close

[Movie Review] Cahaya dari Timur : Beta Maluku

14030678781451914664
Cahaya-Dari-TImur-Beta-Maluku-Film-Indonesia

Cahaya dari Timur : Beta Maluku

Director: Angga Dwimas Sasongko

Cast : Abdurrahman Arif, Chicco Jerikho, Glenn Fredly, Shafira Umm

Tukang ojek itu bernama Sani, diperankan dengan apik oleh Chico Jericho, jauh-jauh dari Tulehu ke Ambon, ia datang dengan motornya untuk membeli terigu. Ia dapati kota yang tampak tak berpenghuni, seluruh keluarga sedang berlindung diri di rumah yang rapat terkunci. Toko langganannya pun enggan membukakan pintu untuk sekadar jual-beli. Apa yang Sani cari tak ia dapat, terjebak ia di tengah konflik Ambon sebelum kemudian diselamatkan oleh TNI.

Mengambil setting kejadian pada tahun 2000 ketika konflik di Ambon bergejolak. Begitulah adegan awal yang membuka film ini. Di Tulehu, desa tempat Sani tinggal, digambarkan pula sebagai tempat di mana kerusuhan dan kekerasan menjadi keseharian. Tiang-tiang dipentung sebagai tanda dimulainya sebuah perkelahian antar kelompok, kala itu sebuah bom dapat meledak sewaktu-waktu. Film ini mengambil sudut pandang dari seorang Sani Tawainela.

Sani, ia bukan tukang ojek biasa, diceritakan pada masa remaja ia pernah memperkuat tim nasional pelajar Indonesia berlaga di Brunei. Meskipun begitu Sani adalah satu dari anak-anak yang pada masa kecilnya pandai bermain bola namun tidak dapat meneruskan karirnya karena suatu alasan. Kini, dengan seorang istri dan anaknya, ia harus bertahan hidup dengan penghasilan yang pas-pasan. Istrinya kerap menumpahkan kekecewaan kepadanya karena penghasilannya sebagai tukang ojek yang serba kurang.14030678781451914664

Apa yang membuat Sani sering berseteru dengan istrinya, tidak lain ialah inisiatifnya untuk melatih sepakbola secara cuma-cuma para bocah di Tulehu. Waktunya sebagai penarik ojek ia sisihkan demi melatih sepakbola bocah-bocah Tulehu, yang pada suatu adegan digambarkan, terkesima dengan gayanya bermain.

Bukan tanpa alasan, awalnya Sani bermaksud agar anak-anak, alih-alih ikut terlibat dalam konflik, menyalurkan energinya dengan bermain sepakbola. Ia melarang keras anak-anak yang ia latih untuk ikut berlarian membawa senjata ketika tiang-tiang yang dipentung ramai berbunyi. Maka, setiap sore mereka berkumpul di pesisir untuk berlatih sepakbola. Pada adegan ini, Angga Dwimas Sasongko tampak tahu benar mengeksplorasi keindahan alam Maluku. Mata penonton tidak jarang dibuat terpukau oleh keelokannya.

Betapapun usaha yang dilakukan Sani, anak-anak yang hidup di tengah konflik sektarian tetap menyimpan traumanya sendiri. Beberapa anak, yang dalam film secara efisien diperkenalkan lebih personal, seperti Salembe dan Jago, kehilangan salah satu orang-tuanya. Mereka akhirnya memendam sikap dan sentimennya masing-masing terhadap kelompok lain. Beberapa tahun kemudian, ketika konflik bahkan telah reda, perseteruan Salembe dengan rekan setim Malukunya yang berasal dari Passo menjadi deskripsi yang tepat untuk menggambarkan fenomena itu.

Apa yang membuat film ini menarik barangkali juga logat kedaerahannya yang tidak lantas dialihbahasakan ke bahasa Indonesia. Selain itu, bumbu-bumbu cerita keseharian di pelosok daerah juga menyimpan keunikan tersendiri. Seperti, misalnya, kehidupan anak-anak yang bersekolah sembari membantu orang-tuanya mencari nafkah. Ada pula cerita Jago yang dilarang orang-tuanya berlatih sepakbola. Hingga bagaimana mereka berusaha sendiri mengumpulkan uang demi membeli sepatu sepakbola yang hanya bisa didapat di seberang laut.

Tidak banyak muncul adegan mengenai konflik sektarian di Ambon, meski ide ceritanya berangkat dari sana. Adegannya lebih banyak menyoroti kehidupan Sani bersama anak-anak Tulehu dalam meraih, yang Sani katakan, “hidup yang lebih baik” melalui sepakbola. Namun bukan berarti tidak berhubungan sama sekali, justru diceritakan tim sepakbola Maluku memiliki peranannya sendiri dalam menenun kembali persaudaraan.

Secara mengharukan, digambarkan ketika warga beramai-ramai datang ke rumah Sani untuk memberikan bantuan berupa uang untuk memberangkatkan tim Malukunya ke Jakarta. Semua kelompok dan golongan dari ketua adat dari Tulehu dan Passo, dari Ustad dan Pendeta, tidak lagi mempersoalkan sentimen golongannya masing-masing. Sani seakan menjadi semangat kolektif di mana Maluku menaruh kepercayaan padanya untuk menjuarai kompetisi sepakbola.

Cahaya dari Timur menyajikan sebuah gambaran apik bagaimana perbedaan berani diretas, persaudaraan kembali dirajut,serta bagaimana semangat tak pudar oleh berbagai keterbatasan untuk menjadi yang terbaik. Sebuah film yang diangkat dari kisah nyata, menjadi teladan yang baik untuk kalangan anak-anak maupun orang dewasa.

Shandy Wilo

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response