close

Bottlesmoker: Evolusi Duo Elektronik yang Karib

IMG_1412

Suara-suara choir etnik menyatu dengan beat-beat elektronik yang rancak, menciptakan komposisi-komposisi wajib dansa bagi pendengarnya. Dalam satu kalimat, itulah isi album terbaru Bottlesmoker yang dirilis bertepatan dengan netlabel day tahun ini, Parakosmos. Berisi 10 tracks, terselip sedikit kesan spiritual dalam balutan aura modern yang dibawa duo ini. Album ini lain dari karya mereka sebelumnya Before Circus Over, Slow Mo Smile, dan Hypnagogic yang kental dengan suara-suara toy instrumen dan sequencer serta alat-alat buatan sendiri. Adalah Aural Archipelago, sebuah proyek  field recording musik tradisi yang digagas oleh Palmer Keen yang menjadi inspirasi bagi Bottlesmoker untuk membuat album terbaru mereka ini. Lagu-lagu seperti “Bonet Circle”, “Batara Pandita” dan “Humba Sumba” seolah akan membawamu ke sebuah latar magis yang entah namun karib.

Tanggal 4 Agustus lalu, WARN!NG menemui mereka selepas sesi checksound panggung Festival Kesenian Yogyakarta. Mengenakan kaos oblong berwarna hijau dan hitam, wajah mereka terlihat sedikit letih namun berapi-api saat menjawab belasan pertanyaan dari kami. Sedikit logat sunda masih kental dalam nada bicara mereka. “Iyanih kami lagi tur 13 kota, baru dapat 2 terus terbang ke sini (Yogya), besok pagi on the road lagi,” ujar Angkuy menjelaskan padatnya perjalanan mereka. Hari itu mereka tampil sebagai salah satu line up peringatan satu dekade netlabel Yes No Wave bersama Zoo, Frau, Dom 65, Belkastrelka, Seek Six Sick, dan lain-lain. Digarap sejak tahun 2005 di Bandung oleh Angkuy (Anggung Suherman) dan Nobi (Ryan Adzani) ini, Bottlesmoker adalah satu dari sedikit band elektronik Indonesia yang namanya tak pernah surut. “Sebetulnya Bottlesmoker itu grup elektronik yang beruntung karena bisa melacur ke banyak acara non-elektronik. Jadi kalau temen-temen kita biasa main di gig-gig EDM atau club, banyak yang nanya kok kita bisa main di acara ini-itu? Kita malah jarang banget main di club,” jelas Angkuy lagi. Mereka juga satu dari sedikit band yang bisa menembus pasar Internasional. Tiga album mereka sebelumnya langganan di rilis oleh label dari luar negeri. Baru di album baru ini materi mereka berhasil dirilis oleh Yes No Wave Records. Awal tahun 2016 lalu, mereka tampil di Laneway Festival Singapura. Sebelumnya mereka juga telah beberapa kali melangsungkan tur internasional. Soal perbedaan apresiasi, Angkuy menjelaskan “Serunya di luar negeri, mereka nilai produktivitas. Jadi kita bikin karya mereka itu senang. Kalau di sini kan nggak diliat ya, yang penting massanya banyak,” tutupnya terkekeh.

Tampil di panggung utama yang didirikan di atas air, Bottlesmoker memainkan hampir full set komposisi Parakosmos.”Kita itu sebenarnya tiap album alatnya beda. Kalau sekarang ya kita bawa alat-alat untuk Parakosmos. Jadi nggak bisa maenin lagu-lagu di Hypnagogic atau lainnya,” jelas Nobi mengenai setlist mereka hari itu. Memainkan musik elektronik non-vokal, ternyata mereka menyimpan suaranya untuk sesi-sesi interviu seperti ini. Mereka berbicara banyak mengenai proses pengerjaan album baru mereka Parakosmos, pertentangan yang diperolah di awal karier ihwal prinsip berbagi gratis mereka, kewaspadaan ketika menggunakan materi etnik, kerja musik industri dan komunitas, konsep panggung ideal, perkembangan musik mereka selama 12 tahun, hingga desas-desus kabar kolaborasi mereka dengan Stars and Rabbit. Untuk yang terakhir ini, mereka menjawab “Nggak tahu ya, ngalir aja. Yang jelas kami terus komunikasi. Tapi jarang banget ketemu, jadi mungkin agak lama,” tutup Angkuy.

