close

Chick and Soup : Eksplorasi Ringan dalam Senandung Riang

IMG_6948
chick and soup
chick and soup

Chick and Soup yang difilosofikan sebagai sesosok tokoh sederhana yang masih gemar bermain dan mengeksplorasi banyak hal membuat mereka percaya diri mendendangkan nada-nada ringan yang mudah untuk disantap oleh telinga berbagai kalangan

Wawancara oleh : Made Darma & Dadan Ramadhan

Chick and Soup adalah Nikolas Nino, Margaretha Danastri dan Gusti Arirang. Trio pop-folk asal Jogja ini lah yang hadir ke hadapan publik tanpa target muluk-muluk untuk dapat dikenal seperti saat ini. Membawa lantunan nafas semangat baru menjadi kutipan kata yang tepat yang mewakili musik yang mereka suguhkan. Hal tersebut dapat tercermin ke dalam kata-kata yang dipilih oleh Chick and Soup dalam menghiasi debut karya-karya mereka. Meskipun menyajikan tema dan musikalitas yang sederhana, hal itu tak tak serta merta menyurutkan animo para penikmat musik ketika mendengarkan nomor-nomor ear catching semacam “Jadi Siapa Hari Ini”, “Chicken With the Bubble Gun”, “Favorite Afternoon” dan “Lusi Bermimspi”.

Bulan September lalu, album Singgah yang berisikan delapan nomor diluncurkan melalui mini konser yang digelar di Matchamu café Jogja. Atmosfer nyaman terasa ketika hadir ke pesta rilisan tersebut, makna singgah yang diinterpretasikan sebagai analogi rumah sangat tepat adanya ketika kesan riang dan akrab dihadirkan saat menyambut para tamu. WARN!NG mendapat kesempatan mencegat mereka di tengah kesibukan dari hilir mudik panggung-panggung kampus, sekaligus berkenalan lebih dekat dengan Chick and Soup yang diketahui merupakan teman semasa sekolah dulu yang dikumpulkan atas inisiasi Nino.

Mengapa nama band ini Chick And Soup, bukan Chicken Soup?

Nino: Nama band ini bermula ketika aku dan Dana melihat sebuah buku yang sama. Nama awalnya pun seharusnya Chicken Soup. Mengapa menjadi Chick And Soup adalah karena terjadinya sebuah salah cetak nama pada flyer acara perdana kita. Jadinya kita yang mengalah [tertawa].

Bagaimana formasi awal grup ini terbentuk dan mengapa memilih konsep folk yang menggunakan pianika yang notabene jarang digunakan oleh grup musik di Indonesia?

Nino: Semua ini berawal dari aku dan Dana yang suka jamming bareng. Ketika itu kami belum mempunyai nama. Pada akhirnya kami mengajak Gusti untuk ikut mengisi grup ini. Kebetulan kami semua mantan teman sekolah, aku dan Dana adalah teman SMA, lalu aku dan Gusti adalah teman SMP.

Dana: Dulu awal kami masih jamming berdua, konsepnya adalah Nino bermain gitar dan aku bermain keyboard. Nah, tapi keyboard kan besar nih, dan kalau kita mau bermain kita suka bingung bagaimana membawa keyboardnya dan lama-lama malas juga. Lalu Nino mengusulkan menggunakan pianika milik adiknya dan akhirnya kita cocok menggunakan itu. Lucu juga ternyata.

Dibandingkan memakai konsep full band yang menggunakan drum, mengapa kalian lebih memilih formasi yang minimalis dengan hanya menjadi trio?

Gusti: Sebelumnya, kita tidak ada keinginan lebih untuk menjadi serius, yaitu menjalani dengan apa adanya. Namun, baru belakangan ini kita menyadari kalau kita membutuhkan additional player karena ketika kita main di panggung besar terkesan sepi sekali. Di awal kami terbentuk pun kami tidak menggunakan glokenspiel, tetapi guitalele. Lalu, Nino iseng membeli glokenspiel dan akhirnya kita putuskan untuk memakai itu saja.

Berapa lama proses songwriting kalian?

