close

[Album Review] Damon Albarn – Everyday Robots

damon
Damon Albarn
Damon Albarn

Damon Albarn – Everyday Robots

Parlophone, Warner Bros

Watchful Shot : “Hostiles”, “Heavy Seas Love”, “Lonely Press Play”

[yasr_overall_rating size=”small”]

Berbicara tentang sosok Damon Albarn, tentu tak bisa dilepaskan dari Blur maupun Gorillaz. Berkat intuisi cerdasnya, kedua unit tersebut sukses menjadi primadona musik rock-alternatif dan electronic-dub hip hop di era masing-masing. Maka tak heran jika banyak pihak yang menyematkan pujian untuk Damon. Karena memang dia musisi dengan segudang ide brilian di kepala.

Meski begitu, ia belum pernah beranjak dari zona nyaman bersama Blur dan Gorillaz. Sampai pada satu titik temu, album solo perdana Damon bertajuk Everyday Robots rilis ke permukaan publik. Sebagai jawaban atas resistensi dan terpaan opini khalayak ramai, terkhusus bagi mereka yang meragukan kapasitasnya dalam meracik komposisi irama populis.

Tahun 2014 menandai lahirnya kembali jiwa Damon Albarn. Everyday Robots menjadi pembuktian, bahwa zona nyaman hanya ucapan katalis belaka. Di album ini, musisi kelahiran London 46 tahun silam tersebut menyuguhkan media refleksi diri yang sempurna.

“Everyday Robots” mengawali perjalanan Albarn dalam menemukan sebuah pembelajaran hidup. Single pertama ini sarat dengan jiwa gloomy yang begitu terasa; hentakan drum machine mengalun lembut, sejalan dengan bebunyian synth ganjil. Tak ingin melepas momentum begitu saja, “Hostiles” meneruskan kiprah lagu sebelumnya dengan dominasi synth gelap yang cakap terdengar. Apalagi Richard Russell memberikan warna MIDI futuristis di lagu ini, sehingga terdengar laiknya “Dare” dari album kedua Gorillaz: Demon Days, namun lebih sensitif. Kemudian “Lonely Press Play” mengajak kita berjalan-jalan menyusuri hamparan Alaska seperti yang dilakukan Alexander Supertramp pada film Into the Wild. Pop-wave yang kental ditambah lirik metafora (terutama) saat Damon berujar “Can I get any closer // One anecdote cannot bring to you” semakin menegaskan bahwa “Lonely Press Play” layak dinikmati bersama sejuta unsur hiperbolis.

Ketertarikan Damon terhadap bebunyian khas Afrika memang begitu menggelora. Rilisan album Mali Music, Kinsasha One Two sampai Maison Des Jeunes yang direkam pada 2002 dan 2013, menjadi pembenaran atas pernyataan tersebut. Tak heran juga ketika “Mr. Tembo” muncul sebagai kondisi terkini African music a la Damon Albarn. Menggandeng The Leytonstone Mission Choir untuk mengisi paduan suara menambah keseksian lagu ini. Sebuah persembahan manis untuk Afrika. Lalu kehadiran Brian Eno dan Natasha Khan di nomor “You and Me” maupun “The Selfish Giant” memberikan semarak warna tersendiri. Vokal mereka yang berat, cocok untuk altar perenungan sanubari.

Terdapat ruang transisi yang disediakan Damon melalui alunan jemarinya lewat grand piano Korg M1 dalam “Parakeet” dan “Seven High”. Melaju fluktuatif menggoyang iman perasaan. Membuka lembaran barulayaknya The Psychedelic Experience: A Manual Based on the Tibetan Book of the Dead karya Timothy Leary, maka “Photograph (You Are Taking Now)” jadi nomor sendu berikut. Vokal Damon yang lirih terdengar begitu tragis seraya berucap; This is a precious opportunity beware of the photographs you are taking now. “The History of a Cheating Heart” mengingatkan satu momen ketika Johny Cash menyanyikan “Ring of Fire” secara sentimentil. Dengan iringan orkestra dari Demon Strings yang disamarkan, Damon berusaha bersikap romantis di lagu ini. Dan pada akhirnya, Damon menutup ruang batas waktu pada Everyday Robots melalui “Heavy Seas Love”. Secara anggun. Pelan tapi pasti, berjalan ke pemberhentian selanjutnya.

Everyday Robots merupakan sebuah lanskap melankolia perwujudan Damon. Daya imajinya berusaha keluar dari sangkar enigma yang tersekat. Berbagai problematika hidup disampaikan runtut dan terstuktur rapi dalam balutan sikap batin sendu. Ia tak menutupi sisi lemahnya akan potret popularitas. Bahkan menggantinya dengan sebuah cengkraman kuat penuh filosofi. Tiga belas syair dan baladanya telah berhasil menciptakan konstruksi kokoh capaian refleksi diri. Tak ada Blur dan Gorillaz. Tak ada pula hentakan Rocket Juice & The Moon. Hanya ada satu kisah, satu jalan pulang. Semua bertumpu pada cerita batin Damon Albarn. Dan kita ikut terbuai di dalamnya. [WARN!NG/ Muhammad Faisal]

 

Tags : damon albarn
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response