bottlesmoker

Interviu oleh: Titah AW

Foto oleh: Aditya Adam

A: Angkuy N: Nobi

Selamat atas rilisnya Parakosmos! Aku suka sekali dengan album baru kalian

A: Senang sekali ada yang komentar gini, karena ada juga yang komentar kecewa.

Ohya? Kenapa?

A: Karena mereka tidak bisa move on dari album yang lama.

N: Karena sebelum album ini, benang merahnya masih kental. Warna musiknya masih sama gitu kan. Jadi mungkin yang masih terjerembab di warna itu mungkin masih terus mencerna.

Aku sekali denger langsung suka tuh,

A: Secara pribadi tingkat kepuasan kita itu ada di album ini juga, jadi kayak.. “NAH INI NIH” yang kita pingin dari dulu kayak gini.

N: Emang dari album ke album pinginnya beda. Emang kita mengkonsep album ini beda. Soalnya sebelum album ini, walaupun kita bertujuan bikin warna beda, tapi kok sama aja. Benang merahnya masih kental banget, nah di sini baru beda banget.

A: Dan itu disengaja, jadi kayak album pertama kita,Before Circus Over kita ngumpulin materi lalu memisahkan 8 lagu untuk album itu. Tapi sebenernya kita banyak juga lagu-lagu lain, dimasukkinlah ke Slow Mo Smile, jadi warnanya emang serupa. Terus Hypnagogic juga sama, masih banyak lagu cadangan. Makanya di Hypnagogic itu ada 2 disc, 22 lagu. Itu pokoknya cadangan lagu semua harus dibuang gitu, makanya dimasukin di Hypnagogic semua biar kosong. Biar nanti album Parakosmos ini kita bener-bener dari nol. Secara pribadi sih kita berhasil ya untuk mmebuat yang beda dari album sebelumnya.

Aku menangkap kesan spiritual di album Parakosmos ini, emang dibuat begitu ya?

A: Iya…

Awal ketertarikan kalian sampai akhirnya kerjasama dengan proyek Aurel Archipelago gimana?

A: Awalnya karena kita berdua lanjut studi di magister pengkajian seni di ISBI. Kan kampus ISBI itu cenderung fokusnya ke budaya tradisional, jadi kita kayak dijejalin aja gitu. Sebelum lanjut kuliah sebenarnya kita memandang sebelah mata ke budaya tradisional, “Ah apaan sih” atau “Ah ketinggalan lah”. Tahunya pas kuliah di sana kayak ditampar gitu, wah gila ternyata kebudayaan lokal itu kayak core dari ini semua.

N: Iya kayak core-nya dari kebudayaan modern saat ini. Yang ada pada saat ini, itu tercetus ya karena…

A: Sudah terjadi dan sudah terbentuk oleh orang-orang dulu. Wah gila ternyata budaya lokal keren, nah di situ mulai mempelajari nilai-nilai budaya lokal, local wisdom. Sampai akhirnya kita kembali tertampar oleh orang Amerika yang lebih tahu banyak tentang kebudayaan Indonesia, khususnya musik tradsional, si Palmer Keen ini. Gila dia lebih hafal di daerah ini ada kesenian ini, ada alat ini.

N: Terus dia menelitinya itu bener-bener blusukan. Misalnya dia neliti angklung, tapi nggak cuma angklung. Dia bener-bener nyari yang aneh, yang belum terkenal. Kebanyakan memang di Indonesia timur. Karena di sana emang akses informasinya masih terbatas jadi kata dia malah harus disamperin. Awalnya dia masih di Indoensia timur, sekarang dia udah mulai ke Sumatra dan Kalimantan.

