close

BW Purba Negara: Kesahajaan dalam Bingkai Realisme Sinema

BW Purba Negara
BW Purba Negara
BW Purba

Interview by: Kevin M

Di masa kecilnya, BW Purba Negara hanya membutuhkan sebatang pensil dan imajinasi, tentunya, untuk memenuhi setumpuk kertas dengan gambar yang sedikit berbeda di setiap lembar. Sehingga ketika lembar per lembar kertas itu diputar dengan cepat, muncul ilusi bahwa gambar tersebut bergerak. Ilusi inilah yang menjadi sumber dari daya magis sebuah film. Dengan turut menerapkan bentuk seni lain yang mendahuluinya macam teater, musik, hingga literatur, film akan menuturkan cerita mengagumkan dari dunia yang unik.

Sineas kelahiran Sleman ini memang tertarik dengan segala hal yang ajaib sejak kecil. Di samping membuat “film” sederhana itu, BW Purba Negara juga giat mempelajari trik-trik sulap. Lantaran sebuah kecelakaan saat mempraktekan salah satu trik sulap ia terpaksa pensiun dini, lalu memantapkan mimpi untuk menjadi seorang sutradara dari jauh hari.

Memang dalam tataran praktisnya, proses pembuatan film tidak sesederhana itu. Tapi sebagaimana yang telah dibuktikan BW Purba Negara kecil, kamera dengan lensa sebesar pipa paralon dan penataan cahaya sepuluh ribu watt bukanlah hal esensial dalam pembuatan film. Perkakas tersebut hanyalah perantara mentah, digunakan untuk membangun ruang penampungan imajinasi yang berkembang sporadis, yaitu film. Maka dari itu, sekiranya boleh menyadur opini Willam S. Burroughs, ada baiknya arahkan kamera tersebut kepada diri sendiri, lalu kisah yang terbentuk akan berjalan dengan sendirinya.

Mungkin itu yang dilakukan BW Purba Negara dalam setiap film yang ia buat yang hingga sekarang masih terasa sederhana. Narasi tidak ia sampaikan lewat dunia yang fantastis ataupun plot rumit penuh terkaan. Tetapi, keajaiban filmnya terletak jauh di dalam batin karakter-karakter unik yang ia ciptakan. Karakter yang tidak semata-mata membatasi diri dengan penonton di seberang layar, melainkan mengajak mereka hanyut dalam luapan pikiran sarat konflik.

Ambil contoh seorang tunanetra dan tunawicara yang saling menutupi keterbatasannya di Bermula Dari A. Atau sepasang kekasih yang mempermasalahkan posisi duduknya di Kamu di Kanan Aku Senang. Goresan khas BW Purba Negara bisa dilihat lewat kejujuran dan kesederhanaan yang ia bingkai dan rangkai di setiap karyanya. Tinggal kembali ke penonton untuk memaknai apa yang terselip di antara kejujuran dan kesederhanaan tersebut.

Dewasa ini, BW Purba Negara tengah mempersiapkan Ziarah, Film feature pertamanya. Kali ini, BW Purba Negara mencoba mengambil cakupan yang lebih luas dengan membahas relasi antara manusia dan tanah. Meski begitu, permasalahan sosial ini tetap disampaikan lewat pengalaman personal seorang karakter.

BW Purba Negara
BW Purba Negara

Sudah sampa dimana proses penggarapan Ziarah?

Sekarang sudah masuh tahap pasca-produksi.

Berarti sudah menetapkan tanggal rilisnya?

Sekarang saya sedang tidak bisa mentarget. Karena Ziarah hanya mungkin jadi kalau didukung oleh banyak orang. Terus, aku sendiri juga gak punya target waktu yang ketat. Tapi paling tidak akhir 2016 sudah bisa rilis nasional.

Ziarah sendiri nantinya akan dirilis terbatas di festival-festival film saja atau akan diputar di bioskop juga?

Sebenarnya begini, film Ziarah itu saya buat dengan cara yang barangkali berbeda dengan kebanyakan film yang di ruang mainstream. Saya tahu kalau penontonnya adalah kalangan penonton film alternatif. Ruang terbaik sebenarnya adalah kantong budaya dan festival. Saya tahu itu.

