close

[Book Review] Ujungberung Rebels: Panceg Dina Galur

Ujungberung Rebels
Ujungberung Rebels

Pengarang : Kimung

Penerbit : Minor Books (2012)

Jumlah Halaman : 869 halaman

 

Pada sebuah sesi wawancara majalah aktuil, Ucok AKA mengemukakan pendapatnya mengenai musik underground, “di ranah musik underground tak mengenal bintang. Semua grup band dianggap sejajar. Yang membedakan hanyalah mutu oleh band itu sendiri.” Dari sudut pandang musisi seperti Ucok, kita pun dapat memahami nyata bedanya industri musik underground dengan musik arus utama.

Keberadaan musik metal di negeri ini sangat identik dengan ranah musik underground. Jauh dari panggung penuh bintang. Akan tetapi, mereka terus menghentak di tengah hiruk pikuk popularitas musisi pop. Secara rinci tidak jelas kapan musik metal  pertama kali masuk ke Indonesia. Band-band beraroma metal mulai tumbuh tahun 1980an seiring tenarnya band-band yang membawakan thrash metal. Seperti Metallica, Sepultura, Pantera dan masih banyak lagi.

Berbicara musik metal Indonesia kita tidak melepaskan dari kata Ujungberung–sebuah daerah di Bandung Timur yang banyak melahirkan musisi metal di negeri ini. Para musisi metal yang berasal dari daerah ini membentuk sebuah komunitas yang bernama Ujungberung Rebels. Boleh dibilang komunitas ini merupakan komunitas musik metal terbesar di Indonesia.

Kisah Ujungberung Rebels ini ditulis oleh Rahman Angga Kusumah atau akrab disapa Kimung dalam buku “Ujungberung Rebels, Panceg Dina Galur”. Ia sendiri merupakan seorang musisi yang besar dalam komunitas ini. Kimung sempat menjadi personil band Burgerkill dan kini bermain di Karinding Attack.

Dalam buku ini Kimung menceritakan awal mula terbentuknya komunitas Ujungberung Rebels dan perkembangnya dari tahun ke tahun. Dalam buku ini, Kimung tidak hanya serta-merta menceritakan kelahiran musisi metal. Ia juga menceritakan hal-hal lain yang erat kaitannya dengan perjalanan Ujungberung Rebels. Kisah perjalanan musik industri musik underground, zine, serta keberadaan komunitas yang turut menghidupkan Ujungberung Rebels. Di antarnya ada BEDEBAH, Bandung Lunatic Underground, Barudak Palapa, Extreme Noise Grinding. Posisi Homeless Crew lahir paling belakangan dan komunitas ini pula yang sangat berperan atas terbentuknya nama Ujungberung Rebels.

Embrio Ujungberung Rebels sudah ada pada jangka waktu tahun 1989-1992. Dalam kurun waktu tersebut beberapa anak-anak muda Ujungberung mulai tertarik untuk memainkan musik metal. Hal ini kemudian menular kepada anak-anak muda lain disekitarnya. Pada masa tersebut mulai terbentuk kelompok-kelompok musik metal di Ujungberung. Antara lain, Funeral, Necromancy, Orthodox, dan Jasad. Membentuk sebuah kelompok musik pada waktu itu tidak semudah saat ini. Kesulitan alat musik, studio band, hingga ketersediaan panggung merupakan kendala tersendiri waktu itu.

Tahun 1998 bisa dikatakan momen penting bagi komunitas ini. Istilah Ujungberung Rebels mulai dikenalkan pada tahun ini. Empat orang yang merumuskan nama ini di antaranya, Ivan Scumbag, Windy, Kimung, dan Addy Gembel. Kata Ujungberung Rebels sendiri merupakan manifestasi pemberontakan lewat musik dan gaya hidup. Mereka mempertahankan idealisme mereka sebagai musisi underground. Sebuah album kompilasi dikeluarkan seakan menjadi peresmian istilah Ujungberung Rebels. Album yang diisi 15 band tersebut sepakat pada awalnya sepakat dengan nama Ujungberung Rebels untuk album ini.

Setelah sesi rekaman rampung, mereka kesulitan dana dalam perilisan bentuk fisiknya. Ditambah lagi kondisi krisis moneter yang menimpa Indonesia di waktu itu. Akhirnya, Dodo Abdullah seorang produser dari Independent Rebels tertarik untuk merilis rekaman. Akan tetapi, nama album mereka harus berubah nama menjadi Independent Rebels. Alasannya nama tersebut lebih universal dan lebih memiliki nilai jual. Para musisi tidak keberatan atas perubahan nama tersebut.