A: Dia kan pendekatannya etnografi tuh, jadi kita diberikan informasi sangat banyak tentang nilai-nilainya, nggak cuma angklung gini bunyinya, tapi filosofinya, maknanya, sejarahnya. Kita jadi ingin ketemu sama dia untuk belajar. Dia akhirnya ngebagiin arsip rekaman yang banyak banget. Di situ kayak nyambung, kita emang kepikiran pingin album baru tuh mengangkat motif-motif musik daerah, misalnya kalau di Sunda ada Tarawangsa, dia motif permainannya kayak repetitif, trans gitu, dari pelan tiba-tiba tinggi. Pas ketemu Palmer kita jadi kepikiran kita perlu banyak masukan dari dia untuk mengarahkan.

N: Emang kebanyakan di Indonesia kan untuk ritual, jadi butuh pola pengulangan yang transenden. Dan kita tahunya Tarawangsa karena dekat dengan daerah asal kita. Eh tahunya di Indonesia timur ada ini, di NTT ini, di NTB ini, ternyata emang bener-bener perkusif gitu. Orang bernyanyi bersama-sama, pakai teknik-teknik kayak gospel atau choir. Itu emang udah ada di ritual tradisi di daerah tersebut. Wah ternyata musik transenden yang digaungkan oleh musik-musik elektronik masa kini, atau modern itu dari dulu udah ada pattern-nya.

A: Jadi kami ngebayangin kalau orang-orang tua kita itu kayak “Yaelah itu udah dari dulu kali.., “ (tertawa). Ini kita jadi tertantang untuk belajar. Tadinya itu ingin kental tradisionalnya, tapi ternyata mainin alat musik tradisional kan nggak asal. Ada syaratnya, ada ritualnya gitu, jadi jangan langsung plek aja gitu,  harus pelan-pelan. Dan kita tujuannya nggak pingin cuma nempel. “Ini nih kesenian tradisional ditempelin gitu”,  aduh nggak mau, kita menghindari. Harus nyatu banget gitu.

N: Biasanya kan musiknya udah ada, ntar tiba-tiba kecapi ngikutin musiknya. Kita malah kebalik, justru sekarang adaptasi pola-pola musik tradisional yang ada. Basically itu yang ada di archive-nya Aurel Archipelago. Terus nanya Palmer kita pengen tahu tentang ini, dia bercerita “Ini polanya yang sama ada di lagu ini sama ini.”

Banyak orang yang menggunakan konten etnik kemudian dianggap jadi gimmick aja, menurut kalian gimana memposisikan konten etnik yang bijak?

A: Ini juga jadi pelajaran. Sebelum dirilis kita diskusi sama Palmer. Kita tidak ingin mengganggu atau menodai yang asli, itu kan ritual, tidak sembarangan gitu. Akhirnya setelah ngobrol-ngobrol, Palmer minta izin, dan kita cerita tujuan kita itu kan sebenarnya pingin memberikan referensi bagi temen-temen generasi kita bahwa di Indonesia ada kayak gini nih, dan kita harus bangga. Kemarin-kemarin kayaknya kita juga nangkap wacana tentang gimmick fashion, ada sekumpulan pengacara yang melawan industri fashion yang mengadaptasi gaya tradisional.

Oh yang protes ke tren fashion festival-festival musik itu kan?

A: Nah iya itu kan dituntut. Ya artinya mereka hanya menempel, kalo kita menghindari itu. Makanya kita selalu cari tahu cerita si ritual ini, kita juga ngambil bagian musiknya nggak ngasal. Pingin ada alasan yang bener kenapa harus ngambil yang ini misalnya. Untungnya kan proses bikin lagunya itu kita diskusi sama Palmer dulu. Meskipun dia tidak tahu detil arti bahasanya, tapi dia tahu bagian ini cerita tentang A atau B. Kita tidak akan ngambil sepotong-sepotong, di situ sih kenapa prosesnya paling lama.