Cuma, saya merasa sudah saatnya kita memperlebar daya jangkau film ini agar penonton film alternatif itu gak datang dari kalangan itu saja. Saya kepikiran mengikuti jejak Siti yang penontonnya sebenarnya penonton alternatif. Tapi dengan masuk bioskop daya jangkaunya sedikit lebih luas meskipun tidak akan menjadi film box office. Saya pun tidak bermimpi seperti itu.

Tapi kalau di bioskop memang meningkatkan kemungkinan untuk ditonton secara luas. Meskipun ada jalan panjang untuk sampai kesana. Proses sensor, penentuan jadwal tayang, dan lain-lain. Dan kalaupun masuk bioskop, saya tidak menarget jaringan bioskop besar di Indonesia. Tapi lebih kepada bagaimana film ini menemukan format pemutaran standard sinema.

Dari filmnya sendiri, apa yang ingin disampaikan lewat Ziarah?

Pertama, tema utamanya sejarah. Sejarah itu penting untuk dibicarakan. Kedua, kita bicara cinta. Secara alur, Ziarah berkisah tentang cinta Mbah Sri kepada suaminya yang hilang di masa perang. Dengan penceritaan yang lain, dengan karakter lain. Karakter berusia lanjut jarang punya ruang dalam film Indonesia. Saya tertarik dengan karakter-karakter unik yang jarang muncul di film lain.

Bagaimana bisa menemukan aktor yang tepat untuk memerankan Mbah Sri?

Saya mencari aktor yang usianya 80 tahun ke atas, itu susahnya minta ampun. Ada beberapa, tapi agak resiko dengan fisiknya, karena ini ceritanya perjalanan naik turun bukit. Kemudian ketika saya hunting lokasi di Gunung Kidul, saya dikenalkan oleh teman beberapa orang tua yang masih kuat. Akhirnya ada beberapa calon, saya memilih Mbah Ponco Sutiyem yang umurnya 95 tahun. Dari raut mukanya, kalau orang lihat langsung percaya kalau dia mengalami zaman perang. Dia memang hidup di zaman perang. Dia menikah di zaman penjajahan Jepang, pengalaman sejarahnya besar sekali.

Kemudian dari cara dia bicara, warna bunyinya susah dicapai bahkan dengan kemampuan akting yang luar biasa. Jadi potensi secara visual dan suaranya, sangat unik. Masalahnya tinggal aktingnya yang dilatih.

Berapa lama latihannya?

Sekitar dua bulan.

Ada hambatan yang dihadapi?

Hambatan pasti ada. Tapi itu menantang. Karena saya menemukan cara baru untuk mengarahkan aktor. Pertama, dia gak bisa baca naskah.

Tidak bisa karena kendala Bahasa atau faktor fisik?

Secara pengelihatan sudah tidak seperti muda. Kemudian caranya teks naskah itu dibacakan ketika latihan oleh saya dan astrada, lalu dicoba tirukan. Ada yang harus sama pengucapannya, jadi dia mendengar dulu kemudian naskahnya dibacakan. Ada adegan tertentu dia boleh improvisasi, yang penting tersampaikan pesannya.

Nah, yang paling membantu adalah pengalaman sejarahnya, dia tahu banyak hal. Di naskah itu banyak adegan Mbah Sri menceritakan pengalaman tentang agresi militer Belanda kedua. Rumahnya ditembak, bom jatuh, ketika perang dia sedang hamil tua. Dia memang mengalami hal seperti itu. Jadi dia tinggal menceritakan pengalaman sendiri.

Tema lain yang diangkat Ziarah adalah masalah tanah, kenapa mengambil tema itu? Apa ada hubungannya dengan masalah agrarian yang sekarang sedang marak di Indonesia?

Ada beberapa alasan. Alasan yang agak filosofis, tapi mungkin berat, karena manusia itu berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Di film ini Mbah Sri berusaha mencari tempat terbaik untuk kembali ke tanah. Dia mencari makam suaminya karena nantinya dia mau dikubur di sebelahnya.

Kemudian hubungan manusia dengan tanah di kultur agraris itu sangat vital, agak berbeda dengan masyarakat industrial atau masyarakat pesisir. Kita, masyarakat agrarian, sejengkal tanah bisa menjadi permasalahan. Di perjalanan film ini, selain Mbah Sri, ada juga cucunya yang sedang bermasalah dengan tanah.

