close

Dan Lalu Jogja Mengapung

Float (4)

Potongan lirik “Why don’t we just dissapear? If that could keep us here…” malam itu diserukan bersama kawan, bersama perasaan yang semakin meninggi, bersama Float yang memuaskan hati.

Float © Warningmagz
Float © Warningmagz

Jika ada yang tidak sesuai dari malam puncak Earthernity Festival 2014 malam itu (01/06) adalah, alih-alih mendekatkan penonton dengan bumi, acara yang diadakan untuk memperingati hari bumi ini malah mendatangkan band yang membuat penontonnya menjauhi bumi, mengapung. Adalah Float yang didatangkan untuk memuncaki gelaran tahunan yang diselenggarakan di Purna Budaya UGM ini.

Acara yang dijadwalkan mulai pukul tujuh malam ini sempat molor, jeda antar line up pembuka pun terasa sangat lama. Pemilihan line up malam itu memang terasa agak jomplang. Venue bahkan masih terlihat sangat longgar hingga penampilan band pembuka seperti Wikan & the Avian Project dan Diwa Hutomo & Baniali menyudahi setlist mereka. Baru sekitar pukul 10 malam, ketika Float akan naik ke panggung, penonton mulai merapat ke depan.

“Jogja akhirnya….” ujar Meng sesaat setelah naik ke panggung. Sempat terjadi sedikit ‘kebingungan’ di kerumunan penonton. Apakah musik Float harus dinikmati sambil duduk santai atau berdiri sambil bergoyang? Keputusan lalu diambil saat Hotma “Meng” Roni Simamora, vokalis Float meminta penonton berdiri. “Kapan ngapungnya kalau duduk?” ujarnya. Salah seorang penonton juga terdengar meneriaki penonton lainnya “Katrok, masa nonton float duduk.”

“No Dream Land” dengan efek gitar yang lebih bernas lalu mengawali perjumpaan publik Jogja dengan band yang rencananya Agustus nanti akan mengadakan Float2Nature edisi 3 ini. Benar saja, musik Float yang biasanya terdengar santai di pemutar musik terasa lebih bertenaga malam itu. “Tiap Senja” lalu menyuara disambung dengan “Stupido Ritmo” yang direspon meriah oleh penonton. Sing along panjang dan kompak lalu terdengar sejak intro nomor yang mengiri perjalanan Ambar dan Yusuf, “3 Hari Untuk Selamanya” dimainkan Float.

Jika biasanya setlist band diatur untuk menaikkan mood penonton dari lagu santai ke nada yang lebih keras, malam itu Float melakukan hal sebaliknya. Setelah mengeluarkan tenaga di lagu-lagu awal, “Song of Season” dimainkan dengan syahdunya. Permainan instrumental panjang di tengah lagu ini membuat Purnabudaya jadi floatspot dengan gaya gravitasi yang tiba-tiba melemah. Mengapung, adalah istilah yang banyak diungkapkan.

Sing along juga terdengar selama “Pulang” dan “Sementara” dimainkan. Band yang tahun ini rencananya juga akan mengeluarkan album baru ini lalu melanjutkan keriaan di nomor “I.H.I” yang ceria. Jempol untuk lighting panggung yang cukup intens menambah asik suasana. Meng lalu pamit sebelum “Surrender” dibawakan.

Kebiasaan bahwa encore harus diberikan band untuk menyudahi konser dan memuaskan penonton yang belum mau beranjak akhirnya berlaku juga. Float naik kembali dan memainkan “Too Much This Way” untuk penonton yang sebenarnya tidak pernah merasa ‘too much’ dengan efek mengapung seperti itu.

Dengan energi dan suasana yang dibangun lagu-lagu Float yang seperti itu, pantas jika Float sering dianggap intim dengan alam.

Kerinduan dan rasa penasaran publik Jogja pun terlunasi. “Tadinya kita sempat punya pikiran kalau crowd Jogja itu kaku dan nggak ekspresif, ternyata salah besar” ujar Meng mengomentari crowd malam itu. [WARN!NG/Titah Asmaning]

Event By: UKM Bengkel Kesenian Geografi Universitas Gadjah Mada

Date: 1 Juni 2014

Venue: Gedung Purna Budaya UGM

Man of The Match: obviously, Float.

Warning Level: ***1/2

 

Float © Warningmagz
Float © Warningmagz

Foto-foto gigs, cek di -> Earthernity Fest 2014: Float 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response