N: Karena kan banyak footage, kami dengerin lalu nanya Palmer musiknya tentang apa. Ngerepotin Palmer sih, tapi dia justru suka, seru sih (tertawa).

A: Banyak yang kita hindari, mislanya di lagu “Sacrum” itu kan cuma ada bapak-bapak yang nyanyi pakai semacam gitar, itu harus tetap pure kayak gitu. Karena ceritanya dia lagi curhat ke Tuhan tentang keluh kesah kehidupannya. Kita nggak berani merusak atau memotong-motong. Makanya “Sacrum” kayak gitu. Wacana itu memang pernah kita alami dan coba kita diskusikan sebelum dirilis. Sebelum dirilis kepikiran banget, takut juga.

N: Apakah ini kayak kita bawa warna tradisi untuk ngikutin tren aja.

A: Sebenarnya dari segi sound-nya nggak ada tradisi sama sekali. Cuma kalau temen-temen musik tahu, mungkin ada pola-pola kayak beat-nya dari beat kendang. Kami percaya kalau budaya aural atau audio itu punya psikologi yang sangat dekat dengan manusia. Contohnya juga waktu kita dengerin hasil rekaman si Palmer, kayak ada kedekatan padahal kita belum pernah ke Sumba. Aku merasa ada kesedihan, tahunya si Palmer cerita emang lagunya sedih, rasa yang sampai sama. Jadi menarik, harus kami interpretasikan di Bottlesmoker sebagai media untuk teman-teman tahu budaya lokal ini.

N: Kemarin juga secara tidak langsung mengubah kebanggaan kita terhadap apa-apa yang lokal. Yang sederhana itu misalnya foto profil, kalo dulu “Foto di sebelah sana dong biar kayak di Eropa”, atau “Foto disana dong biar nggak kayak di Indonesa”, sekarang yaudah Indonesia mah kayak gini foto disini aja.

A: Iya kita dulu suka sok bule gitu (tertawa), pingin kelihatan dari luar negeri. Pikiran semacam itu muncul di kepala nggak sengaja pas proses album ini.

Kalian berproses untuk album Parakosmos dari kapan emangnya?

A & N: 2016

Jadi Seberapa besar peran Palmer Keen di album ini?

A: Dia lebih banyak ke mengkonsep satu lagu. Dia kayak menceritakan, misalnya untuk lagu “Bonet Circle”, si Palmer cerita Bonet ini tentang apa, sejarahnya gimana.

N: Jadi dari brainstorming dulu, trigger-nya dari arsipnya dia, ini lagu tentang apa, terus ngobrolnya nggak hanya di lingkungan itu. Misalnya perbandingan bagaimana cara mensyukuri sesuatu pada masa lalu dan saat ini, ternyata dua-duanya ada pola-pola transenden gitu. Mungkin sekarang menikmati sesuatu dengan dugem gitu, dengan lagu yang repetitif gitu kan. Ya dulu mungkin hubungannya lebih horizontal, nggak vertikal kayak sekarang. Ya obrolan kayak gitu sih.

A: Nah pas di situ kita bisa menyerap ceritanya, muncullah inspirasi. Kita kan sistem membuat lagunya itu kayak bikin suasana atau atmosfir.

Ada rencana Parakosmos akan dicetak fisik?

A: Sedang. September harusnya udah rilis, semoga (tertawa).

Dari awal kalian rilis album pertama sampai album keempat ini kan kalian gonta-ganti label, apakah berpengaruh ke musikalitas kalian?

