close

Dandelions: Kemewahan Dalam Balut Keliaran

Dandelions Photo – 1

 

 

Pikiran saya tiba-tiba merekam ulang mengenai empat pemuda berusia tanggung yang menyiapkan alat bermainnya. Sebuah pub tua di bilangan Ahmad Yani menjadi saksi akan satu hal; mereka tak ragu dalam memamerkan aksi. Pakaiannya sedikit lusuh dengan bandana bermotif yang terikat di kepala. Kancing atas bajunya dibiarkan terbuka selagi jins belel panjangnya mengurai tanah.

Tak lama berselang, sebatang rokok mulai dinyalakan. Tarikan dan hembusan dihirup berkali-kali sampai menemukan titik kenikmatan sembari membuka kemasan botol bir yang termakan usia. Tanpa menghiraukan deretan penonton yang jumlahnya entah berapa, keempat lelaki ini memacu nomor-nomor energik, liar, serta membangkitkan kenangan rock and roll medio 1960-an.

Kira-kira seperti itu deskripsi singkat tentang Dandelions. Kelompok blues-roll dari Kota Pahlawan, Surabaya yang beranggotakan Jet (vokal), Bayu (gitar), Ucup (bass), dan Rafzan (drum). Pendatang baru yang menantang derasnya perhatian seolah tak menyediakan kesempatan bagi mata untuk berhenti menatapnya. Menyerbu, menyerang tanpa mengendurkan intensitas, lalu merangsang indera dengan metafora klasik ala Brian Jones.

Cerita pembentukan Dandelions berawal dari kegemaran Jet merekam inspirasi liar yang terpantul di otaknya. Gayung pun bersambut ketika ia menemukan rekan yang bisa mewujudkan secuil fantasinya. “Jauh sebelum saya membentuk Dandelions, saya sudah mengumpulkan materi lagu-lagu dan membayangkan punya band kaya The Rolling Stones. Terwujudlah impian itu ketika bertemu dengan Adiee. Kami memutuskan untuk membentuk band yang bernama Dandelions. Sayangnya dia keluar sebelum punya album”, ungkap Jet.

Kemudian sosok Bayu dan Rafzan bergabung untuk memenuhi formasi yang ada. Seperti penuturan Bayu bahwa masuknya mereka berdua mengingatkan pada prosesi kelahiran Guns N’ Roses di era lampau. “Waktu itu Dandelions lagi cari gitaris sama drummer. Nah, di situ saya melihat kesempatan dan mengajak Rafzan buat gabung ke band. Hampir sama kaya Slash dan Steven Adler waktu Axl dan Izzy lagi cari personil”, tambah Bayu.

Pemilihan nama Dandelions sendiri bukan tanpa pertimbangan yang matang. Ada arti filosofis yang terikat menyoal rentetan penjelasan dasar; lugas dan tak terlampau runyam. Berpatok pada keterangan yang diberikan Jet, Dandelions merupakan bunga liar berwarna kuning. Suatu simbol kedamaian bagi kaum hippies di jaman Flowers Generations. Tak berhenti di situ saja, mereka ingin menghadirkan kembali spirit tersebut dalam menyuarakan suara kerukunan, anti pemerintahan korup, juga kepedulian terhadap lingkungan; yang kelak dapat ditularkan kepada teman-teman sejawatnya.

Inspirasi bermusik Dandelions tak jauh dari marwah The Rolling Stones, The Doors, Buddy Guy, Jimi Hendrix, Deep Purple, Led Zeppelin, hingga jagoan dalam negeri, Iwan Fals atau Slank. Tak ayal, setiap dinamika yang mereka hasilkan melalui corong kebebasan memuat ekspresi lepas dari musisi-musisi di atas. Meski demikian, mereka tak ingin terjebak dalam pengaruh temporer yang membatasi identitas. Kocokan gitar yang bluesy dengan sentuhan ritmis yang seksi adalah kenyamanan utama milik Dandelions.

Sedangkan untuk proses kreatif sendiri Dandelions tidak memasang kondisi tertentu agar mendapatkan kecermelangan ide. Sesi jamming tetap mendominasi lahirnya motivasi. Tapi bukan berarti menutup hal-hal sederhana yang berputar di sekitar. Obrolan warung kopi, curhatan seorang kawan, berita televisi, fenomena sosial, sampai kisah seksual bisa memacu gerak motorik mereka sebelum nantinya Jet dan Bayu mengolahnya menjadi rancangan lirik serta konstelasi chord yang brilian.

Tahun lalu, karya perdana mereka telah selesai dibuat. Sempat mengalami kendala pada kesolidan internal yang berujung pada keterlambatan progres nyatanya tak melenyapkan antusiasme Dandelions dalam menyajikan kualitas. Mengambil judul Mantra Sakti, EP ini memuat 5 (lima) komposisi yang patut Anda cermati seksama. Ambil contoh saja “Seperti Rolling Stone” yang mengkultuskan kecintaan kepada sang idola. Lalu “Blues Boring” yang sarat kebosanan suasana politik. Atau “Impor” yang menyentil gemparnya kasus impor sapi dahulu kala.

Tak dapat dipungkiri, Surabaya berperan dalam membentuk wajah mereka hingga seperti saat ini. Harapan untuk kancah diapungkan, seturut perkembangan yang cukup masif menggeliat di permukaan. “Kami sangat senang ketika skena independen mulai bergeliat di Surabaya. Namun, Surabaya masih mengalami peralihan dari kultur lama ke kultur baru. Sehingga masih bisa ditemui kejadian “manggung karena teman”. Sebetulnya ini sangat disayangkan apabila masih terjadi. Itu artinya, skena indie Surabaya kurang terekspos karena monopoli di dalamnya. Semoga ke depan tidak terjadi lagi dan dapat lebih objektif dalam memilih’’, pungkas Ucup dalam wawancaranya kepada WARN!NG. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response