close

BROTHERGROUND 2016 : Merebut Kembali Barometer Musik Cadas

Burgerkill (1)

Review overview

WARN!NG Level 10

Summary

10 Score

Atmosfer perkotaan yang sesak nan menyengat adalah hal yang sangat lekat dengan kota berjuluk kota Pahlawan ini. Pada medio 80-90’an, Surabaya sempat mengibarkan tinggi bendera musik cadas dan gaungya terdengar ke se-antero skena musik cadas Indonesia milenia ke-2. Namun, belakangan nama Surabaya kembali muncul ke permukaan melalui band-band kelas dua, yang secara masif membombardir dunia musik dengan karya-karya bernas. Kebangkitan musik cadas kota ini ditandai dengan mulai intensnya pertunjukan-pertunjukan musik dengan skala yang cukup besar, dan Brotherground adalah salah satu pertunjukan akbar yang dimiliki kota ini sejak 3 tahun belakangan.

Digelar di lapangan parkir timur Plaza Surabaya pada 27 November 2016 silam, Brotherground memboyong monster-moster besar kotanya untuk berbagi panggung dengan band sekelas Burgerkill. Devadata, legiun hardcore veteran ini juga turut ambil bagian setelah lama tidak terlihat aktif mengokupasi panggung-panggung kotanya. Selain itu, nama Fraud yang disinyalir sebagai motor penggerak garda depan skena musik keras Surabaya ini juga turut ambil bagian dalam menyemarakan event yang digagas oleh Cocaine and Crimes yang berkolaborasi dengan Grounderz Records ini.

Acara dimulai tepat pada pukul 12.00 WIB, namun anteran mengular telah tampak di bibir venue. Kabarnya, acara ini berhasil menjual 5.000 tiket on the spot dan 1.000 tiket pre-sale sebelum acara. Merupakan angka yang cukup fantastis, mengingat ini bukanlah acara pameran clothing massal. Nama-nama layaknya Manic Monday, Flowdown, Hold, Amonra, tampil apik sebagai pembuka acara yang memang sudah meriah sejak awal pintu dibuka. Semakin larut, penonton pun semakin liar, dengan jajaran line-up ciamik yang tentunya terlahir dari hasil kurasi maksimal.

Atmosfer pertunjukan semakin bertambah meriah kala The Ska Banton menyulap arena moshpit Brotherground menjadi lantai dansa dalam sekejap. Tensi acara yang tadinya riang, dalam sekejab berubah menjadi mencekam kala Gerogot, unit Death Metal yang baru saja merilis debut albumnya ini mengokupasi panggung Brotherground. Deru blastbeat yang berpadu dengan permainan gitar yang brutal, membuat audience moshing habis-habisan, bertukar keringat di area circle pit massal yang berhasil mereka ciptakan. Sepertinya, chaos adalah salah satu kata yang dapat mewakili tensi tinggi Brotherground Festival kali ini.

Dengan pemilihan genre yang rancak, mereka berhasil mendatangkan massa yang datang tak hanya dari lingkup musik ekstrem saja. Pagelaran akbar tahunan menjadi serupa haul akbar para pengemar musik Hardcore, Punk, Metal hingga Hiphop. Usai digempur habis-habisan oleh Gerogot, atmosfer yang tengah mendidih, berhasil diturunkan oleh Casanuestra, unit hiphop kota Pahlawan yang kini tengah naik daun.

Brotherground seolah ajang reuni bagi band-band yang sempat melejit pada masanya. Hal itu terbukti akan antusias yang sangat tinggi kala Devadata mengambil alih panggung. Band hardcore legendaris ini yang telah berdiri sejak era pra-reformasi, yakni pada tahun ‘98. Nomor-nomor dari album Emotional Breakdown pun tak ketinggalan mereka bawakan. “No Way Out”, serta “J.T.A” yang didaulat sebagai track penutup, berhasil membawa penonton untuk bernostalgia dengan nomor yang mengandung lirik umpatan vulgar khas Surabaya yakni Jancok! Taek! Asu!

Namun keriaan perhelatan ini tak hanya berhenti sampai di situ saja. Fraud, unit hardcore berdaya ledak tinggi ini, telah bersiap menjadi penawar keriduan audience yang rupanya sedari tadi banyak yang menunggu senjata mematikan ini. Membuka penampilan lewat nomor maut “Unscrared”, kontan area mosphit pun langsung pecah dan tak terkendali. Dilanjut track andalan seperti “Eastern Jaw”, “Make Some Prove”, dan mendaulat lagu “Wrong Roots” sebagai salam perpisahan. Fraud, tak hanya band dengan segumpal omong kosong bermodal wacana memajukan skena. Brotherground–yang awalnya menjadi ajang launching album mereka–adalah jawaban nyata bahwa mereka melakukan pergerakan secara konkret. Penonton yang masih tak puas, enggan beralih dan setia hingga Fraud turun panggung.

Jagal
Crowd

Brotherground Festival kali ini, ditutup dengan penampilan Burgerkill pada akhir acara. Unit Hardcore/Metal asal Bandung ini, juga menuai banyak antusiasme sepanjang penampilan. Nomor seperti “Suffer to Death”, “Shadow of Sorrow”, “Undefeated” pun tak lupa mereka bawakan. Namun, crowd yang mereka ciptakan tidak sepadat saat Fraud mengokupasi panggung kotanya sendiri. Pada titik ini dapat disimpulkan, bahwa musisi Surabaya dapat menjadi tuan di buminya sendiri. Tak hanya sebagai penampil pelengkap layaknya Hi Mom! Yang secara tiba-tiba penampilannya dibatalkan sepihak oleh panitia pada perhelatan Psychofest 10th 2016 pada Minggu 4 Desember lalu. Yang perlu digaris bawahi, kejadian semacam ini merupakan jawaban atas pertanyaan seberapa jauh peran band lokal bagi pihak penyelengara. Dan pada kenyataanya, jargon support your local movement hanya akan berhenti pada titik nihil. Jargon belaka.

Namun Brotherground merupakan aksi nyata, memberi ruang alternatif para jagoan Surabaya untuk berunjuk gigi, dan menjadi tuan di kotanya sendiri. Sekaligus, ini adalah torehan sejarah baru untuk Surabaya. Pada titik ini, kita dapat mengamini bahwa scene di kota ini telah berkembang dan bangkit dari matisuri. Maka, tidak berlebihan jika Brotherground diangap berhasil membawa pulang barometer musik cadas Indonesia, kembali ke Surabaya.[WARN!NG/Reno Surya]

Gallery: Brotherground Festival 3

Event by : Grounderz Records x Cocaine and Crimes

Date : 27 November 2016

Venue : Parkir Timur Plaza Surabaya

Man of the match : Fraud menjadi Tuan di kota Sendiri

 

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response