A: Ada. Jadi dulu album pertama tahun 2006 itu belum kenal Mas Wok (Wok The Rock—red). Dan belum tahu kalau di Indonesia udah ada netlabel. Kita baru kenal mas Wowok itu 2007, tapi untuk Slow Mo Smile tahun 2008 label masih sama kayak album pertama soalnya kita belum ngobrol langsung sama Yes No Wave. Nah album Hypnagogic itu kita pingin sama Yes No Wave, udah ngirim demo tapi Mas Wok nggak suka. Ya kita ngertilah kurasi beliau. Baru album ini kita emang pingin banget netlabelnya Indonesia. Dan yang terbaik ya Yes No Wave. Pas ngirim demo ke dia langsung acc katanya. Wah siap… Karena kita tertariknya Yes No Wave itu produktif, dia punya strategi promoin band dan distribusi yang bener. Netlabel lain belum tentu.

N: Dan konsisten gitu. Kan ada netlabel-netlabel lain yang rame, tapi lalu hilang. Kalau Yes No Wave walaupun nggak terlalu kenceng rilisannya, tapi dia ada aja.

Saya setuju kalau Yes No Wave emang kurasinya bagus.

A: Iya! Kita akhirnya dirilis Yes No Wave jadi kayak prestasi gitu.

Sejak awal karier kalian tahun 2006 sudah sering bagi musik gratis, padahal saat itu tren ini belum semasif sekarang. Apa visi kalian saat itu?

N: Sebenernya sesederhana kita dulu awalnya kan dari tugas kuliah, pingin didengerin temen-temen sekelas. Bikin lagi, pingin didenger temen-temen sekampus. Bikin lagi, disebar-sebarkan di warnet, warnet sekitar Jatinangor pas itu (tertawa). Kita benar-benar tidak tahu dan tidak menyentuh industri. Cara produksi CD aja kita baru tahu akhir-akhir tahun ini.

A: Jadi kehidupan kita dulu itu kampus-kosan, terus mahasiswa itu kan mendapatkan banyak data dari internet atau dari temen. Budaya berbaginya gede banget, sampe tugas juga dibagi-bagiin (tertawa). Di internet apa-apa tinggal download. Nah kita dapat banyak mp3 dari orang lain, nah di situ kita pikir ini orang-orang pada baik banget mau berbagi gini.

N: Ini orang-orang kok mau yah bagiin mengeluarkan energi dan pikiran untuk orang lain?

A: Kita terinspirasi sih, pingin berbagi juga. Terus menurut kita, (laku) ini tuh pemberontakan keren yang positif. Orang lain pada sibuk jualan, menuntut dengan hak cipta. Ini malah kesannya kami bilang ke orang-orang “Mangga-mangga sok atuh silahkan..”

N: Kalau orang lain bagi ilmu lewat tulisan, gambar, atau foto. Nah kita bisanya apa? Bikin lagu. Yaudah kita bagi-bagi ilmunya  dalam bentuk musik.  Dan malah feedback-nya bukan dalam bentuk uang, tapi bentuk karya lagi. Misalnya tiba-tiba ada fotografer mengontak kami ngajak foto sesi katanya “Kang saya udah dengerin lagu yang ini suka apalagi dibagi gratis.” Dia ternyata juga terinspirasi untuk berbuat sesuatu dengan bebas.

A: Malah output-nya jadi seru. Pernah ada dulu beres manggung di backstage ada yang ngasih alat, karena dia tahu kami pakai keyboard mainan bekas. Dia bilang suka lagu kami, tapi nggak tahu mau berterimakasihnya gimana, jadi ngasih alat aja. Jadi betah sih dengan sistem berbagi itu. Ketemu Yes No Wave tahun 2008, pas itu Mas Wok ngundang kita ke Yes No Club. Masih ingat aku yang main pas itu Zoo dan Bottlesmoker. Jadi ketemu dengan musisi-musisi yang visinya sama. Seru, ternyata kita nggak sendiri. Kalau di Bandung dulu kami sendirian. Dulu ada gig kami buka lapak meja, ada laptop boleh copy lagu kita. Sempat ditentang loh.

bottlesmoker

Pertentangan seperti apa yang kalian dapat?