Dia mau menikah, sehingga ada yang harus dipersiapkan, salah satunya permasalahan tanah. Dia harus memastikan ke calon istrinya kalau sudah ada sepetak tanah yang dipersiapkan untuk membangun rumah mereka. Dari sini terlihat pemaknaan tanah yang berbeda antar generasi. Tapi yang jelas permasalahan tanah bukanlah permasalah remeh temeh.

Kalau dilihat oleh orang yang tidak terlalu memahami latar belakang kulturalnya, barangkali nanti ketika menonton tidak akan mendapatkan pesan itu. Tapi akan dapat ceritanya, yang dibuat dari dasar hubungan manusia dan tanah yang dipakai untuk membicarakan cinta.

Kalau begitu, dibanding film BW Purba Negara yang lain, Ziarah bahasannya memang lebih luas?

Secara isu memang persoalan sosialnya lebih besar dan kompleks. Tapi itu semua dipotret dengan cara saya mengeksplorasi kehidupan personal seseorang. Dalam hal ini, Mbah Sri dan cucunya. Dengan menceritakan perjalanan personal karakter ini akan muncul permasalahan yang lebih luas.

Sebenarnya bagaimana BW Purba Negara sendiri mendeskripsikan gaya penyutradaraannya?

Saya sangat terobsesi dengan realisme. Jadi itu sangat mempengaruhi corak berkarya saya. Terutama realisme sosial dalam sastra.

Seperti Pramoediya Ananta Toer?

Iya, saya sangat suka karya-karyanya dan itu juga mempengaruhi kekaryaan saya. Saya punya keinginan, meskipun saya tahu itu berat, untuk mencoba belajar membuat pijakan sosial dalam film. Ziarah itu mengarah kesana. Berhasil atau tidak, nanti dilihat.

BW Purba Negara
BW Purba Negara

Dengan obsesi BW Purba Negara terhadap realisme, apakah pengalaman membuat film dokumenter turut membantu dalam proses penggarapan film fiksi?

Sedikit banyak itu mempengaruhi. Saya punya dorongan lebih besar untuk menampilkan gambar yang lebih natural, meski itu fiksi. Saya merasa lebih bisa mengukur suatu adegan itu nyata atau tidak. Contohnya dalam Ziarah, ada adegan tertentu yang memiliki treatment seperti film dokumenter.

Bisa memberi contoh?

Misalnya di Ziarah itu ada dua adegan pemakaman, itu pemakaman asli. Itu diambil di luar jadwal shooting yang ditentukan. Kebetulan ada nenek teman yang meninggal, lalu saya putuskan untuk ambil gambar saat itu juga.

Selama akrab dengan sinema, adakah sutradara yang mempengaruhi karya-karya BW Purba Negara?

Kalau dari luar negeri ada Abbas Kiarostami, Asghar Farhadi.

Film-film mereka terhitung sulit untuk dikenal di Indonesia, dari mana biasanya mengakses film mereka?

Dari teman ke teman, dari rental juga. Ada satu rental di Gejayan itu, kalau mau cari referensi film aneh itu kesana saja.

Jadi kalau BW Purba Negara sendiri bagaimana menanggapi file sharing dan pembajakan?

Itu agak dilematis. Kalau saya bisa mengakses yang legal, saya akan menggunakan jalan itu. Karena itu bentuk penghargaan karya. Sayangnya tidak semudah itu. Jadi cari jalur lain saja.

Tapi misalnya karya BW Purba Negara sendiri dibajak seperti itu bagaimana?

Ada film yang memang saya harapkan bisa tersebar seluas-luasnya. Ada yang tidak. Untuk sekedar koleksi itu mungkin sudah banyak. Itu konsekuensi era digital. Yang jelas tidak dikomersialisasi. Kalau mau buat screening, ya izin. Begitu saja.

Akan sakit hati kalau filmnya belum rilis tapi sudah bocor. Suatu saat nanti Ziarah sendiri akan bisa ditonton banyak orang dengan cara apapun. Tapi nanti, jangan sekarang.

Sebagai sineas yang lahir dan besar di Yogyakarta, bagaimana BW Purba Negara melihat perkembangan film disini?

Sekarang adalah saat dimana orang-orang yang mulai di awal 2000-an mulai panen. Macam Ifa Isfanyah, Eddie Cahyono, Ismail Basbeth, Anggi Noen.

