close

[Album Review] Scaller – 1991

a2908175164_10

 

1991 © Warning

 

What : 1991 

Label : Demajors

Genre : Alternative rock, Grunge, Folk

Watchful Shot : Live and Do, MIB: Mind Is Battlefield

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Rock and roll music, if you like it, if you feel it, you can’t help but move to it. That’s what happens to me. I can’t help it- Elvis Presley

Masih sekedar album mini memang, namun cukup menggigit buat debut. Toh lima nomor dari EP berlabel demajors ini sudah cukup menunjukkan kualitas vokal Stella Gareth dan gitaris Reney Karamoy dalam musik berbau rock alternatif. Sangat disarankan untuk mendaftarkan mereka dalam playlist Anda sehari-hari, khususnya bagi mereka yang merindukan musik rock lawas periode 80’s-90’s. Satu lagi, gaya vocal Stella yang powerful, emotif, dan sedikit agresif ini mungkin akan mengingatkan Anda pada Alanis Morisette.

1. Live and Do – “We are, We are Stronger than the rocks that limit us. Live and Do better next time.”

Quote di atas sekiranya menjadi kekuatan dalam track pertama “1991”. Ya, dilihat dari liriknya, nomor ini memang sarat akan encouragement atawa pemberi semangat. Intro yang sederhana dari drum dan gitar mengawali lagu yang easy listening ini. Masuk bait pertama, kualitas vokal Stella Gareth pun langsung membius, hingga chorus, dan mengingatkan pada Alanis Morisette, kualitas vokal yang tak perlu diragukan. Sayang, menjelang outro, ada bagian yang mungkin kurang balance sehingga vokal Stella terdengar seperti “kumur-kumur”. Namun secara umum, nomor yang ditutup dengan outro manis hasil kombinasi (hanya) gitar dan vokal ini, worth a listen.  

2. Dreamer – Genjrengan gitar, disusul dentuman drum, mewarnai slow intro yang mengiringi (lagi-lagi) vokal berkualitas dari Stella. Suasana 80’s pun terasa kental dalam musik ini, terutama pada bagian reff, di mana vokal yang sebelumnya kalem mulai tampak “agresif”. Belum lagi, petikan bassplay yang funky dan mengalir, sibuk berputar di setiap reff, melengkapi musik retrospektif ini. Masuk ke bridge, yang mungkin sedikit bising, vokal Reney turut mengisi kekosongan, not bad. Kolaborasi dua vokal pun terjadi, meneruskan nomor ini hingga selesai. Duet vokal ini sendiri, mungkin, masih butuh “dimatangkan” mengingat pitch dan power yang berbeda warna membuat vokal Stella terlampau superior dalam setiap duetnya.

3. Stay On The Track – Setelah sebelumnya dibuai dengan musik yang aman-aman saja, Scaller akhirnya masuk juga ke area “berbahaya”. Sebuah stomp along music ganti mengisi album mini ini. Ajakan bas drum untuk menghentak, rhytm gitar grungy, serta bas gitar yang apik, terkolaborasi dalam rhytm kuat ciri khas nomor ini, dan mengiringi vokal Reney (yang terdengar lebih kuat di sini). Sinergi yang dihasilkan rhytm section pun mampu mengundang kepala dan kaki ikut menghentak. Diselingi interlude oleh keyboard, nomor yang berbahaya ini pun ditutup dengan aksi drum yang brengsek [positive meaning].

4. MIB (Mind Is Battlefield) – Agresivitas vokal Stella dalam nomor ini sungguh memikat, it’s fuckin’ sexy! Sesuai judulnya, musik yang dihasilkan pada track ini sungguh-sungguh battlefield. Rekonstruksi rock lawas 80’s-90’s pun kembali terdengar. Belum lagi, adanya string section (yang mungkin baru jelas terdengar pada 40 detik terakhir) membuat mood transition sempurna, khususnya dalam mengiringi vokal agresif Stella. Lady rocker ini pun kembali menutup lagu dengan manis, setelah sebelumnya liar bernyanyi. Nomor dengan sinergi ritmis rock anthem dengan kemegahan string section membuatnya layak masuk playlist.

5. Time’s Full Of You – Lagu galau menjadi pencuci kuping (re: pencuci mulut) serangkaian album mini “1991”. Masih berkiblat gaya lawas, petikan gitar, sedikit bass, dan vokal yang (masih) memukau, menyajikan musik bernuansa melankolis kental. Pun liriknya juga begitu melankolis. As a point, high pitch dari Stella, melengkapi suasana gloomy dari nomor yang terbilang singkat ini.

Secara umum, debut yang merupakan hasil rekonstruksi rock lawas ini layak didengar. Tema yang diangkat sederhana, musikalitas yang variatif dalam setiap lagunya, lirik yang mudah diingat, nuansa rhytm rock lawas yang kental, dan tentunya vokal Stella yang agresif sekaligus emotif menjadi nilai positif. Jika bicara soal minus, mungkin di bagian duet perlu ada polesan lagi, sampul CD pun terlampau sederhana, dan mungkin bisa dipertimbangkan mencantumkan lirik agar listener bisa turut bernyanyi. Terakhir, mungkin berharap, pada eksperimen dari band rock indie ini selanjutnya, kualitas musik variatif (dari grungy hingga gloomy) ini tidak mengalami degradasi. Overall, this Scaller “1991” is worth a listen!!! [Warn!ng/Yudha Danujatmika]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response