Nino: Kita sudah mulai menulis sejak 2012 dan kami biarkan mengalir saja apa adanya. Kebanyakan berasal dari keisengan yang kita coba dengarkan kepada teman-teman kita yang kemudian diteruskan menjadi sebuah lagu utuh. Untuk penulisan lirik, kami saling mengisi. Biasanya salah satu dari kita mengajukan sebuah tema dan seiring waktu kita perluas lagi isinya.

Saya lihat, di album kalian, terdapat sebuah tema yang agak janggal bagi saya, yakni seekor ayam, dari beberapa judul lagu kalian. Apa yang menyebabkan kalian memilih ayam sebagai tokoh album kalian? Apakah seekor ayam ini merupakan sebuah representasi dari kalian yang mencoba sederhana?

Gusti: Mungkin memang benar seperti itu. Seekor anak ayam sangat simple sekali. Sesuai yang sudah diceritakan sebelumnya, bahwa kita sangat mengalir apa adanya, termasuk dalam proses songwriting sejak 2012 sampai 2015. Sebelumnya, kita tidak punya sebuah tema yang spesifik, tetapi lagu-lagu yang kita buat bertema nuansa yang sama. Maksudnya adalah tema lagu kita adalah tentang kehidupan sehari-hari, serta hal-hal yang sepele, seperti anak ayam dengan pistol bubble atau Lusi yang sedang bermimpi. Jadi album Singgah ini mencoba merumahkan lagu-lagu yang bertema sama itu tadi. Lalu anak ayam ini tadi menjadi sebuah simbolisasi dari kita yang apa adanya, dan sederhana.

chick and soup
chick and soup

Apakah lagu “Lusi Bermimpi” memiliki keterkaitan dengan lagu “Lucy In The Sky With Diamonds” milik The Beatles? Karena kedua lagu ini memiliki tema yang sama.

Nino: Sebenarnya tidak. Di lagu itu aku yang menulis lirik dan nama Lusi keluar begitu saja. Ketika itu aku berusaha mencari nama yang sekiranya mudah diucapkan. Tokoh ini pun merupakan tokoh imajinatif. Lalu jika membicarakan The Beatles, kami semua menggemari The Beatles dan mungkin itu ikut menginspirasi di alam bawah sadar kita.

Gusti: Karena nama Susi sudah dipakai judul lagu oleh Melancholic Bitch. [tertawa]

Pada kredit album kalian, di bagian executive producer, terdapat nama Djaduk Ferianto. Seberapa besar peran beliau dalam proses songwriting kalian?

Dana: Beliau tidak ikut mengurusi proses songwriting kita, justru di bagian produksi serta memberi advice tentang bagaimana bermain live. Justru Om Gendel, sound engineer kita, yang memberi intervensi pada proses songwriting kita. Lagu terakhir yang kita masukkan ke album adalah lagu “Amplop”, dan proses finalnya lagu itu kita selesaikan di studio dibantu dengan Om Gendel.

Bagaimana dengan strategi promo album kalian?

Gusti: Strategi promo kami masih banyak menggunakan media sosial. Untungnya lagi, teman-teman kami banyak yang membantu dengan suka rela menyebarkan lagu kita. Kami diundang main di Bandung pun berkat bantuan teman-teman dan itu adalah pertama kali kita main di luar Jogja.

Ceritakan lebih banyak tentang konser di Bandung. Apakah kalian mendapat animo yang sama dengan yang kalian dapatkan di Jogja?

Gusti: Bandung adalah panggung pertama kita di luar kota. Kemarin aku baru saja mengobrol dengan temanku, aku rasa penonton di Bandung atentif, mereka hanya diam dan memperhatikan saat kita bermain. Temanku pun bilang bahwa penonton di Bandung seperti itu. Aku pribadi jadi ikut bingung, apakah diamnya mereka adalah indikasi yang bagus apa bukan untuk kita. Tapi sebenarnya asyik sih di Bandung, sambutan saat kita di backstage juga bagus.

Saya perhatikan Instagram kalian sangat aktif sekali. Apa yang membuat kalian memilih Instagram sebagai medium ujung tombak kalian dalam mempromosikan musik kalian di media sosial?

