close

Catatan Ziarah Metal : Metallica Live In Jakarta

event-image

Di kereta Gajah Wong tujuan akhir Pasar Senen, Jakarta, tiga orang lelaki – sekitar 30-40 tahun – duduk berdekatan di gerbong yang sama dengan saya. Percakapan cukup riuh terjalin di antara kami berempat tanpa diketahui awal dan akhirnya. Mereka bercerita soal bisnis yang akan mereka urus dan saya paparkan pula keinginan saya “ziarah metal” ke Stadion Utama Gelora Bung Karno. Sembari bercengkerama, salah satu dari mereka melontarkan pertanyaan: Nonton Metallica sendirian, Mas? Mau cari apa?

event-image

Sebagai Warga Negara Indonesia yang belum pernah menyaksikan aksi panggung Metallica secara langsung, jarak sekitar 560 kilometer tak menjadi halangan. Belum lagi, fakta mengatakan James Hetfield dkk terakhir tampil di Indonesia pada Juli 1993 dan berakhir rusuh. Setelah vakum 20 tahun di Tanah Air tentu kesempatan ini takkan dilewatkan dan tentunya kerusuhan tak ingin diulangi, atau wacana kehadiran Metallica hanya akan jadi dongeng.

Konser Metallica pada 10-11 Juli 1993 digelar di Stadion Lebak Bulus. Walau dengan harga tiket sekitar Rp 30.000 – Rp 150.000 (mahal pada era itu), jumlah penonton yang hadir pun membeludak. Sayang, pagelaran akbar dua hari itu berujung rusuh karena fans metal yang terlalu antusias harus berhadapan dengan pihak keamanan yang (over) reaktif. Suasana dalam stadion panas oleh lagu-lagu Lars Ulrich dkk, sementara di luar lagu histeria dan rasa takut yang berkumandang.

Sempat menolak saat ditawari main di Indonesia, akhirnya James Hetfield dkk memutuskan kembali ke Indonesia setelah 20 tahun berlalu. Kesempatan yang sangat langka tentunya dan tidak ingin saya lewatkan. Perjalanan dari Pasar Senen ke apartemen kawan saya pun dipenuhi imaji akan konser akbar tiap dua puluh tahun itu.

Just Before

Sejak pagi, layar kaca sudah menyapa dengan berita-berita live di GBK. Mereka menampilkan suasana padat menjelang penukaran konser. Waktu 20 tahun tidak mematikan antusiasme terhadap legenda metal ini. Dan saya pun memutuskan untuk berangkat saat matahari tepat di atas kepala, tak mau ketinggalan suasana antusias yang berkobar di sana.

Tiba di lokasi, masuk melalui RRI, ternyata suasana tak seperti yang digambarkan televisi. Suasana memang ramai, namun tidak sepadat yang saya pikirkan (dan televisi tayangkan). Jalan masuk ke area penukaran memang dipadati metalhead yang nongkrong, pedagang logistik, dan calo, tapi saat sampai di penukaran tiket saya tak perlu mengantri.

Membunuh waktu hingga open-gate, saya bertukar cerita dengan beberapa metalheads. Ternyata pada awal penukaran tiket hampir terjadi kerusuhan. Sebabnya, mungkin bisa dikatakan sebagai kekurangprofesionalan penyelenggara. Mereka yang mau menukarkan tiket dilempar-lemparkan hingga bolak-balik dari timur ke selatan. Beberapa pihak pun tersulut emosinya karena miskomunikasi itu. Beruntung suasana masih terkendali.

“Tadi ketika saya mengantri di pintu utama, saya disuruh ke gerbang merah, lalu di gerbang merah saya disuruh kembali kemari karena ternyata di sana tempat pembelian tiket. Suasana panas seperti ini jelas emosi mudah tersulut, kan?” ujar Rama, metalhead asal Solo.

Sisa waktu dua jam sebelum gerbang dibuka, saya menyambangi kawan saya di FX Sudirman yang juga dipenuhi fans Metallica.

The Show

Venue sudah dipadati para peziarah metal dan Arian 13 dari Seringai baru saja menutup aksinya. Kuartet tersebut memang ditunjuk jadi opening act Metallica hari itu. Mereka pun tak melewatkan kesempatan itu dan membawakan lagu cadas mereka seperti “Membakar Jakarta” dan “Serigala Militia”. Hanya saja kualitas sound yang dihasilkan belum diatur dengan benar, menimbulkan distorsi bising yang berlebihan di telinga.

Metallica langsung menunjukkan kelasnya. Mulai nomor pertama “Hit The Lights” dihentakkan, nuansa berenergi langsung mengobrak-abrik persepsi. Kualitas sound yang mereka hadirkan terasa begitu jauh kelasnya dibandingkan dengan Seringai. Layar LED utama yang didampingi LED besar di kanan kirinya langsung menampilkan sosok Ulrich, yang mengambil ancang-ancang menggebuk set drum guna menghimbau rekan-rekannya meneriakkan lagu pembuka itu. Belum lagi kondisi prima James Hetfield, Lars Ulrich, Kirk Hammett dan Robert Trujillo membuat performa mereka mendekati sempurna. GBK mulai bergetar tepat pada puku 20.25 WIB.

