close

[Movie Review] Chappie

Chap-1

Director           : Neil Blomkamp

Cast                 : Sharlto Copley, Hugh Jackman, Sigourney Weaver, Dev Patel

Durasi              : 120 menit

Studio             : Columbia Pictures

chappie
chappie

Selalu ada substansi yang lebih mendalam dari setiap film garapan Neil Blomkamp. Selain itu, pengemasan yang unik dari setiap filmnya juga menekankan nilai estetika tersendiri. Mudahnya, tonton saja District 9, debut penyutradaraan Neil Blomkamp itu berhasil meraup sukses baik dari kalangan kritikus ataupun secara komersil. Terdapat rasa kesederhanaan dalam penyampaian kritik isu-isu sosial dalam karyanya, tanpa mengurangi keunikan film itu sendiri. Lalu datanglah Elysium. Bersama film keduanya itu, reputasi Neil Blomkamp sebagai hybrid antara sutradara film sci-fi dan aktivis yang sadar sosial politik, terutama di Afrika Selatan, semakin dipatenkan. Tema-tema seperti pemisahan kelas, kriminalitas, dan segala permainan kotor korporasi masih juga diusung di film ketiganya, Chappie.

Berlatarkan kota Johanesburg, pihak kepolisian mengerahkan pasukan robot yang ditugaskan untuk memberantas kriminalitas yang semakin tinggi. Strategi ini terbukti sukses. Polisi banyak menggrebek operasi-operasi kriminal besar dan perusahaan manufaktur robot tersebut, Tetra Vaal, meraup keuntungan yang besar. Orang di balik seluruh kesuksesan ini adalah Deon Wilson (Dev Patel), sang inventor. Selain karyanya untuk Tetra Vaal, Deon memiliki proyek sampingan untuk mengembangkan kecerdasan buatan yang mampu menyamai kemampuan manusia untuk menunjukkan emosi dan beropini.

Sial bagi Deon, saat ingin mengujinya pada satu unit robot yang akan dihancurkan, ia diculik oleh Ninja, Yolandi, dan Amerika. Mereka bertiga memaksa Deon untuk memprogram ulang robotnya untuk membantu mereka dalam melakukan berbagai tindakan kriminal. Panik, Deon terpaksa mencoba program barunya ke dalam robot yang ia bawa. Saat itu pula Chappie (Sharlto Copley) lahir. Dari sinilah cerita mulai menarik.

Chappie sendiri terasa jauh berbeda dibanding dua film Blomkamp sebelumnya. Chappie yang lahir di lingkungan yang kurang ideal harus berkutat pada krisis eksistensinya. Berbekal kepolosan bocah, Chappie terombang-ambing atas kepercayaannya kepada Deon, yang ia anggap sebagai pencipta dan Ninja sebagai figur ayah yang kasar. Kedua karakter ini yang menjadi titik ekstrim dalam pilihan hidup Chappie. Namun, keduanya mendekati Chappie dengan cara yang sama, berbohong. Sementara Yolandi sendiri hadir sebagai poros netral yang melimpahkan seluruh perhatiannya kepada Chappie. Tumbuh kembang Chappie yang singkat ini menjadi inti cerita film secara keseluruhan. Komedi dan geliat Chappie yang konyol juga menjadi nilai tambahan.

Sayangnya, Blomkamp kurang fokus pada sisi ini. Ia justru memadatkan ceritanya dengan isu sosial politik yang sudah usang untuk dibahas. Terutama setelah ia mengeksploitasinya dalam dua film sebelumnya. Contohnya saja karkater Vincent Moore (Hugh Jackman) dengan segala gejala xenophobia yang ia tunjukkan. Karakter itu sesungguhnya tidak signifikan terhadap garis besar cerita. Begitu pula dengan karakter Michelle Bradley (Sigourney Weaver), pemilik Tetra Vaal. Karakter-karkater yang tidak penting seperti ini yang membuyarkan narasi Chappie.

Chappie seharusnya terasa seperti Boyhood untuk kaum droid yang diiringi musik rap-rave dari Die Antwoord. Seharusnya pula ada kegembiraan tersendiri ketika menontonnya, kegembiraan yang sama ketika pertama kali menonton Pacific Rim. Kegembiraan ketika anda menonton sebuah film yang terlihat sepele, namun sebenarnya memiliki kedalaman cerita yang patut diapresiasi. Lewat Chappie, Neil Blomkamp hanya berhasil mencapai salah satunya. Namun, di samping segala kekurangannya, tak dapat dipungkiri Chappie adalah bukti nyata dari pemikiran unik Neil Blomkamp, meski terkadang eksekusinya terasa kurang matang. Semoga saja hal ini tidak terjadi lagi ketika ia menggarap film kelima dari franchise Alien.[WARN!NG/Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response