close

[Album Review] Bruce Springsteen – High Hopes

bruce springsteen

bruce springsteen

Bruce Springsteen – High Hopes

Label: Columbia Records

Watchful Shot : Just Like Fire Would – The Ghost Of Tom Joad

[yasr_overall_rating size=”small”]

High Hopes disusun dari dua masalah. Pertama, isinya adalah materi lawas, baik yang sudah pernah direkam atau belum. Membatasinya hanya dari dua dekade terakhir, atau setengah usia karir Springsteen demi relevansi semangat dan isu yang diangkat itu tepat, namun tetap saja tanpa narasi – atau mungkin demi mendatangi masalah kedua: Tom Morello. Ia mengisi delapan lagu, atau hampir 70 persen dari sebuah album yang tidak menautkan namanya di kover. Padahal melihat perannya, maestro penggaruk senar ini terlanjur terlilit benang atas ke langit ke berapa harapan yang dibawa full album ke-18 Springsteen ini akan melayang.

Misalnya, “The Ghost Of Tom Joad”, lagu paling besar di sini sekaligus arsip sejarah adanya scratching guitar di panggung Springsteen. Dicomot dari album The Ghost Of Tom Joad, itu adalah lagu Springsteen pertama yang dibawakan Morello, sampai direkam pula oleh RATM. Disini pula ia memegang saham musikal terbesar dengan unjuk vokal serta memenangkan area solo robotiknya, dan kali itu demonstran kiri beralmamater Harvard dapat satu suara dengan pahlawan kelas pekerja. Begitupun pada “High Hopes”: “Give me love, give me peace / Don’t you know these days you pay for everything / Got high hopes”, tipikal track pertama album Springsteen, penyulut gelora massal dengan keroyokan instrumen yang tak perlu diuraikan satu-satu kecuali bebunyian dari “Arm The Homeless” pamungkas Morello.

Namun seharusnya instrumen lain tak musti selalu mengalah, seperti mengizinkan elektrifikasi Morello menjadi teaser yang keluar masuk merintangi tangan-tangan yang mengudara di “Heaven Wall”. Ia pun tak bisa berbuat banyak pada beberapa lagu yang dasarnya layak paten menyandang label ‘unreleased atau tak populer’. Eits, tapi Chris Bailey bisa marah jika kita turut menyebutkan “Just Like Fire Would” karena lupa bahwa itu adalah lagu The Saint, apalagi di album ini pun asanya tetap membara. Kalau saja ini adalah lagu Springsteen sendiri, mungkin bisa menggantikan posisi “High Hopes” di awal.

Pengecualian juga berlaku pada “American Skin (41 Shots)”. Meski mustahil membuat surat kabar mengangkat kembali artikel terbunuhnya seorang imigran atas lesatan 41 peluru polisi New York di tahun 1999, namun pilihan Springsteen memperbarui lagu protes yang juga menanamkan sudut pandang sang polisi di larik awal, “41 shots, and we’ll take that ride / Across this bloody river to the other side”, jelas mengangkat nilai tawar albumnya.

Sementara “The Wall” mulanya ialah eulogi yang diharmonikan secara live bagi Walter Cichon, musisi yang hilang di perang Vietnam. Usai direkam, kita juga akan melihat Danny Federici, pemain organ dan terompet E Street Band yang meninggal di 2008. Mendengarkan permainan Federici di lagu ini, kita harusnya sadar lebih dulu jika ia telah hampir menemukan Cichon. Lagu penutup ialah cover dari tembang band protopunk, Suicide, berjudul “Come On Dream Baby” – artinya High Hopes dibuka dan ditutup dengan harapan. Tapi sebaiknya tak setinggi itu. [WARN!NG/Soni Triantoro]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response