“Master of Puppets” jadi nomor selanjutnya. Tata lampu pun dimainkan makin variatif pada lagu ini, membuat para headbangers tak ragu untuk menghentakkan kepalanya. Kualitas legenda Metallica pun mendekati status sempurna seiring mereka melejitkan “Fuel”, “Ride The Lightning”, dan “Fade to Black”.

Di sela lagu, Hetfield sempat menyapa Jakarta,”Do you miss me, Jakarta? It has been 20 years and now we’re back!” Metallica Family pun langsung membalas sapaan itu dengan sorakan yang menggema. Dialog antara stage dan crowd pun berlanjut, sebuah dialog berkualitas yang amat menguras energi, seiring Metallica membawakan tembang selanjutnya.

Suasana crowd di Festival B malam itu sungguh tanpa ampun. Seiring legenda metal membawakan “The Four Horsemen”, “Cyanide”, dan “Sanitarium”, kerumunan semakin memanas. Mereka yang awalnya hanya ber-headbang­-ria mulai keluar dari zona aman dan melakukan moshing. Pergesekan tak terhindarkan dan benturan keras mulai terasa, namun tak ada kerusuhan karena malam itu semua adalah saudara di bawah naungan Metallica. “Sad But True” dan “Orion” pun mereka lantunkan tanpa jeda.

Lampu di stage tiba-tiba padam. Suasana seketika menjadi hening. Para metalheads pun bertanya-tanya, mungkinkah terjadi kesalahan teknis? Karena GBK hanya diterangi cahaya bulan malam itu. Tiba-tiba terdengar suara helikopter. Suara ini tampak begitu nyata hingga beberapa orang terlihat ndangak ke atas, mencari sumber suara. Tiba-tiba, suara tembakan, ledakan, dan suasana perang pun menguar di udara. Tahulah kami, ini merupakan bagian kecil dari aksi panggung mereka, “One” pun berkumandang, dan merasakan sensasi seperti itu secara langsung sungguh tidak biasa –mengingat bahwa mereka sudah melakukannya berkali-kali dan merekamnya dalam DVD.

“For Whom the Bell Tolls”, “Blackened” jadi madah beruntun yang Hetfield dkk raungkan. Auman metal yang penuh energi pun sedikit mendingin ketika “Nothing Else Matters” dilambungkan. Sedikit istirahat setelah hampir dua jam penuh ‘menari’.

“Jakarta, can you feel it? I know you can hear it, I know you can see it. But, can you feel it? Do you feel what I feel? “ ujar frontman band cadas asal California, AS , itu. Hetfield sedikit berdialog secara wajar hingga akhirnya, Metallica mengaumkan “Enter Sandman” dan kembali mengambil alih kesadaran penonton serta meninggalkan panggung sesudahnya.

Surprise (?)

Panggung sempat vakum, lighting dimatikan, namun energi masih belum habis. Fans Metallica secara serentak bersorak: We want more! Ucapan itu mereka ulang berkali, kali, seperti berdoa, memohon doanya dikabulkan. Alhasil, dewa yang hadir malam itu langsung kembali mengokupasi panggung. Lighting kembali menyala dan “Creeping Death”, “Fight Fire with Fire” pun mendarat di GBK sebagai encore.

Wajar jika fanatisme di dunia metal mengarah pada Metallica. Balutan musik yang serius dalam komposisi lagu, produksi panggung, produksi suara, dan konsistensi selama puluhan tahun telah membesarkan mereka dan membuat mereka tetap menjadi besar. Di saat musik pop dan K-pop plus menye-menye merajalela di Indonesia, Metallica tetap bertahan di papan atas. Jelas ada kerja keras, totalitas, dan dedikasi luar biasa di sana, yang tanpa disadari telah menancapkan pasak metal di hati para penggemarnya.

Senda gurau sempat mewarnai GBK malam itu. Lewat bahasa tubuh, Hetfield meledek para penggemar, memperlihatkan tingkah unik seolah-olah kesibukannya tak bisa ditolerir dan ingin segera tidur. Metalheads pun tak mau kalah dan terus meneriakkan “We want more!”. Bukannya menyerah dan langsung main, Hetfield justru nyeleneh dan memakai gitar, melepas, memakai, memancing emosi penonton dengan ekspresinya yang kocak pula.

Sambil tertawa, Hetfield pun kembali berpidato,” You’re beautiful Jakarta!” dan memakai kembali gitarnya, diikuti rekan lainnya yang menduduki posisi masing-masing.

“Seek and Destroy” pun langsung membakar GBK, pergerakan tanpa lelah para penggemar pun seperti mengalami peningkatan. Seolah-olah mereka tahu bahwa Metallica meminta mereka menghabiskan sisa energi mereka.

You’re great Jakarta! We’ll come back soon! We won’t wait for another 20 years! You’re great Jakarta!”

Malam yang beringas dan berkelas. Saya rasa saya sudah mendapatkan apa yang saya cari malam itu. Teringat pada diskusi kecil di Gajah Wong malam sebelumnya,”Mau cari apa?” Saya sudah tahu dan mendapatkan apa yang saya cari dari Metallica malam itu. Tak salah ketika malam sebelumnya saya jawab pertanyaan bapak itu: Datang dan rasakan! (Warn!ng/Yudha Danujatmika)

 

Event by : Blackrock Entertainment

Date : 25 Agustus 2013

Venue : Stadion Utama Gelora Bung Karno

Man of The Match : Kualitas sound, aksi panggung, tema, plot musik : SEMPURNA!

Warn!ng Level  : •••••

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.