close

Christabel Annora: Melankolia Itu Keras Kepala

Insta-image
Foto Hendisgorge

 

Suaranya tak bisa ditebak; terkadang memecah kesunyian, memendam bara perasaan, hingga meletupkan asa penantian. Jemarinya meliuk lincah di sekitar altar berbentuk bongkahan balok kecil hitam dan putih. Membentuk konfigurasi nada yang memantulkan kebahagiaan maupun kesedihan. Pribadinya tak perlu keramaian yang tersamarkan riak kemeriahan. Karena yang ia butuhkan hanya perkakas keyboard guna menerjemahkan suasana sekitar sekaligus menemani langkah berjalan.

Christabel Annora, begitu namanya sering disebut. Identitasnya lahir mewarnai kanvas musik independen dewasa ini. Di tengah pusaran arus genre yang begitu-begitu saja, ia membawa rona mencerahkan; melantunkan melodi melankolia dari instrumen klasik. Ada aura kesenduan serta kemenangan yang bersanding sejajar. Seolah menunjukan ia tak ingin terjebak dalam definisi kebingungan.

Dibesarkan di daratan Malang—kota yang geliat kancahnya mulai mencuri perhatian—Christabel mengenal dunia musik sejak usia belia. Adalah sosok sang kakek dan ibunya yang berandil besar mempertemukan Christabel dengan harmoni-harmoni indah. Didorong rasa ingin tahu yang meluap, Christabel mulai menekuni keyboard secara intensif. Mengambil kursus, menelusuri partitur, serta menjelajahi pola permainan yang sistematis.

Laiknya suatu ekspedisi, Christabel melakoni proses bermusik yang berkesinambungan. Ditempa dari satu gigs ke gigs yang lain sembari memperkenalkan kompetensinya ke khalayak ramai. Houtenhand Malang menjadi saksi bagaimana Christabel memperkuat lapisan pesona dengan rutin mengisi gelaran di sana. “Aku mulai tampil rutin di Houtenhand. Bisa dibilang tempat itu mempunyai pengaruh besar dalam proses bermusik. Terlebih ketika Houtenhand punya gaya tematik di setiap konser. Tiap minggu dateng dengan tema yang berbeda. Jadi, aku bisa bawain jazz, pop, sampai klasik,” papar Christabel.

Keinginannya untuk menyeriusi fase bermusik semakin tak tertahankan. Sekitar awal tahun 2014, ia merekam materi-materi yang tersimpan dalam arsip memorinya. Namun, upaya tersebut memerlukan waktu yang tak singkat. Tercatat, Christabel membutuhkan durasi selama 2 (dua) tahun agar keseluruhan ide di kepalanya berhasil dituangkan. Faktor kesibukan pekerjaan serta tuntutan menuntaskan kewajiban akademis merupakan kendala utama di samping pencarian momentum yang positif.

Meski demikian, penantian Christabel terbayar tuntas. Album penuh perdana yang bertajuk Talking Days akhirnya lepas ke pasaran di tahun 2016. Talking Days membuktikan mengenai karakter Christabel yang berani dan menuntun pada wujud otentik dalam penyatuan cipta. Ia tak segan menyerap beragam aliran, menggodoknya, lantas menyajikan dengan metafora yang kuat. Walaupun tak jarang sikap otokritik ia pasang agar marwah keseimbangan tetap terjaga senantiasa.

Semua komposisi yang terdapat di Talking Days—kecuali trek “Desember” milik Efek Rumah Kaca—ia rangkai sendiri seperti lokomotif cerita kala senja. Mengurai serabut jazz pada “Satu”, melantangkan teriak bluesy di “Rindu Itu Keras Kepala”, menghentak solo panjang melalui “Inside Your Unconscious Mind”, sampai menghujam atensi “Sunshine Talks” yang atraktif.

Petualangan Christabel Annora tak berhenti sampai intimasi Talking Days belaka. Selepas embrio album ditelurkan dan aktifitas tur diselesaikan, visi selanjutnya menanti di bayang-bayang imaji; mencetuskan album kedua dan tekad menyelenggarakan konser tunggal. “Untuk album kedua sebenernya sudah berbentuk materi kasar, tinggal memoles saja. Bagaimana formatnya nanti, akan ada kejutan. Lalu setelah itu pengennya sih ngadain konser tunggal dengan teman-teman di Talking Days. Semoga bisa,” ujar Christabel kepada WARN!NG. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response