Perjalanan dalam mengenalkan metal disisipi dengan semangat dan idealisme berapi-api mereka. Kini, urusan materi bukan satu-satunya problema yang mesti mereka hadapi. Ada kalanya konser underground yang digelar dipandang sinis dan kampungan oleh masyarakat. Juga ada sebagian masyarakat yang memandang band-band mereka adalah penyembah setan dan melawan nilai agama. Kesulitan mencari panggung sudah bukan hal yang aneh lagi bagi mereka. Richard Mutter, mantan drummer Pas Band mengatakan hal yang membuat mereka bertahan dari kondisi ini adalah solidaritas serta persaudaraan (hal. 207). Ia sendiri begitu kagum dengan semangat Ujungberung Rebels yang mereka usung.

Hal-hal yang sangat menyentuh emosi begitu banyak kita dapat temui dalam buku ini. Tidak hanya masalah komunal, masalah-masalah personal pergolakan emosi anak muda dapat kita baca di sini. Menceritakan hal-hal liar dengan penuh kejujuran. Dari sisi ini kita dapat melihat bahwa perjuangan Ujungberung Rebels tidak hanya sebatas masalah-masalah komunitas. Kisah perjuangan dari masing-masing personalnya tertulis di sini.

Sebuah kota kecil terletak di sebelah timur kota Bandung dari situlah kata “Revolusi” lahir, dihimpit kawasan industri dan kumuhnya daerah transisi melahirkan produk-produk manusia pemberontak. Bergulirnya musik komersil membuat mereka semakin tidak puas pada sistem yang ada, yang rata-rata hanya mengeksploitasi tren. Gencarnya media yang mengatasnamakan globalisasi dan pergaulan justru hanya melahirkan generasi konsumerisme yang bersikap menjadi diri orang lain ketimbang bangga menjadi diri sendiri. Hal tersebutlah yang banyak konflik antara idealisme yang ada dengan kebutuhan-kebutuhan yang mengatasnamakan tren dan uang, yang pada akhirnya mengorbankan idealisme serta keyakinan demi mengejar produk-produk tersebut. Berawal dari hal tersebut lahir sebuah sikap. Sikap yang tetap mengutamakan idealisme dan keyakinan, namun tanpa harus menutupi diri dari konsumerisme dan hal tersebutlah tidaklah mudah. Setidaknya butuh sebuah proses penuh tantangan. Untuk mengejar semua itu kita tidak perlu mengikuti  sistem yang ada namun justru membuat sistem yang baru, sistem di mana kita membuat ajang pembuktian bahwa materi yang kita punya  mampu menjawab keraguan orang-orang tentang apa yang kita lakukan. Dan underground adalah proses ke arah sana. Di dunia ini kita berkutat & bergulat bersama-sama untuk menggunakan satu kekuatan, satu keyakinan baru, bahwa pada prinsipnya “seni adalah untuk seni”. Atas pemikiran dan pertimbangan akhirnya ide tersebut dapat terlaksana melalui sebuah media kolaborasi karya dari sesama band di Ujunberung, yang mereka tawarkan tidak hanya sekadar musik-musik ekstrim, namun lebih dari itu, yaitu gaya hidup. Mereka berpikir bahwa musik yang mereka bawakan sudah menjadi bagian ataupun media pengekspresian terhadap hal-hal yang mereka alami sehari (hal.  197-198, dikutip dari Ujungberung update edisi Juni 1998)

Ujungberung Rebels tidak sebatas Burgerkill ataupun Jasad yang karyanya sudah diakui metalhead mancanegara. Dalam komunitas kita tidak mengenal ketua atau anggota. Semua bergerak bersama mengusung visi yang sama. Tidak peduli apa yang mereka peroleh, namun hasilnya kini dapat dinikmati masyarakat luas. Satu hal yang penting dapat dipelajari dalam buku ini adalah, kita masih dapat menemukan praktik egaliter dalam masyarakat modern. Seperti perkataan Ucok AKA yang dikutip di awal tulisan ini. Dalam musik underground tidak mengenal bintang, dalam underground semuanya sama. [WARN!NG/Rifki Afwakhoir]

 

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.