N: Waktu awal promo via sosmed kami pernah dapat japri (jaringan pribadi—red) dari band lain, kayak “lu kenapa sih karyanya nggak dijual aja?” Karena jadi ada audiens yang minta link download ke band-band lain kayak Mocca, Burgerkill, atau Rocket Rockers gitu. Mungkin jadi kayak merusak alur ya. Di situ kita anggepnya mungkin belum teredukasi. Makanya tiap interviu kita mengedukasi bahwa jalur distribusi karya itu sekarang udah banyak. Kami bukan di track industri, kami bikin jalur baru. Apakah itu disebut promosi, strategi marketing, atau apa, kita nggak tahu istilahnya. Ada efeknya postif bertukar karya, efeknya kontradiktifnya ya jadi masukan aja buat kami, berarti punya tanggung jawab untuk mengedukasi.

A: Kita juga nggak ngeh sih efeknya sampai gede gitu. Beberapa band pernah kayak nyindir kita “Ini gara-gara kalian jadi ada yang minta link download.”

Setuju nggak perkara hak cipta itu udah basi?

A: Iya udah basi.

N: Dan udah bisa dipelajari tentang Creative Commons sih.

Bottlesmoker kan udah 12 tahun nih, perkembanggannya gimana dari dulu sampai sekarang?

A: Lambat sih ya. Jadi 2005 itu kita kebentuk. Pokoknya 2005-2008 kita nggak pernah manggung tapi udah dua album dan udah kesebar di internet. Trus kita emang tidak memiliki misi untuk jadi performer. Tahun  2008 itu bahkan ada temen yang nawarin jadi manajer tapi kita tolak. Tapi di satu titik, kita harus manggung pertama itu di Bandung. Pernah 2x manggung kita bawa komputer aja gitu, emang kita bikin lagu kan pakai komputer. Kita bawa CPU, tinggal di play Fruity Loops. Akhirnya kayaknya kami harus bikin format panggung. Anjing harus ngajak lagi temen yang dulu ditolak (tertawa).

N: Kita Alhamdulillah jalur untuk survive-nya harus kecemplung di situ. Ya learning by doing, makanya prosesnya lama kan. Kalau band-band sekarang satu tahun, dua tahun, udah album, manggung kemana-mana.

Di awal kemunculan kalian kenapa memilih memainkan toy instrument dan bahkan instrumen DIY?

A:Itu sebenernya kondisi aja, dulu kenapa milih mainan karena synthesizer belum kebeli, mahal banget (tertawa). Kayak harus nyari alternatif lain. Dulu di Bandung ada komunitas musik elektornik, tapi kayak ada pattern kalau musik elektronik itu harus pakai alat A alat B alat C. Kita nggak kekejar tuh kalau beli, akhirnya pakai toys itu. Ternyata nggak disangka itu jadi ciri khas kita. Malah mengangkat kita karena keunikannya. Tapi akhirnya pas kita bosan, ya kita tinggalin. Harus punya sistem baru nih untuk berkreasi. Kami coba bikin alat-alat sendiri. Sampai pada suatu titik, bikin musik elektronik gini-gini mulu ya, sample ini-ini mulu, disusun dan lain-lain. Kita harus bikin source sound sendiri. Jadi kita pernah bikin kayak dari meja, pagar, buah-buahan, apapun.

N: Soundscaping lah apapun direkam.

A: Refresh lagi, ganti lagi. Sampai sekarang akhirnya kita punya alat-alat yang kami pingin sejak dulu. Dan ternyata orang-orang tuh ada yang menyayangkan kenapa toys music-nya ditinggalin. Nah sebenernya kan emang bukan itu pinginnya (tertawa). Tapi kami terus berproses dan selalu bikin konsep baru, bahkan sampai ke kostum.

Iya kalau konsep kostum panggung, bagaimana kalian mengaturnya? Soalnya aku perhatikan kostum kalian selalu unik.

