close

Art Review

CEK KONEKSI! di Pameran Asana Bina Seni 2020: “Your Connection Was Interrupted”

[Doc. ABS] Area Pameran1 2

Pameran Asana Bina Seni 2020 dengan tajuk “Your Connection Was Interrupted” mengail koneksi dan interupsi seumpama sengkarut mata kail dan umpan, memancing manusia untuk memulai refleksi tentang hubungan atau komunikasi dengan sesamanya, sejarah, budaya, dan lingkungan. Dengan mempertanyakan kembali kondisi hubungan antar manusia, memancang ruang yang semula berhimpitan, dan mengambil jarak dari situasi yang ritmis serta berulang-ulang, koneksi yang terinterupsi akan melahirkan benturan dan pertentangan. Justru dari apa yang bertentangan dan saling berbenturan tersebut, ironisnya hal-hal demikian yang terus menerus membuat manusia memiliki energi untuk berdialog, tumbuh, dan hidup.

Pameran ini diselenggarakan oleh Yayasan Biennale Yogyakarta sebagai presentasi hasil kolaborasi kelas-kelas dalam program Asana Bina Seni 2020, yakni Asana Bina Seni Seniman, Asana Bina Seni Kurator, Asana Bina Seni Kolektif, dan Seniman Panggilan Terbuka Karya Normal Baru. Pameran berlangsung dengan protokol kesehatan yang cukup ketat. Pengunjung terpaksa dibagi menjadi 3 sesi; sesi pertama pada pukul: 10.00 – 12.00, kedua pada 12.30 – 14.30, yang ketiga pada pukul: 15.00 – 17.00 , setiap sesi dibatasi maksimal sampai 30 pengunjung. Tenang, pemilihan venue Taman Budaya Yogyakarta yang luas sangat tepat karena memberikan ruang yang aman bagi para pengunjung. Pameran ini berlangsung sampai dengan 18 November 2020 di Taman Budaya Yogyakarta.

Asana Bina Seni merupakan program dari Yayasan Biennale Yogyakarta berupa kelas-kelas yang mempertemukan para peminat di bidang produksi kesenian terutama seni rupa. Kelas Asana Bina Seni 2020 sendiri sudah berjalan sejak Maret lalu, meskipun intensitas pertemuan terpaksa kerap dilakukan via daring, namun proses jejaring dan kolaborasi tetap mampu dilaksanakan.

Dalam sesi sambutan pembukaan Pameran Asana Bina Seni 2020, Alia Swastika selaku Direktur Eksekutif Yayasan Biennale Yogyakarta menuturkan bahwa untuk menjadi seniman professional, kurator professional, atau pekerja seni professional seperti manajer, penulis, kritikus, dan jurnalis dibutuhkan platform bersama yang mempertemukan semuanya. Asana Bina Seni mungkin menjadi bagian dari usaha untuk mempertemukan orang-orang dengan ketertarikan untuk mempelajari lebih lanjut tentang kuratorial, menjadi seniman professional, dan terutama melatih berjejaring dan berkolaborasi.

Terang bahwa Asana Bina Seni adalah upaya YBY untuk mendukung terciptanya ekosistem seni rupa yang berkelanjutan di Yogyakarta. Tak berlebihan jika Asana Bina Seni adalah salah satu mekanisme pendidikan alternatif seni rupa yang memungkinkan masyarakat umum  tertarik dan belajar tentang kerja-kerja produksi seni rupa, berjejaring dan berkolaborasi. Seiring dengan intensitas berjejaring dalam kelas-kelas Asana Bina Seni maka tak heran sajian pameran dan karya-karya yang dipresentasikan oleh 15 seniman dan 4 kurator dalam Pameran Asana Bina Seni 2020 memiliki corak sendiri yaitu, karya yang luwes dalam berinteraksi dengan pengunjung.

Sebut saja karya yang ditampilkan oleh Benggala Project yang melakukan kirab mundur sampai pada presentasi arsip zine dan persuasi penerbitan mandiri dari Kolektif Indisczinepartij. Dari situ bisa disimak jalinan atau kelindan yang interaktif sejak sebelum pameran sampai pada pameran berlangsung. Belum lagi karya dari Riyan Kresnandi bertajuk “Reconnected Acces Memory” yang mampu berbicara banyak menyoal narasi-narasi yang dimarjinalkan. Narasi yang terpinggirkan seperti karya-karya yang pernah disensor, dilarang, dibakar, dan sebagainya; dikonversi ke dalam museum virtual dalam permainan Minecraft. Internet sebagai media yang baru memang belum terbebas dari risiko perusakan dari manipuasi kuasa — dalam hal ini negara, namun setidaknya memberikan peluang bagi narasi yang termarjinalkan untuk tampil di ruang yang baru. Sekali lagi, koneksi dan interupsi terus berjalinan namun sumber energi untuk tetap terhubung malah semakin menyala, tumbuh dan tetap hidup. Pertentangan dan benturan-benturan melahirkan jalan dan dialog yang terbarukan. (Galih Fajar)

foto: istimewa

read more