close

(Classy) Short Trip Around The World

20130521-005041.jpg
GMCO  © Warning
GMCO © Warning

Sibuk dan dingin, itulah suasana yang sekiranya menyelimuti Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Sabtu malam (18/5). Tiga acara digelar bersamaan di area ini. Namun, kesibukan itu tidak memudarkan daya tarik concert hall yang begitu berwarna malam itu. Ya, Grand Concert vol. 3 bertajuk “The World in Theatre” digelar oleh Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO) di sana pada malam yang gerimis.

Satu hal yang menarik, konser orkestra yang mengusung lagu-lagu soundtrack all over the world ini dikemas dalam sebuah perjalanan keliling dunia. Diawali dengan blackout, GMCO langsung membuka rangkaian perjalanan dalam suasana mistis dengan overture Kuja’s Destiny”. Kemudian, “Mengejar Matahari” menjadi penegasan bahwa perjalanan dimulai dari Indonesia. Bersama Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Kehutanan Universitas Gadjah Mada, GMCO menampilkan kolaborasi nan megah, pertanda bahwa perjalanan telah dimulai.

Setelah berangkat dari Indonesia, mereka membimbing para penonton ke tujuan pertama kita dalam perjalanan keliling dunia ini, yaitu negeri tirai bambu, China. Lalu dengan hetakan konduktor, lagu “Hero” seketika mengubah suasana menjadi ‘bambu’. Lagu yang merupakan original soundtrack dari film “Kung Fu Panda” ini sukses mendaratkan kita di negeri China yang indah. Perjalanan pun berlanjut ke negeri ginseng Korea. Dipandu oleh dua orang Violinist, Danu Kusumawardhana dan Rani Wijayanti, perjalanan ke Korea terasa begitu menggetarkan.

Selepas dari daratan timur, teater ini melesat jauh ke barat menuju ke Eropa. Sebuah negeri yang sangat indah untuk pertama dikunjungi, Austria. Melalui lagu komposisi jenius dari Johann Strauss II berjudul “The Beautiful of Blue Danube” (A Space Odyssey) para awak GMCO memperkenalkan kita kepada daratan Eropa yang indah tercermin dalam alunan nada-nada klasik yang menawan. Diiringi dua orang penari latar, menambah suasana sempurna dalam pendaratan pertama di benua Eropa ini.

Melanjutkan perjalanan di benua Eropa, Perancis sangat patut untuk menjadi tujuan. Ada yang berbeda di destinasi kali ini, seorang penyanyi dengan talenta luar biasa, Lea Simanjuntak diundang untuk naik ke atas panggung. Animo penonton pun seketika meningkat, tampak dari tepuk tangan yang meriah ketika beliau berjalan ke atas panggung. Tepuk tangan di awal suasana pun terbayar, Lea menghanyutkan penonton dalam suasana Paris melalui original soundtrack dari film “HUGO” yang berjudul “Coeur Volant”. Setelahnya, sesi pertama ditutup dengan lagu dari film “The Adventure of Tin Tin”.

Setengah jam berlalu, konser kembali dimulai, kali ini penonton dilemparkan menuju daratan Amerika Selatan dengan memainkan medley dari soundtrack “Marimar”, “Carita de Angel’, dan “Amigos X Siempre”. Tanpa diduga, destinasi perjalanan kembali lagi ke Timur, menuju Jepang, bersamaan dengan dimainkannya “Totoro Theme” dari Tonari no Totoro. Tak berhenti sampai di situ, perjalanan ke Asia berlanjut ke India dengan suguhan “Bole Chudiyan” dengan funk fussion beat style yang mengajak penonton untuk bergoyang.

Selesai dengan urusan di Asia, kini kita diajak berkunjung ke negeri paman Sam. Kali ini sang bintang tamu hadir lagi di tengah-tengah panggung, yakni Addie MS. Didaulat sebagai kapten kapal dalam perjalanan mengelilingi daratan Amerika, lagu dari OST “The Extra Terresterial” menjadi alunan penghantar jalan-jalan kita di sini. Perjalanan dilanjutkan dengan soundtrack Armageddon dari Aerosmith berjudul “I Don’t Wanna Miss A Thing” yang dibawakan bersama Lea Simanjutak. Kolaborasi antara Addie MS dan Lea di panggung, berhasil menyajikan lagu rock lawas ini dengan megah.

Kembali lagi ke Indonesia, dengan perasaan gembira setelah berkunjung ke negeri orang. Kita diingatkan kembali akan keindahan negeri sendiri. Sebuah soundtrack dari film “Laskar Pelangi” berjudul “Tak Perlu Keliling Dunia” komposisi dari Erwin Gutawa dan Mira Lesmana, seakan membawa kita pada penghayatan alam sendiri yang juga tak kalah luar biasa.

Bersamaan dengan itu, usailah sudah perjalanan keliling dunia malam ini. “Sebuah sajian yang sangat berkelas, saya akan datang lagi tahun depan”, ujar Luthfi yang hadir malam itu. Ditengah beranjaknya para penonton, secara mengejutkan para awak GMCO kembali memainkan sebuah lagu sebagai encore. Lagu “Bole Chudiyan” dimainkan kembali untuk pula mengadakan sesi foto yang sudah menjadi tradisi manusia modern sekarang. Sebuah tontonan yang luar biasa.

Sayangnya, dalam konser orchestra kali ini, combo section yang terdiri dari bass, gitar, dan drum terlalu mendominasi. Suara yang keras pun cenderung “memudarkan” suara instrumen lain. “Lebih baik lagi kalau combo section-nya diisolasi dengan kotak acrylic, agar suaranya tidak mangan instrument lainnya,” ujar Yosi yang turut hadir dalam perjalanan keliling dunia malam itu. Kendati begitu, konsep yang sungguh unik dan indah dari konser GMCO kali ini patut diacungi jempol. Bagi Addie MS yang malam itu menjadi guest conductor pun, keberadaan orkestra di tengah mahasiswa non musik benar-benar luar biasa. “Di Indonesia, merupakan hal yang luar biasa jika sebuah orkestra bisa bertahan hidup. Apalagi jika orkestra tersebut merupakan orkestra mahasiswa,” ujarnya. (WARNING/Bayu-Yudha)

Event By : GMCO (Gadjah Mada Chamber Orchestra)

Date : 18 Mei 2013

Venue : Taman Budaya Yogyakarta

Man Of The Match : Perpaduan lintas kultur di kota multikultur, Jogjakarta

Rating :•••

GMCO feat Lea Simanjuntak  © Warning
GMCO feat Lea Simanjuntak © Warning

Foto – Foto konser ini bisa dilihat di -> Grand Concert vol 3

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.