliskan. Mengadili buruh kulit hitam yang didakwa memperkosa perempuan kulit putih. Sepertinya sudah wajar apabila kulit hitam menjadi bulan-bulanan mengingat pada masa itu Amerika masih mengangungkan ras berkulit pucat dibanding yang berwarna. Tapi coba lihat di sudut sana. Berdiri seorang kuasa hukum yang memakai setelan jas berwarna coklat muda dengan dasi sedikit gelap dikombinasikan bersama setelan parlente. Mengenakan kacamata yang cukup tebal, ia nampak kalem. Sesekali memperhatikan hakim yang sudah dimakan temaramnya usia. Ketika memasuki gilirannya untuk bermain, sebuah serangan ia tujukan secara mematikan; kata-katanya menukik tajam, menyibak tabir fakta, dan perlahan demi perlahan mempermalukan mereka yang menginjak harga diri dengan ludahan basi. Sosok itu bernama Atticus Finch. Protagonis sejati yang mengerahkan segenap usahanya untuk membela keseimbangan bagi dua ras. Dan dalam To Kill A Mockingbird semua kisah fenomenal terjadi. Membungkam sejarah secara elegan.

Singkat kata, singkat cerita, To Kill A Mockingbird merupakan novel pendobrak batas universal. Ditulis oleh Harper Lee karya ini menceritakan sebuah peristiwa yang nampak asing dan tabu untuk dikisahkan. Akan tetapi Harper Lee dengan begitu berani menguraikan segala kaitan benang satu dan yang lainnya secara terpadu. Tentang bagaimana pengacara kulit putih membela kasus yang menimpa kulit hitam. Jika To Kill A Mockingbird baru dicetak pada era milenia, tentu terlihat biasa saja; mengingat sekarang teriak protes bakal terdengar sangat kencang apabila terjadi rasisme dan sebagainya. Namun ingat, Harper Lee membuat buku ini di masa yang masih tertutup. Dimana sentimen terhadap gelapnya keadilan bagi mereka yang terasing masih menggelombang dengan masif.

Harper Lee membagi kisah ke dalam tiga babak. Babak pertama adalah pengenalan siapa Atticus Finch dan bagaimana kehidupan sehari-harinya. Semenjak sang istri meninggal, Atticus musti berupaya membesarkan kedua anaknya di tengah rutinitasnya menegakkan hukum yang berlaku. Menggunakan sudut pandang sebagai Jean Louise ‘Scout’ Finch—putri semata wayang Atticus yang mempunyai banyak pertanyaan akan kehidupan, Harper Lee menunjukkan proses berputarnya roda keluarga. Putranya yang pertama bernama Jem Finch. Usianya tak terpaut jauh dari Jean Louise. Tipikal anak yang pemberani tapi terkadang terjebak oleh melankoli sendu. Sedangkan Jean Louise lebih sedikit pemberontak. Seakan di pikirannya terdapat ribuan hal yang ingin ia kerjakan. Termasuk bagaimana rasa penasaran mereka untuk memancing Boo Radley keluar dari sarang yang ditempatinya bertahun-tahun.

Babak kedua menyoal kasus yang menyeret Tom Robinson dan Mayella Violet Ewell. Salah satu babak yang berperan penting dalam perjalanan cerita Harper Lee. Segala bentuk intrik, manipulasi, hasutan dan juga pengaruh kuat untuk meyakinkan seluruh warga Maycomb County dibeberkan jelas. Dari sini pembaca dapat mengetahui kisah mula serta motif keluarga Ewell yang berniat keras memenjarakan Tom. Dari babak ini dapat dilihat bagaimana sistem yang sudah terpatri sejak lama mengenyahkan rasa kemanusiaan. Babak ketiga menajamkan konflik yang terjadi lantas mengentaskannya jadi sebuah resolusi yang apik dan menyentuh.

Pada dasarnya, Harper Lee menciptakan caranya sendiri untuk memaparkan nilai-nilai kebebasan HAM universal. Dengan To Kill A Mockingbird, ia menyusun bahasa yang jauh dari kesan menggurui agar pesan esensial di dalamnya tersampaikan kepada jutaan warga Amerika. Bahwa memperlakukan golongan, kaum atau pribadi secara berbeda hanya karena warna kulit mereka tak sama adalah langkah keliru. Ia berkampanye dalam sunyi. Sesunyi benak Atticus Finch tatkala menyaksikan pemandangan di depan matanya begitu ironi. Tapi ia juga menyimpan bara berontak yang fenomenal. Seramai gelagat Jem dan Scout saat bermain dengan dunia konseptualnya. To Kill A Mockingbird adalah konvensi damai yang dilengkapi dengan pemahaman subtil. Tentang bagaimana ajaran di lingkup keluarga mampu menjadi fondasi dalam tata kaidah norma masyarakat. Tentang tujuan keadilan yang hakikatnya tak akan bisa dicapai apabila pemikiran-pemikiran primitif masih bersemayam, bahkan tercurahkan secara sengaja lewat peringai provokatif juga emosi konservatif. Melalui sosok Atticus kita diajarkan bagaimana memperoleh kedamaian baik untuk diri kita sendiri ataupun untuk pihak kebanyakan.

Apa yang terjadi pada Tom Robinson adalah pukulan telak bagi kita. Bukan hanya kulit putih saja tapi juga kepada umat manusia. Dalam tiap kata, percakapan, juga adegan yang dituliskan, Harper Lee dengan efektif membangkitkan nurani sekaligus mengasah kepekaan sosial tanpa kutipan-kutipan moralis bak buku pendidikan kewarganegaraan. Ditambah balutan humor yang cerdas sekaligus menyentil lewat kedua sosok anak Atticus Finch. Rasisme maupun perlakuan berbeda yang dilandasi perasaan benci serta dogma superior akan suatu golongan merupakan penyakit kronis yang menjijikan. Harper Lee coba menyingkirkan silap pikir tersebut lewat kitab pemurnian ini. Alabama, tempat dimana Harper Lee dilahirkan nyatanya memberikan inspirasi besar baginya untuk terus mengasah indra perasa yang mengejutkan bagi sebuah kesadaran. Tidak bermaksud hiperbolis, namun To Kill A Mockingbird menjadi bacaan klasik yang mempunyai segala ragam faktor, dari A-Z, dari teknis maupun non-teknis untuk menjadi salah satu buku terbaik di abad 20. Menyampaikan pesan tentang bentuk perjuangan bagi keadilan tanpa memandang prasangkan itu ada atau tidak. Memang layak apabila terjual sampai 40 juta kopi dan memenangkan prestise Pulitzer Prize di tahun 1961. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response