Gusti: Sebenarnya kita memiliki seorang teman lagi di dalam tim kita yang bernama Yuda. Yuda ini hobi dan biasa memfoto kita dan dia juga memegang akun instagram kami tapi sayangnya dia sudah ada kegiatan lain sekarang. Salah satu alasan lain, aku kira adalah supaya wajah kita kelihatan semua dan mudah dikenali orang.

Dalam menyimak beberapa lagu di album Singgah, saya mendapati beberapa bagian kurang rapi . Biasanya di dalam dunia perekaman, banyak musisi mencoba terlihat sesempurna mungkin dengan menggunakan overdub untuk menutup atau menggantinya. Apa yang menyebabkan kalian membiarkan beberapa bagian kurnag rapi ini, mengingat sound engineer kalian adalah Om Gendel?

Dana: Biasanya sewaktu kita perform live pun kita suka ada miss seperti itu juga, dan selama rekaman juga kita banyak melakukan miss seperti itu. Om Gendel lalu memberi saran kepada kita untuk membiarkan apa adanya seperti itu.

Nino: Pertama kita masuk studio untuk rekaman juga kita berpikiran untuk menambah instrumen. Tetapi, Om Gendel bertanya kepada kita bagaimana dengan pertanggungjawaban kami ketika live, apakah bisa melakukan itu dengan hanya bertiga? Lalu ya kita biarkan seperti ini saja, dengan alasan biar lebih terlihat indie-nya. [tertawa]

Gusti: Ah, dan pada lagu “Selamat Malam”, kami juga disarankan untuk bermain tanpa metronome supaya terlihat lebih natural.

chick and soup
chick and soup

Berapa lama proses rekaman kalian di studio?

Gusti: Semua dikerjakan di Kua Etnika. Semua lagu direkam cepat sekali, kurang lebih selama 4 sampai 5 hari, tapi proses mix dan masternya yang lama.

Ada sedikit bocoran mengenai rencana kalian ke depan?

Dana: Kita mempunyai instrumen baru, kita pakai ‘mainan’ baru tersebut ketika perform di Lelagu kemarin.

Gusti: Karena kita mempunyai ‘mainan’ baru, kita juga kurang tahu apakah kita akan tetap mem-folk seperti ini atau berubah.

Apa sih ‘mainan’ baru kalian ini?

Dana: ‘Mainan’ kita ini adalah sebuah keyboard kecil yang memang terlihat seperti mainan tapi punya banyak efek di dalamnya.

Gusti: Kemarin kita pakai di lagu “Chicken With A Bubble Gun” dan terkesan outer space, sampai teman kita bilang ke kita, “Wah sekarang Chick And Soup menjadi Chick In Space.”

Jadi kalian sampai saat ini juga tetap berprogres dan bereksperimen terhadap hal baru ya?

Nino: Ya, dan mulai sekarang lagu kita pada saat live tidak akan sama persis lagi dengan yang di album.

Gusti: Karena lagu kita di album, menurut kita, itu sangat sederhana sekali. Seperti pada melodinya seharusnya masih bisa dieksplorasi lagi dan juga instrumennya.

Di Lelagu kemarin, pada lagu terakhir, kalian melakukan sebuah cover dari Little Joy. Apakah mereka sebuah influence bagi musik kalian?

Gusti: Sebenarnya kita baru mendengarkan lagunya akhir-akhir ini atas rekomendasi teman. Ternyata, musiknya hampir searah dengan kita. Jadi kita kepikiran untuk membawakan lagu itu kemarin.

Adakah rencana untuk tur? Saya kira tur adalah salah satu cara yang bagus untuk melakukan sebuah promo selain hanya lewat media sosial.

Dana: Kami ingin sekali untuk tur promo album. Tapi kita masih punya satu kendala sebagai mahasiswa akhir semester, yaitu skripsi.

Sarapan musik:

Nino: The Adams – “Hanya Engkau”

Gusti: Aku lagi banyak mendengarkan Glass Animals

Dana: Selama musim hujan ini aku banyak mendengarkan Birdy – “White Winter Hymnal”, yang merupakan cover dari Fleet Foxes.

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response