Anggi Noen itu teman sekelas SMA saya. Dulu belajar buat film sama dia. Tapi dalam prosesnya kita menemukan nilai estetika masing-masing.

Apa lingkungan dan pergaulan seperti itu turut berpengaruh?

Iya. Di Jogja itu pertukaran idenya lebih mendalam. Antara teman teater, seni rupa, dan sastra, itu semua saling terhubung. Kultur risetnya kuat dan ada banyak hal non teknis yang penting jadi dasar. Itu yang lebih banyak diobrolkan.

Kalau Jogja dibilang sebagai ujung tombak perfilman Indonesia, setuju atau tidak?

Mungkin benar. Tapi sebaiknya yang menjawab adalah pemerhati film, karena saya tidak memperhatikan dengan detail. Tapi yang jelas,saya disini yang bukan siapa-siapa, yang tidak belajar film secara formal, akhirnya bisa juga karya saya diapresiasi. Itu berarti ada sesuatu, kan di Jogja? Itu tidak mungkin dari ruang kosong lalu membuat saya seperti ini.

Karya BW Purba Negara memang banyak diapresiasi di kancah internasional. Tapi secara pribadi, mana yang paling berkesan?

Kesannya macam-macam. Bermula Dari A daya jangkaunya ke penonton paling besar karena banyak diputar di festival internasional. Lalu Say Hello to Yellow itu film saya yang paling meriah. Dia bisa diterima di banyak wilayah. Tidak hanya di kalangan intelektual saja. Diputar di pelosok desa pun, sampai anak-anak SD bisa suka karena bahasanya sederhana.

Setuju kalau Bermula Dari A dibilang sebagai film BW Purba Negara yang paling sukses sampai sekarang?

Kalau dari segi pencapaian penghargaan, iya. Tapi mengukur sukses kan tidak hanya dari situ saja.

Lalu, bagaimana sebenarnya citra perfilman Indonesia di mata internasional?

Sejauh pengamatan saya, mereka sangat mengapresiasi hal dengan latar belakang kultural yang kuat. Kebetulan beberapa film saya seperti itu.

Film itu kan tamasya ke sebuah dunia. Adalah penting untuk menampilkan dunia yang unik. Nah, kata kuncinya ada tiga, filmnya unik, bisa secara tata Bahasa, kekhasan budaya, bentuk, tutur, bisa karakter. Kedua penting, secara isu dan tema penting untuk dibicarakan. Ketiga, menyentuh perasaan. Film yang memiliki ketiganya akan bisa diterima di banyak tempat.

Perancis identik dengan gerakan New Wave. Begitu pula di beberapa negara lain. Termasuk Hollywood yang sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Sementara itu, apakah Indonesia sudah memiliki identitas kultural yang kuat juga dalam perfilman?

Indonesia masih mencari. Termasuk saya sendiri bentuk yang paling tepat dan paling unik. Maka dari itu, saya banyak mengambil referensi dari dinamika kultural yang ada di Indonesia itu sendiri.

Sebenarnya banyak hal seperti itu tapi belum sampai membuat satu ciri yang kuat. Yang ketika dilihat oleh dunia internasional menjadi jelas, “Wah, ini film Indonesia banget!”

Negara lain sudah begitu, seperti Iran, Prancis, dan Hollywood kuat sekali. Indonesia belum. Tapi orang-orang yang bersemangat untuk mencari itu banyak.

Tapi mengapa bisa film Indonesia lebih diapresiasi di luar negeri ketimbang di negara sendiri? Sampai terlihat sekali segmentasi antara film mainstream yang kurang dipandang dan film alternatif yang memiliki tempat tersendiri. Atau hal itu sebenarnya wajar saja?

Sebenarnya film yang baik ya baik saja. Kategorisasi itu kadang membingungkan juga. Karena gak cuma masalah bentuk, tapi juga kepentingan. Kalau saya yang penting berkarya itu jujur. Kadang kalau karya seni dibuat dengan kepentingan di luar seni yang lebih besar, menurut saya bahaya. Kepentingan ekonomi boleh saja. Tapi kalau sampai mengorbankan eksplorasi estetiknya, sayang sekali. Sayangnya banyak film mainstream seperti itu.

Pada akhirnya, mulai muncul stereotip yang dibuat baik oleh maupun kepada kategori masing-masing. Dalam film alternatif sendiri, kalau ini terjadi bukankah nanti ujungnya jadi menjenuhkan juga?

