close

[Book Review] What I Talk About When I Talk About Running

Murakami

Murakami

Judul buku: What I Talk About When I Talk About Running

Pengarang: Haruki Murakami

Penerbit: Bentang Pustaka

Penerjemah: Ellnovianty Nine Sjarif dan A. Fitrianti

Tahun terbit: 2016

Jumlah halaman: vi + 198

Nama seorang Haruki Murakami pernah masuk dalam sebuah artikel  di majalah Runner’s World. Kala itu ia tidak berlaku sebagai penulis atau kontributor, melainkan sosok yang diangkat oleh majalah tersebut. Murakami bukanlah seorang atlit lari kelas dunia, namanya lebih dikenal sebagai sosok penulis novel. Satu-satunya alasan mengapa Murakami bisa masuk dalam majalah terkemuka bagi pelari itu adalah karena kegilaannya dalam berlari.

Tidak banyak orang yang tahu tentang kegilaan penulis ini dalam berlari. Bagi Murakami, lari tidak sekadar berolahraga. Baginya lari memiliki menyimpan makna  tersendiri dalam kehidupannya. Memoar-memoar saat berlari ini ia rangkum dalam buku yang berjudul “What I Talk About When I Talk About Running”. Murakami sendiri terinspirasi dari judul buku “What I Talk About Love When We Talk About Love”  karya cerpenis favoritnya, Raymond Carver.

Selepas lulus dari bangku kuliah, Murakami membuka usaha kelab  jazz yang dibantu oleh istrinya. Usahanya  kian hari kian maju. Keinginannya menjadi seorang penulis novel muncul saat ia menonton pertandingan baseball tim favoritnya, “pukulan itu menghasilkan bunyi retakan saat bola beradu tepat ditengah bagian tongkat pemukul yang menggaung ke seluruh lapang. Hilton kemudian langsung mencuri base I dan meluncur ke base II dengan mudah. Saat itulah momentum,” ya! Aku harus coba menulis novel!” melintas di kepalaku. Aku masih ingat rasanya sentuhan rumput hijau yang baru diganti, dan suara retakan saat bola beradu dengan  tongkat pemukul waktu itu. Sesaat pada kejadianitu, seperti ada sesuatu yang turun dari langit, dan apapun itu, kupikir aku sudah menangkapnya. (hal. 33)

Begitulah seorang Murakami menumbuhkan rasa ingin menulis. Seusai pertandingan, Murakami membeli setumpuk kertas yang bakal digunakan untuk menulis. Karya yang pertama ditulis adalah Hear The Wind Song. Sayangnya, naskah novel ini hilang saat dikirimkan ke perlombaan yang diadakan oleh majalah sastra Bungeishi. Ia pun melanjutkan kegiatan kepenulisan di sela-sela kesibukan mengurus kelab. Setahun kemudian,  Murakami merampungkan karya keduanya yang berjudul Pinball.  Pada tahun ini juga mendapat hal yang tidak diduganya. Ia ditelpon oleh majalah sastra Gunzo bahwa novel Hear the Wind Song mendapat penghargaan sebagai juara karya pemula. Pada tahun ini pula kedua novelnya dinominasikan dalam Penghargaan Akatagawa kendati keduanya tidak mendapat penghargaan kala itu. Nama Murakami pun mulai naik daun di dunia kesusastraan Jepang.

Walaupun demikian, ia kurang puas dengan tulisannya dalam periode tersebut. Menurutnya, ia mampu membuat yang lebih baik jika memiliki waktu lebih untuk berkarya. Selama ini, dalam menulis karya ia hanya memiliki waktu 30 menit lantaran kelewat sibuk mengurus kelab miliknya. Karena sudah terlanjur cinta menulis, terlintas di pikirnya untuk banting stir profesi. Setelah keputusannya disetujui sang istri, ia pun menutup kelabnya walau terbilang sudah maju. Sejak saat itu, novelis adalah profesi utamanya, bukan lagi sambilan seperti sebelumnya.

Dalam karya berikutnya, A Wild Ship Chase, Murakami merasa bahwa karya ini lebih baik dari sebelumnya. Ia mempunyai waktu yang lebih banyak dan berfokus pada karyanya. Namun, ia merasa semakin hari tubuhnya menjadi buncit dan merasa tidak bugar. Bahkan dalam pengerjaan A Wild Ship Chase , Murakami dapat menghabiskan 60 batang rokok sehari. Merasa tidak sehat, lantas ia memutuskan untuk berolahraga sesudah merampungkan novel tersebut. Di antara banyak pilihan ragam olahraga, hatinya tertambat untuk berlari. Menurutnya, berlari adalah olahraga yang praktis dan sangat cocok dengan pribadinya yang cenderung penyendiri. Berlari tidak membutuhkan kawan atau lawan. Tidak harus menggunakan peralatan khusus. Juga tidak tidak membutuhkan tempat khusus.

Setelah menjalankan rutinitas berlari, ternyata aktivitas ini lebih dari sekadar olahraga baginya. Berlari adalah wujud rekreasi, juga tempat melakukan refleksi, serta memperoleh waktu berpikir, sekaligus berimajinasi. Banyak pelajaran penting yang didapatnya dari berlari, lalu diaplikasikan ke dalam hidupnya. Misalnya, saat Murakami mengikuti lomba maraton. Baginya, yang penting bukanlah menjadi juara dalam lomba terseebut. Yang terpenting adalah meraih catatan waktu sesuai target kita. Hal ini diaplikasikannya dalam kegiatan menulis. Setidaknya, karya yang ia tulis telah memenuhi targetnya sendiri, bukan orang lain. Ia tidak akan merasa puas dan akan terus memperbaiki dirinya jika target pribadinya belum tercapai.

Tidak hanya menemukan nilai-nilai kehidupan melalui lari, seorang Murakami juga menemukan nilai-nilai filosofis dalam hidupnya. Seperti yang ia ceritakan saat mengikuti lomba maraton 100 km di danau Saroma tahun 1996. Ketika itu Murakami  sudah berusia 47 tahun. Saat mencapai jarak 75 km, Murakami mengalami kelelahan luar biasa. Ia pun memaksakan terus melanjutkan lomba dan memaksakan tubuhnya agar mengabaikan rasa sakit. Tanpa terasa tubuhnya tidak mengalami kelelahan dan mampu melanjutkan hingga garis finis.

“Biasanya saat aku mendekati bagian akhir  maraton penuh, hal yang paling kuinginkan adalah  bagaimana mencapai garis finis dan menyelesaikan lomba secepat mungkin. Hanya itu yang kupikirkan. Namun saat aku mendekati lomba ultramaraton ini, aku tak terlalu memikirkan hal itu. Akhir lomba hanyalah penanda sementara yang tak terlalu penting artinya. Sama halnya dengan hidup kita. Hanya karena ada akhir, tak berarti eksistensi memiliki makna. Sebuah titik akhir hanylah  dibuat sebagai penanda sementara, atau mungkin sebagai metafora tak langsung dari kefanaan sebuah eksistensi.” (hal. 126-127)

Dalam berlari Murakami tidak hanya berlatih dan melakukan persiapan. Murakami menulis pengalaman yang dapatkannya ketika berlari. Ia menemukan kesamaan antara kegiatan menulis dan berlari. Kumpulan catatan ini tidak disangka membuat sebuah memoar indah nan unik. Khususnya bagi anda seorang penulis, banyak hal yang anda dapat pelajari ketika Murakami membicarakan ‘pelariannya’. [WARN!NG/ Rifki Afwakhoir]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.