close

[Movie Review] Dallas Buyers Club

dallass
dallass

 

Director: Jean-Marc Vallee

Casts: Matthew McConaughey, Jared Leto, Jennifer Garner

Runtime: 117 minutes

Proyek film Dallas Buyers Club sudah berpindah dari satu produser ke produser lain, ditawarkan pada satu aktor ke aktor lain, sejak pertengahan 90-an. Kala itu, belum ada yang cukup berani dan yakin menanamkan uangnya pada film yang berlatar waktu pertengahan tahun 1980-an, di mana banyak yang menganggap sebagai periode puncak krisis AIDS di Amerika Serikat. Dan film ini tak dapat tiba di saat yang lebih sempurna ketika akhirnya hak pembuatan film ini jatuh ke tangan Jean-Marc Vallee di tahun 2012.

Dimulai sejak The Paperboy, Mud, kemudian Magic Mike, film ini merupakan puncak transformasi Matthew McConaughey dari the shirtless rom-com hearthrob menjadi seorang aktor watak, dan menandai kembalinya Jared Leto ke layar perak sejak film terakhirnya dirilis 4 tahun lalu.

Inti cerita Dallas Buyers Club merupakan implikasi dari premis sederhana ‘don’t afraid to break the rules once in a while’. Perkenalkan Ron Woodroof, seorang montir listrik dan heteroseksual flamboyan, tinggal  di sebuah trailer park. A real life cowboy, menghabiskan waktu senggangnya bersama teman-temannya di bar menenggak bir dan melepas penat dengan menghisap heroin.

Ron Woodroof merupakan tokoh nyata, yang ketika divonis mengidap AIDS, dokter mengklaim bahwa ia hanya memiliki sisa umur 30 hari saja. Terhitung sejak Ron menerima kabar itu, film berjalan dengan periodisasi waktu. Day 1, day 8… dan seterusnya menghitung vonis sisa 30 hari hidupnya. Tonton sampai selesai untuk tahu di angka berapa hitungan berakhir.

Dallas Buyers Club tidak hanya mengisahkan aksi militan Ron melawan The Food and Drug Administration (FDA) dan sekumpulan dokter yang mempersulit penderita AIDS mendapatkan obat yang mereka anggap tepat. Lebih jauh film ini mengisahkan bagaimana tokoh-tokohnya tumbuh dan belajar dari orang-orang yang sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan mampu merubah hidup mereka.

McConaughey  menurunkan 21 kilogram berat badannya demi memainkan tokoh Ron. Jared Leto, yang terkenal suka memainkan karakter yang menantang, mengalami transformasi tak kalah drastis dari segi fisik hingga vokal sebagai seorang transeksual bernama Rayon. Perannya sebagai side kick Ron yang genit dan cerdas kadang membuat kita lupa kalau sebenarnya dia juga sedang berjuang melawan maut. Tapi bukan eksteriornya yang membuat pasangan aneh ini begitu memorable. Kredit untuk McConaughey yang mampu memberi semangat revolusioner dan sisi liar namun tetap dapat ditoleransi pada tokoh Ron.

Vallee banyak membelokkan ekspektasi penonton dari apa yang ia bangun sejak awal. Momen ‘oh ternyata’ yang pertama adalah ketika kita disadarkan bahwa di balik sifatnya yang urakan, Ron merupakan sosok yang cerdas dan bukanlah orang yang bebal. Menarik juga bagaimana film ini melihat marginalitas kaum transeksual dan gay dari kacamata tokoh heteroseksual.

Everything on Ron screams manly. Kemudian saya sadar akan keberadaan sebuah scene di mana terjadi kecelakaan di tempat ia bekerja yang menimpa rekannya. Kalimat yang diucapkan Ron saat itu adalah kunci kompleksitas tokoh ini. Ada dua kemungkinan makna dari scene itu. Satu, merupakan hint pertama sebagai titik awal perubahan karakter Ron. Atau, memang itulah karakter asli Ron, membuat semua masker kelelakian yang ia tampilkan hanyalah alat agar dirinya mudah diterima dan dihormati.

Shot yang diambil, kebanyakan bergaya documentary, tapi dengan pendekatan penuturan alur yang ternyata cukup puitis untuk film dengan tema seperti ini. Jangan terkejut saat ada satu titik dimana muncul penggambaran yang sangat berbeda drastis. Seperti dalam sequence saat Ron menjadi international jetsetter membeli obat-obatan di berbagai negara, menggunakan cut-to-cut layaknya trilogi Ocean. [Catra Nandiwardhana]

 

dallas

 

 

 

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.