close

[Movie Review] Captain Fantastic

Captain Fantastic

Review overview

WARN!NG Level 8.6

Summary

8.6 Score

Director: Matt Ross

Cast: Viggo Mortensen, George MacKay, Samantha Isler, Annalisa Basso, Nicholas Hamilton, Shree Crooks, Charlie Shotwell, Trin Miller

Production: Electric City Entertainment – ShivHans Pictures

Year: 2016

Dunia kian mengerikan. Uang menjadi berhala yang memabukan; menjerumuskan ke endapan samudera, memecah belah konstruksi idaman, bahkan memicu peperangan. Akal sehat semakin terkaburkan. Pasar mengokupasi keseluruhan sistem sedangkan kincir ideologi tak ada artinya lagi. Penindasan sulit dikendalikan. Selama kebutuhan hidup terpenuhi, karir meloncat tinggi, dan masa depan terjamin dari kumpulan hipotek yang tersimpan rapi; semua tak masalah.

Nyatanya Ben (Viggo Mortensen) tak ingin terjebak dalam lengkung problematik semacam itu. Sadar bahwa kondisi dunia yang ditempatinya memprihatinkan, ia mengambil langkah ekstrim; membawa anak-anaknya tinggal di belantara rimba yang jauh dari cengkraman globalisasi. Tak menjangkau internet, tak mengenal modernitas, dan terpenting mengenyahkan institusi legal bernama pendidikan sekolah. Kepercayaannya kepada Negara, terutama, berada di titik nadir. Asalkan otak masih berjalan, fisik tak terbatas, hidup akan baik-baik saja.

Asumsi awal berkata Captain Fantastic memuat latar belakang perlawanan Ben terhadap beton sistem yang berdiri. Menegakan kredo klasik perihal kesetaraan juga kemandirian prinsip. Topik tersebut memang termaktub dalam plot yang ditulis. Akan tetapi, hal itu tidak mendominasi secara luas. Jahitan mengenai keluarga serta bagaimana merawat ingatan, kenangan, terlebih melakoni usaha riil mematahkan memori menyakitkan adalah laku utama bagi Ben dan kelima buah hatinya.

Keputusan yang diambil Ben bukan tanpa sebab. Terdapat alasan ironis dibalik bendera reformasi keluarganya. Sang istri, Leslie (Trin Miller) mengidap bipolar akut, menjelma delusional cum skizofrenia, sebelum akhirnya memutuskan diri untuk memotong urat nadinya. Sadar kondisi belahan jiwanya tak lagi kondusif, Ben memilih mengasingkan diri sembari mengasuh, menuntun, mempelajari, hingga membentuk Bo (George MacKay), Kielyr (Samantha Isler), Vespyr (Annalisa Basso), Rellian (Nicholas Hamilton), Zaja (Shree Crooks), serta Nai (Charlie Shotwell) menjadi seperti generasi idaman filsuf Yunani, Plato.

 

Bagian menarik dalam Captain Fantastic hadir tatkala Matt Ross selaku sutradara memaparkan metode pengasuhan yang natural. Berpadu suasana sejuknya pegunungan dengan harapan mengembalikan jati diri ke alam, Matt begitu jitu menangkap dinamika yang bergerak tanpa praduga menghakimi. Saat sebagian dari kita memanfaatkan keheningan alam untuk berkelindan dengan eksistensi sosial, pelarian pahitnya cinta, sampai memperkosanya habis-habisan atas wujud bisnis korporasi, Matt memperlihatkan sebaliknya; sesungguhnya kita mampu bersatu penuh harmoni.

Seusai matahari menyingsing, mereka mengadakan ritual jasmani. Berlari menelusuri ilalang hijau, menghirup nafas yang dalam untuk setiap gerakan yoga, atau memanjat terjalnya tebing tanpa mengandalkan bala bantuan. Apabila telah memasuki fase pergantian umur, ujian berupa berburu rusa pun wajib ditempuh. Lalu kala malam menghampiri, forum diskusi diadakan. Membaca Marx, mendedah imaji Trotsky, hingga menganalisa kompleksitas perhitungan kuantum, sampai nantinya sesi pemaparan ide yang terpaku dalam pikir menyudahi rangkaian hari.

Captain Fantastic mempunyai keunikan yang menarik. Menyaksikan film ini bersama anggota keluarga, arisan PKK, dan lembaga swadaya parenting merupakan pilihan bijak. Jika kesan pertama yang muncul pada benak Anda ialah Ben telah mengambil jalur ekstrim untuk menghidupi kelima anaknya, saya mencoba memaklumi. Dalil tidak sesuai kaidah norma masyarakat jelas jadi dasar argumennya. Namun beberapa saat kemudian ruang kepala akan dipenuhi pertanyaan; apakah lingkungan kita benar-benar normal?

Berbagai resistensi menghadang perjalanan mereka terutama dari pihak orang tua Leslie yang menimpalkan segala kesalahan ke diri Ben. Seturut bergulirnya waktu, keraguan mulai bersemayam di benak anak-anak. Keinginan si sulung Bo untuk kuliah di universitas bergengsi serta Rellian yang menanyakan maksud perayaan Hari Noam Chomsky dibanding selebrasi Natal merupakan dua contoh yang terkemuka.

Apabila Anda mencari pelajaran moral, Captain Fantastic menyediakannya tanpa tedeng aling-aling. Bukan sebatas esensi yang klise ataupun berbumbu formalitas belaka. Film ini berhasil menyentuh dasar dari tingkatan dinamika sosial. Bagaimana membentuk keluarga yang ideal? Apakah selamanya yang tak normal itu menyimpang? Apakah kita hanya bisa menyalahkan? Dapatkah berjalan beriringan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut seketika mengambang dan masih menunggu penjelasan.

Di samping gejolak dilematis yang menguap ke pelbagai dimensi, sekat kontradiktif melawan seketika. Ben, tak dapat dipungkiri telah melakukan bimbingan yang luar biasa di mana ia mengangkangi jenjang akademis dengan cuma-cuma. Pikiran anak-anaknya diasah kritis sedari dini, jiwanya dibiarkan terbang meraih kebebasan, dan akal rasionalnya mencapai pucuk tertinggi. Meski demikian, ada harga yang musti dibayarkan; tertutup rapatnya mereka dari budaya populer karena tebalnya Bill of Rights memenuhi selaput cerebral.

Bagaimanapun akhirnya, Matt Ross sukses memberi konsultasi perihal titik-titik kesederhanaan di sekitar dibalik keberadaan Ben yang menjadi faktor utama mengapa pilar berbentuk keluarga sangat penting untuk menyesuaikan konstelasi sosial. Captain Fantastic tak sekedar meruntut makna pendidikan melainkan menyoal kompromi terhadap revolusi yang sedang dijalani ataupun semesta luas di depan diri. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response