close

[Movie Review] Struck By Lightning

20130418-110323.jpg

Judul : Struck By Lightning

Director : Brian Dannely

Genre : Drama, Comedy

Rilis : 2012

 

                                                 Carpe Diem is Still Far Away

“Aku ingat saat aku mulai menemukan kekuatan dari kata-kata, dan menyadari betapa mudahnya untuk melarikan diri dari duniaku dengan menggunakannya.”

-Carson Philips, Struck By Lightning.

Agaknya mungkin memang akan lebih mudah menebak apa isi kotak pandora daripada menerka isi kepala seorang remaja. Satu-satunya hal yang mungkin akan berbanding lurus dengan keduanya adalah apa yang jamak diketahui tentang isi pandora, masalah. Berada dalam alur pikiran seorang remaja tak ubahnya berada di labirin panjang yang melelahkan. Berjenjang rapat, membingungkan, dan kadang tak terduga. Sebuah kewajaran, karena menjadi remaja memang tidak akan pernah mudah bagi siapapun. Dorongan meninggalkan masa kecil ke jenjang seperti kedewasaan, sungguh-sangat tidak menarik.

Dramatisasi pada fase inilah yang coba diangkat sutradara asal Amerika, Brian Dannely dalam Struck By Lightning (2012). Film yang sekaligus menjadi debut pertama alumnus Glee, Chris Colfer, sebagai bintang utama. Sedikit mengejutkan karena dalam debut filmnya ini Chris juga sekaligus bertindak sebagai penulis naskah. Untuk aktor sekelas serial TV yang kemudian terjun ke layar lebar, menulis dan membintangi sendiri film debutnya merupakan sesuatu yang sedikit diluar kebiasaan. Dengan Chris sebagai penulis naskah sekaligus pemeran utama, dugaan saya bahwa film ini tidak akan jauh berbeda dari Glee tidak meleset. Bahkan secara plot cerita apa yang ditampilkan akan terasa familiar bagi siapapun yang mengikuti serial televisi populer tersebut.

Perbedaan paling dasar berada pada bagaimana karakter dalam film ini menemukan pelariannya dalam menghadapi masalah. Jika dalam Glee bentuk pelarian dituangkan dalam medium musik dan nyanyian, dalam film ini sang tokoh utama menempatkan kata-kata sebagai medium baginya untuk keluar sejenak dari dunianya.

Film dibuka dengan adegan kematian sang tokoh utama, Carson Philips, siswa tahun terakhir SMA Clover yang tewas setelah tersambar petir. Menggunakan arus cerita flashback, cerita kemudian bergulir dengan narasi dari Carson tentang hidup, pencapaian, dan kesadaran akan suatu pencarian yang terhenti ketika dirinya menemui ajal. Pola seperti ini akan sedikit mengingatkan pada film Bucket List (2007) yang menggunakan pendekatan yang sama. Penggunaan narasi sang tokoh utama untuk menceritakan sendiri kisah hidupnya hingga menemui ajal, mungkin merupakan metode yang tepat untuk membangun kesadaran tentang beberapa hal esensial tentang hidup yang kadang terlewatkan. Setidaknya Plato benar tentang hal ini, The unexamined life is not worth living.

Meskipun mempunyai kesamaan dalam menggunakan kata-kata sebagai medium pelarian. Tetapi jangan dulu berharap film ini akan seperti Dead Poet Society (1989) yang kritis dalam memandang sistem. Atau Freedom Writer (2007) yang memaknai aktifitas menulis sebagai medium untuk merubah pandangan hidup seseorang. Dalam film ini, aktifitas menulis sang tokoh utama lebih dimaknai sebagai medium baginya untuk melarikan diri dari dunianya yang penuh masalah. Melarikan diri dalam hal ini bukan hanya dimaknai secara konotatif. Namun juga dalam arti harfiah yang sebenarnya. Di satu sisi, sang tokoh utama menggunakan kata-kata untuk sejenak mengalihkan diri dari dunianya yang penuh masalah. Serta di sisi lain, kata-kata juga merupakan modal utamanya untuk benar-benar melarikan diri dan pergi menjauh dari kehidupannya saat ini melalui studi jurnalistik yang ingin diambilnya selepas lulus SMA.

