close

Buku Indonesia Terbaik 2016

buku indo

“Ini berarti dari 10.000 orang hanya satu saja yang memiliki minat baca,” kata Anies Baswedan—saat masih menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, seperti dikutip dari Suara Pembaharuan. Ia merespons survei yang dilakukan oleh UNESCO yang menyebutkan minat baca orang indonesia 0,001 persen untuk buku-buku di luar buku pelajaran.

Barangkali survei tersebut memang benar. Tapi coba kita tinggalkan sejenak.

Jogjakarta, kota tempat kami tinggal sedang gencar-gencarnya ditumbuhi mall, dan pada tiap mall hampir selalu ada Gramedia, yang tak pernah sepi walau memasang harga tanpa diskon. Ada juga toko buku lain, Togamas misalnya yang dikunjungi 700-800 orang per hari pada hari-hari biasa. Belum lagi beberapa toko-toko buku alternatif yang masih bertahan sampai sekarang.

Akhir-akhir ini keluarga Kompas-Gramedia juga sedang gencar-gencarnya mengobral buku terbitannya. Di Jogja misalnya, kala mereka melakukan obral buku dengan harga 5000 rupiah untuk judul apapun, tak ayal pagelaran tersebut diserbu pengunjung. Acara yang dimulai pukul 09:00, sudah dikerubungi pengunjung dua jam sebelumnya yang kemudian menciptakan antrian panjang dan desak-desakan di acara. Dan hal-hal macam ini terjadi berkali-kali, dengan pola yang sama. Tak hanya di Jogja, pegelaran tersebut juga terjadi di Jakarta dan Surabaya. Jangan dilupakan pula, tahun 2016 kemarin Big Bad Wolf—pameran buku yang diklaim sebagai pesta buku terbesar di dunia—hadir lagi di Indonesia, kali ini bertempat di Surabaya. Belum lagi melihat banyaknya penerbit-penerbit baru bermunculan, festival-festival buku terselenggara, serta peran penjual buku online. Berdasar survei yang kami lakukan ke puluhan penjual online, rata-rata mereka bisa menjual 5-10 buku per-hari. Bagi pecinta buku, kabar tersebut cukup menggemberikan bukan?

Lalu bagaimana dengan dunia penulis indonesia tahun 2016 ini? Jika ada writer of the year di Indonesia, rasa-rasanya harus disematkan ke Martin Suryajaya, bagaimana tidak? Empat buku plus satu terjemahannya terbit tahun ini. Ada Sejarah Estetika, Sejarah Pemikiran Politik Klasik, Mencari Marxisme, Kiat Sukses Hancur Lebur dan Teks-Teks Kunci Filsafat Marx, yang mana semuanya bukanlah buku yang asal terbit. Lalu ada kabar menggembirakan dari Eka Kurniawan. Ia menjadi penulis indonesia pertama yang masuk nominasi penghargaan buku internasional Man Booker Prize, kemudian ia lantas memenangkan penghargaan dari  World Readers’ Award. Eka juga Menerbitkan novel terbarunya yang bertajuk O.

Sedangkan Yusi Avianto Pareanom dengan Raden Mandasia-nya adalah yang paling mencuri perhatian tahun ini. Selain isinya yang luar biasa, Raden Mandasia juga sangat dirayakan di social media, ada banyak sekali unggahan foto buku tersebut lengkap dengan puja-pujinya. Barang tentu, berbicara soal merayakan di Social Media harus menyebut heboh AADC2, Aan Mansyur dan Tiada New York Hari ini, atau Garis Waktu milik Fiersa Besari yang sudah terjual lebih dari 15.000 ekslempar dan beredar liar di banyak akun instagram penggemarnya.

Masih di tahun Monyet Api, Dee Lestari akhirnya menutup serial Supernova dengan Intelejensi Embun Pagi, pun begitu dengan Pidi Baiq, yang melanjutkan seri Dilan dengan Milea, Suara Dari Dilan. Maraknya terjemahan sastra-sastra dunia maupun cetakan ulang buku-buku lama membuat 2016 kian menyenangkan. Dan sepertinya kurang afdal jika menyebut buku 2016 tanpa nama penulis yang menjadi best seller di tiap toko buku, yakni Tere Liye yang entah berapa dan judul apa lagi yang ia terbitkan tahun ini.

Dari semaraknya dunia perbukuan, rasa-rasanya ada respons yang lebih baik dibanding Anies Baswdan terhadap survei UNESCO tersebut, katakan saja: Persetan dengan survei budaya baca rendah! berikut daftar buku indonesia terbaik 2016

ibu mendulang anak berlari

10.Ibu Mendulang, Anak Berlari – Cyntha Hariadi

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Apa saja bisa ditulis jadi puisi, termasuk rutinitas seorang ibu-ibu urban beranak satu yang setiap petang pulang kerja dengan kelelahan yang tak lebih manjur untuk memaksanya tidur ketimbang rengekan anaknya minta susu. Lewat bahasa sederhana, Chyntha memotret kompleksitas pengalaman domestik menjadi seorang ibu dan tentang pergeseran identitas anak-ibu-anak. Larik-lariknya yang nyeleneh memperjelas faedah buku ini dalam khazanah sastra tahun ini: mendobrak tabu keagungan seorang ibu.

