close

Collapse – Grief

Grief
Collapse

Label: Royal Yawns Records

Year: 2016

Watchful shot: “Cathredal”, “Given”, “Epilogue”

Dikenal sebagai gitaris A.L.I.C.E. dan juga proyek sampingan lain seperti Blind to See, Restrain, Pitfall, Megamaut, hingga Tragedi, membuat dirinya disibukan dengan proses yang bermacam rupa. Hal tersebut tidak terlalu mengejutkan mengingat kapasitasnya dalam mengulik pelbagai improvisasi nada dari mesin dawai berada pada taraf mengesankan. Kualitas adalah jaminannya. Di tahun 2016 ia berusaha mengendurkan injakan gas demi mewujudkan karya solonya yang entah berapa lama terpendam rapi di tumpukan rak buku. Mengambil identitas Collapse, Andika Surya begitu ia kerap dipanggil, merilis mini album bertajuk Grief; sebuah gerbang penantian yang membuktikan bahwa lelah memang tak ada di kamus hidupnya.

Bisa dibilang Grief bukanlah bongkah ambisius milik Andika. Ia sengaja ingin tampil tanpa beban, memainkan pola dengan sebebasnya, tak risau akan penerimaan kerumunan, serta berlari secepat mungkin sembari menghirup nafas yang tak membelenggu asa. Baginya, Grief hadir untuk menuntunnya menuju lembah pemberhentian berikut; tak kurang dan tak lebih. Namun, bukan berarti ia bekerja asal-asalan. Selayang visi nyatanya tetap diterapkan guna merangsang titik kreasi yang kelak membentuk karakter musik Collapse sendiri. Dibantu oleh Alyuadi (Heals), Dawan (Haul), dan Kiki (Fuzzy, I), Andika menciptakan 5 (lima) buah komposisi bercitarasa tinggi. Perpaduan kontur post yang dominan dengan sentuhan bumbu gloomy yang bertempo cepat sekaligus merasuk atmosfer imaji; gelap nan memikat.

“Prologue” membuka pintu penyambutan dengan gesekan intro yang melambat. Riff yang keluar dari corong segi empat tak mampu menaikan intensitas, dan sepertinya Andika hanya ingin bermalasan di kubangan sana; tak beranjak lalu membuyarkan reaksi perkenalan. Perbedaan timbul di track “Cathredal”. Ketukan dipacu perlahan agar fondasi utama berupa konjugasi chord yang berkelok tak lepas dari kejaran. Melambungkan pijakan pedal distorsi maupun menahan kerapatan melodius yang dibawa menjadi contoh konkrit bagaimana lagu ini tumpah ruah di ambang delusional. Kemudian “Sleepless and Dreaming” memaparkan sepercik kegelisahan. Mendayu lembut bersamaan tuas efek clean yang bersautan, tenggelamnya selaput vokal dibalik kekakuan mikrofon, lantas sayup-sayup terdengar orasi puitik sebelum akhirnya bom waktu meledakan keseimbangan.

Sedangkan pada dua nomor berikutnya, Andika memandang kompleksitas alam raya yang diutarakannya melalui benih-benih keluwesan proporsi. Diawali gebukan drum berkecepatan penuh di “Given” yang mengingatkan aksi Saves The Day semasa In Reverie. Setelahnya, “Epilogue” merekam masa kebimbangan Jeff Buckley yang diceritakan ulang lewat nada-nada kosmopolis ala Explosions In The Sky. Meniti benang kehampaan tak bertuan yang berada dalam lanskap fantasinya.

Secara garis besar, Grief mampu menghadirkan suasana berkesan selepas eksplorasi Andika terhadap deru hardcore hingga crush/punk yang dilakoninya bersama A.L.I.C.E. ataupun identitas lainnya. Ia dengan gamblang menciptakan dunia yang dibalut keresahan-keresahan serta perasaan tak menentu laiknya dramaturgi kisah lama. Meski hanya dirangkum dalam jumlah yang tak banyak, termasuk durasi yang berkisar di bawah tiga menit, Andika berhasil menyampaikan narasi singkat yang nantinya bakal kita pahami selaku wujud refleksi batinnya.

Selain itu, penggabungan konsep lirikal dan instrumental dikemas Andika dengan meyakinkan. Tiap lagu seperti memiliki garis keterkaitan yang berujung satu pemahaman. Pada “Cathredal”, ia memberi detak simpatiknya yang berkabut kekacauan. “Sleepless and Dreaming” memperlihatkan mimpi abstraknya untuk masa depan, serta melalui “Given” ia mencurahkan ketakutan pararelnya terhadap manusia. Daya kritisnya sengaja ia kaburkan agar tak terjebak kepalsuan. Simak ketika “Prologue” dan “Epilogue” memendam bara peraduan yang ditiupkan dari celah angin motorik perangkat sederhananya.

Kita tak perlu meraba seberapa besar kompetensinya dalam meracik formula musik bernas dan berfilosofis kuat bak labirin Nietzsche. Ia lugas berkata tidak, menyimpan kepercayaan, sekaligus memisahkan dua konstruksi berupa realita dan hamparan yang sureal. Alhasil, Andika tak berpindah dari sumbu tengah yang membedakan dimensi astral maupun kenyataan. Dan Collapse merupakan pengingatnya agar tak tertelan mentah-mentah oleh kecamuk paradoksnya. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response