Karakter Carson Philips, mungkin sedikit merepresentasikan bagaimana pola pikir remaja saat ini. Ketika dalam Dead Poet Society sekumpulan remaja mulai berpikir untuk mendobrak sistem yang ada ditengah lingkungannya. Pemuda semacam Carson justru terkesan tidak peduli karena masih disibukkan dengan hal-hal delusional tentang ‘kehidupan yang lebih baik’.

Mungkin ini yang dikatakan Dr. Nathan DeWall, seorang profesor psikologi dari University of Kentucky, sebagai narcissism epidemic atau wabah narsisme. Dalam penelitiannya, DeWall menuliskan bahwa selama tiga dekade terakhir terdapat trend statistik yang cukup signifikan dalam budaya populer yang mengarah kedalam narsisisme dan munculnya sentimen kebencian. Meskipun dalam konteks penelitian ini budaya populer yang dimaksud lebih mengarah pada ranah musik. Tetapi jika mau dikaji lebih jauh, budaya populer lainnya seperti medium film juga berada pada kondisi yang tidak jauh berbeda.

Dramatisasi paling sederhana mungkin dapat ditemui dalam adegan ketika Carson akhirnya memutuskan untuk membuat majalah sastra sekolah. Motif awal untuk membuat majalah sastra pun lebih dikarenakan ambisinya untuk mendapatkan reward tambahan sebagai upaya untuk memuluskan jalannya menuju perguruan tinggi. Ketika akhirnya ia berhasil memaksa teman-temannya untuk berkontribusi untuk majalahnya, itu pun ‘hanya’ didasari dari sebuah ancaman yang membuat teman-temannya mau tidak mau turut membantunya dalam proses penulisan.

Meskipun masih dalam satu konteks yang sama tentang menyadarkan bagaimana menyenangkannya dunia penulisan. Apa yang dilakukan Carson memiliki motif yang murni untuk kepentingan pribadi. Tidak ada sedikit pun gagasan positif yang coba dibaginya tentang betapa menyenangkannya merumuskan sebuah majalah sastra bersama. Berbeda misalnya dengan apa yang Erin Gruwell lakukan dalam Freedom Writer yang akhirnya berhasil menumbuhkan kecintaan murid-muridnya dengan dunia penulisan secara lebih tulus. Meskipun dalam hal ini posisi Carson dan Erin sangat berbeda (Erin bertindak sebagai guru, sedangkan Carson murid SMA), tetapi setidaknya sebuah gagasan positif tetaplah harus dimulai dari sebuah pemikiran yang tidak hanya akan berputar pada satu individu semata.

Namun, apapun alasannya membandingkan satu film dengan film yang lain bukanlah sesuatu yang bijaksana. Apa yang lebih penting dari keduanya adalah ketika penonton dapat memaknai setiap pesan yang disampaikan secara lebih bijak. Berada dalam fase remaja bukan berarti melulu memikirkan masalah yang ada pada diri seolah-olah bumi hanya berputar dengan engkau sebagai porosnya.

Seperti apa yang akhirnya disadari oleh Carson di akhir hayatnya yang mulai menyadari bahwa menuruti apa yang ada di dalam diri saja tidak cukup. Apa yang akhirnya akan membuat dirimu merasa lebih baik adalah ketika keberadaanmu dapat bermanfaat dalam mengubah hidup orang-orang disekitarmu. Itu yang akhirnya akan dikenang sebagai sebagai hal-hal esensial yang mungkin sering terlewat dalam hidup. Joni Mitchell benar, menyadari sesuatu menjadi begitu berharga setelah engkau kehilangan atasnya selalu terjadi dalam hidup. Dan percayalah, itu sangat tidak menyenangkan. Especially when you finally realize what is really missing, is your own life. [Warning/Dimas Yulian]

20130418-110005.jpg
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response