A: Jaman pakai animal head itu Slow Mo Smile. Hyppnagogic itu masa-masa kita pakai indian sama astronot. Kami selalu belajar bikin filosofi sih ya, jadi Hypnagogic itu kayak berlawanan, futuristiknya si astronot, Indian mewakili native. Sesuai konsep albumnya, makanya ada 2 disc kan. Sekarang Parakosmos ya kita coba sesuaikan dengan atmosfir si musiknya, dan muncullah kostum yang ada sekarang.

Apa bagian paling asik dari punya instrumen Do It Yourself?

A: Nggak ada orang lain yang punya sound-nya.

N: Dan cara memainkannya yang berbeda

Aku sempat nonton kalian di Gudang Sarinah Ekosistem Jakarta, dan aku suka sekali Light Thereminnya. Di Jogja juga ada tuh Instrument Builder Project.

A: Kenal sih sama si Lintang, dia mah udah jago banget.

N: Jauh kita ketinggalan (tertawa).

Kalian kan bermain musik intrumental. Apa yang kalian sampaikan lewat musik yang tanpa vokal?

N: Lebih ke suasana sih. Jadi karena kita awalnya membuat musik untuk menemani kegiatan. dan karena kita menyukai film. Misalnya nih ya kamu nonton film, terus ada adegan tanpa dialog, Cuma ada orang berdiri di tengah ladang tapi ada suara latar, itu bisa kebangun suasananya gimana. Kita pingin bikin kayak soundtrack, jadi sesuatu yang menemani kegiatan para pendengar.

A: Jadi dulu kita itu kan backgroud-nya kuliahnya broadcasting. Jadi kami di jejali tentang theater of mind, bagaimana audio itu bisa membentuk imajinasi yang bisa membuat seseorang serasa di suatu tempat atau waktu tertentu. Misalnya kalau di radio itu kan kayak dengerin jazz siaran malam jadi kayak romantis. Atau misalnya lagi dengerin reggae, pasti bayangan kita di pantai. Itu ternyata banyak berpengaruh ke kita. Jadi kita bikin lagu instrumental itu membentuk imajinasi seseorang. Judul lagu itu kayak clue. Jadi orang-orang bisa ngebentuk imajinasi sendiri. Dan yang palig seru ketika imajinasi kami dan pendengar klop gitu. Kita kasih clue A, emang lagunya tentang A, orang nangkepnya sama. Nyampek gitu maksudnya.

Kalian adalah satu dari sedikit band Indonesia yang bisa meraih pasar luar negeri, kiat-kiatnya apanih buat band lain yang ingin menyusul kalian?

A: Dulu itu jujur pas kita sebar disini, di Bandung lah, responnya tuh jelek. Apasih ini, biasa aja, bosen. Itu tidak memberikan motivasi, nah pas disebarin di internet, respon dari luar lebih banyak. Jadi emang mungkin tempatnya di sana. Sampai satu titik kita menyimpulkan bahwa kalau satu karya disebarkan di satu tempat trus nggak cocok, ya jangan dijejalin di situ. Coba tempat lain, pasti ada tempat yang nyangkut. Yang bisa mengapresiasi dengan positif. Di situ akhirnya kita terus-terus menjajal pendengar luar. Kita itu paling jarang manggung malah di Bandung loh.

N: Wah Bandung emang selektif banget audiensnya.

Kalau scene elektro pop di Indonesia sekarang menurut kalian kayak apa?

A: Lesu banget kayaknya. Tinggal apa ya sekarang, oh ada Kimokal.

N: Pas generasi kita mungkin ada Homogenic, Rock n Roll Mafia. Ayodong yang baru, untung ada Kimokal.

A: Karena kemarin EDM terus kan. Di luar EDM melempem banget. Angkatan kita di Bandung juga udah pada nggak ada. Ada yang baru sih, cuma masih berproses. Jadi generasi kita itu beruntungnya lagi ramai, jadi rajin bikin acara, berjejaring dengan kota lain. Di Jogja kan ada Belkastrelka, Oh, Nina!.