 

ideologi saya

9.Ideologi Saya Adalah Pramis – Muhidin M. Dahlan

Penerbit: Octopus Publishing House

 Kurang lebih dari 20 judul buku tentang Pramoedya Ananta Toer telah beredar, dan ketika ada terbitan baru, sudah seharusnya buku tersebut tidak biasa saja. Buku ini hadir dalam bentuk esai-esai pendek, yang bisa dibaca dengan santai. Memang, menjelaskan siapa Pram, bagaimana sikap,pemikiran, serta kehidupannya  tak akan cukup walau hadir dalam ribuan lembar, dan buku ini berhasil menyortir beberapa poin tentang Pram yang sangat menarik, terutama tentang bagaimana Pram menulis.  Muhidin bahkan menafsir 30 karya Pram, yang bisa menjadi referensi bagi siapapun yang ingin membaca Pram lebih jauh, atau memilih buku yang mana yang akan dibaca selanjutnya. Kian paripurna ketika buku ditutup dengan wawancara dengan orang-orang terdekat Pram, serta kronologis 66 jam sebelum Pram meninggal dunia, yang belum pernah dimuat di buku tentang Pram lainnya. Ya, semua itu ada dalam satu buku yang tidak biasa-biasa saja ini.

 

 

buku tentang ruang

8.Buku Tentang Ruang – Avianti Armand

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Background-nya di bidang arsitektur selalu membuat Avianti Armand punya perspektif menarik soal ruang. Dalam Buku Tentang Ruang, puisi-puisinya seolah memaknai ruang bukan sebagai ruang pada umumnya, yang memiliki batas atau yang bisa diisi. Ia juga melakukan personifikasi ke benda-benda mati atau yang mengisi ruang tersebut. Dicetak dengan kemasan yang clean dan banyak menyediakan ruang kosong, buku ini seperti menjebak kita dalam satu ruang interpretasi yang maha luas, untuk memaknai diri kita lewat batas dan memori yang lekat dalam benda-benda mati.

 

setelah boomboz

7.Setelah Boombox Usai Menyalak – Herry Sutresna

Penerbit: Elevation Book

Herry Sutresna, atau yang lebih akrab sebagai Ucok Homcide, dikenal piawai membuat lirik-lirik yang kritis. Ia kerap membongkar kejahatan korporat, fasisme, kekerasan militer dan negara lewat lagu-lagunya. Sehingga tak aneh ketika ada ekspektasi bahwa buku pertamanya ini sarat muatan politis. Namun buku Setelah Boombox Usai Menyalak justru tak melulu soal politik—dengan “P” besar—malah cenderung sangat personal. Mayoritas artikel di buku ini berceloteh tentang rilisan musik. ia sendiri tidak menawarkan analisis teoritik yang mendalam ala etnomusikolog. Tapi, lagi-lagi justru menarik tatkala ia membicarakan musik dengan memposisikan diri sekadar sebagai sesama penggemar saja, yang kadang-kadang bisa punya sentimen pribadi tanpa cukup alasan dengan aliran musik atau artis tertentu. Dan mengingat ia adalah satu dari sedikit musisi yang bisa menulis dengan baik, fakta bahwa semua tulisan di buku ini sudah pernah dipublikasikan (mayoritas di blognya), tak lantas mengurangi keharusan memiliki buku ini.

 

sejarah estetika

6. Sejarah Estetika – Martin Suryajaya

Penerbit: Gang Kabel

Martin Suryajaya patut diganjar penghargaan penulis paling ambisius tahun ini dengan 5 buah terbitan. Satu novel berjudul Kiat Sukses Hancur Lebur, 1 terjemahan berjudul Teks-Teks Kunci Filsafat Marx, dan 3 buku non fiksi yaitu Sejarah Pemikiran Politik Klasik, Mencari Marxisme dan Sejarah Estetika. Sejarah Estetika adalah salah satu yang paling mantap. Dengan total 915 halaman, Martin menjelaskan secara historis perihal perkembangan pemikiran estetika. Dalam puluhan bab, garis historis estetika itu ia mulai dari gambar gua pertama hingga seni kontemporer jaman sekarang. Lewat buku ini, Martin juga mengkritik referensi lain mengenai estetika, yang terlalu terkungkung dan punya lompatan waktu yang kelewat besar. Menurut Martin Suryajaya, sejarah estetika lebih berpusat pada perkembangan pemikiran alih-alih sejarah praktik seni. Buku yang menurutnya ia tujukan untuk mahasiswa S1 ini secara komprehensif bisa menjadi referensi utama untuk penulisan kritik seni, kuratorial atau seni rupa secara umum.

 Read More:

Buku Indonesia Terbaik 2016 (5-1)

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response