Kalau alternatif beneran alternatif, harusnya ada banyak pilihan. Kalau tidak, namanya bukan alternatif. Kalau serius memaknainya, seharusnya tidak akan buntu. Misalnya jalur utama kesini, kemudian ada jalur lain kesini. Kalau kemudian semakin banyak orang mengambil jalan itu, sudah tidak jadi alternatif. Kalau bicara genre, ya banyak yang bisa kita eksplorasi. Horror, thriller, action.

Atau bisa jadi kesuksesan beberapa film alternatif belakangan ini turut memicu orang untuk mengikutinya?

Itu yang berbahaya. Sudah tidak alternatif lagi namanya. Yang baik itu meniru semangatnya untuk melahirkan hal baru. Idealnya kalau seorang kreatif ingin menemukan identitasnya, kalau satu bentuk sudah dipakai orang lain, sebaiknya cari yang lain. Karena kan kalau tidak begitu kita gak punya identitas. Kreativitas itu kan kuncinya kalau orang lain begini, aku begitu. Lainnya begitu aku begini.

Kalau bisa menarik lebih jauh, sebenarnya apa akar masalahnya?

Sulit juga mencarinya, karena terlalu kompleks. Iklim industrinya sendiri mungkin kurang memberi ruang untuk keberagaman. Banyak produser yang referensi bentuknya itu-itu saja sehingga memperlambat perkembangan. Dan tidak cukup percaya diri untuk melahirkan hal baru. Celakanya banyak kreator baru yang tersetir. Faktor pendidikan juga mungkin ada.

Pendidikan secara umum atau pendidikan film?

Pendidikan film. Lalu faktor distribusi juga berpengaruh. Film yang terdistribusi di bioskop film yang seperti apa sih? Itu juga mencetak cara pandang penonton terhadap film. Kalau film impor itu ya Hollywood misalnya. Padahal banyak sekali keberagaman bentuk sinema. Itu kan membuat kita gak bisa melihat dunia dengan luas.

Sebagai film alternatif sendiri, masalah lain apa yang dihadapi dalam film Ziarah yang mungkin tidak dihadapi dalam pembuatan film-film mainstream?

Film mainstream itu punya budget bermilyar-milyar untuk promosi dimana-mana. Kita tidak mungkin untuk melakukan itu. Tapi kalau diam saja juga keliru. Sayang sekali kalau tidak ada yang nonton.

Pentingnya hubungan baik antara para filmmaker dan penontonnya pun tidak bisa dipungkiri berarti?

Iya. Dan ternyata untuk konteks film alternatif tidak bisa sesederhana bikin film lalu terserah penonton mau lihat atau tidak. Tapi harus juga berjuang bagaimana penonton bisa bertemu dengan film itu. Disini kerja filmmaker tidak sekedar bikin filmnya. Tapi langkahnya juga berat. Tidak ada sumber daya yang cukup untuk promosi. Untuk mencapai saluran komunikasi mainstream.

Apa alasan finansial ini juga yang membuat BW Purba Negara menuggu sekian lama untuk membuat film feature pertamanya?

Saya merasa belum siap. Karena saya ingin bikin film panjang yang merdeka. Menggunakan idealisme yang sudah dibangun sejak lama. Kalau asal membuat film panjang itu sebenarnya lebih mudah. Saya meraih Piala Citra untuk film pendek terbaik tahun 2008. Dengan modal itu, ada yang mau membiayai. Ceritanya apa, saya tinggal manut dia.

Apa sebegitu besar kreativitas dikekang dalam mainstream?

Memang. Ada sih pengecualian, tapi negosiasinya tetap sulit. Mencari Hilal itu dananya dari produser besar. Ismail Basbeth bisa membuat film itu karena bantuan Hanung Bramantyo juga.

Sebagai penggiat dunia film sendiri, kira-kira apa yang bisa dilakukan untuk membenahi permasalahan ini?

Yang jelas saya bukan siapa-siapa untuk mengubah sistem. Itu terlalu rumit. Tapi saya merasa perlu untuk melakukan apa yang saya bisa. Saya menawarkan film yang memberi tawaran baru. Kemudian harus berjuang agar film yang saya buat ini bertemu dengan penontonnya.

Photo by: Aditya Adam

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response