N: Dulu emang komunitasnya masih ada, bikin acara reguler, dan tidak dituntut untuk bawa massa banyak. Jadi dulu penyelenggara ingin mengenalkan, kalau sekarang investor udah masuk, ingin ngenalin tapi juga ada pertimbangan band mana nih yang bisa bawa massa. Itu balik lagi sih ke urusan komunitas vs industri. Kita berproses selama 12 tahun ini juga nggak terus naik, kita ada beberapa tahun terpuruk yang nggak ada panggung sama sekali.

A: Tahun 2016 itu kita terpuruk, paling buruk.

Tapi abis itu kan langsung masuk line up Laneway Festival…

N: Itu yang jadi penyemangat. Oh ternyata secara nggak kita sadari, link yang kami punya saat tur sebelumnya, saat kita dateng ke sebuah negara dan ngenalin musik kami, pasti nggak akan langsung hilang jejaknya.

Panggung ideal untuk penampilan Bottlesmoker seperti apa?

A: Kita juga bigung, ini juga panggung gede banget (tertawa menunjuk panggung FKY).

N: Yang Senyawa pernah main, yang Moderat pernah maen. Oh… Electronic Beats karena promotornya tahu gimana mengkonsep festival musik elektronik, tahu bahwa musik elektronik itu  nilai visualnya bukan dari lirik dan gerakan atraktif, tapi dari konten lain yang mendukung si musisi seperti visual dan lighting. Jadi mereka berkembangnya itu nggak cuma musikalitasnya, tapi juga dari teknologi yang mendukung sebuah pertunjukan. Kayak musik yang sync dengan visual, itu akan bikin lebih megah, lighting yang sesuai dengan beat. Dibikin repertoar yang sedemikian rupa, biar orang takjub dengan pertunjukkannya walaupun musik elektronik tanpa vokal.

A: Kalau di Indo ada budaya nontonnya yang beda. Jadi dulu pernah di main pertama kali Palu, orang-orang pada hafal nada-nadanya trus dinyanyiin sambil joget aneh. Beda lagi pas kami di Vietnam, kalau lu lagi maen di panggung yaudah maen, ngobrolnya nanti setelah beres. Jadi beda-beda, itu seru juga.

bottlesmoker

Apa aturan dalam bermusik yang harus kalian hidupi untuk jadi musisi?

N: Terus berkarya sih, kan itu berarti berproses terus, nggak ada finishnya. Misal album ini puas, dan kita dapat apresiasi lebih besar, orang pasti punya ekspektasi yang lebih besar ke karya selanjutnya.

A: Aku nggak tahu istilahnya apa, tapi pas lagi bikin lagu harus berenergi, harus membuat lagu secara personal. Soalnya walaupun bikin lagu enak tapi kalau kesannya kosong dan nggak pas di hati ya males juga bawainnya.

N: Kalau band lain mungkin diterapkan gimana caranya bikin lagu biar disukai orang dan menarik massa, di kami itu malah jadi beban. Kalau musisi yang udah biasa mungkin gampang, nah kami tiap mau nyoba gitu selalu mental, selalu gagal.

Akhir-akhir ini sering terlihat kolaborasi dengan Stars n Rabbit, ada rencana untuk rekaman bareng kah?

A: Iya, rencana rilis album kolaborasi itu harusnya setelah bulan puasa, tapi sampai detik ini baru ada 2 lagu baru (tertawa).

N: Jadi kita bentuknya kita bikin lagu baru, nggak kayak Bottlesmoker dan nggak kayak Stars and Rabbit. Kan kita bikin SRxBS, ya kita harus berani meninggalkan ciri khas dan kenyamanan dalam bermusik.

#sarapanmusik?

N: Bliss – “Do You Remember How It Felt?” Playlist di hape tuh.

A: Air – “Ce Matin La”, itu wajib sih. Dua-duanya lagu slow (tertawa). Karena kami di Bandung kalau keluar rumah pasti langsung chaos, makanya harus kalem dulu.

bottlesmoker
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response