close

[Album Review] The Strokes – Comedown Machine

Comedown-Machine

Comedown-Machine

What : Comedown Machine

Label : RCA Records

Genre : New wave, Synthpop, Indie Rock

Watchful Shot : Tap Out , All The Time , 50-50 , Slow Animal , Partners In Crime

[yasr_overall_rating size=”small”]

Coba kita mulai dengan The Strokes sebagai aksi paling berpengaruh sejak lonceng milenium ke dua dibunyikan. Ketika kini satu band emo populer sibuk memproklamirkan misi absurdnya untuk menyelamatkan rock n roll, The Strokes justru tak lagi peduli bagaimana dulu mereka pernah benar-benar melakukannya. Bersama Jack White, ingatkah ketika Casablanca cs menumpas dj set dan rapper-rapper berdistorsi, lalu menduduki awal 2000an dengan tancapan bendera garage rock revivalist. Sayangnya, baru setengah dekade, juru selamat ini sudah mulai kehilangan arah dan kuasa. Album ketiganya justru dihabisi sendiri oleh eksistensi band-band semacam Arctic Monkeys, Jet, atau Franz Ferdinand yang tumbuh bersama hutang budi atas rock n roll yang terselamatkan.

Setengah dekade lagi berlalu, muncul dua perspektif pada rilisnya Angles, album keempat The Strokes. Angles diwujudkan dari vokalis yang tak mau satu ruang kerja dengan personil lain dan warna musikal andalan yang justru diubah haluannya. Maka perspektif yang pertama beranggapan bahwa anak emas NME ini benar-benar telah kehilangan segalanya. Sementara yang kedua justru menganggap Angles adalah sebuah momen tepat untuk mengepakan sayapnya meninggalkan destinasi Is This It yang tak lagi dapat mereka capai. Voila, kini mereka kembali mendarat dengan Comedown Machine.

Setelah lama tercecer dalam pengembaraan mengimbangi aksi-aksi pengekornya, The Strokes ternyata harus kembali memulai semuanya dari nol. Terbukti ketika Comedown Machine menjadi album The Strokes dengan antusiasme masyarakat terminim. Entahlah hubungan antar personil memburuk atau membaik, namun Casablanca kembali bergabung dalam proses produksi yang dilakukan di studio Electric Lady buatan Jimi Hendrix. Kedekatan ruang itu bisa jadi yang membuat materi Comedown Machine memperkokoh stigma The Strokes kini sebagai sekedar pemuas ambisi Casablanca. Album ini semakin mirip dengan karya-karya mandiri Casablanca. Mereka seperti tak lagi betah mendengar banyak suara gitar dan tinggal dalam atmosfer 70an. Comedown Machine terdengar seperti sebuah mesin synthpop 80an yang kehilangan paku ulir di beberapa sudut. Untungnya 4 album the Strokes sebelumnya juga selalu kehilangan paku ulir.

The Strokes tak pernah terdikte dalam memilih track awal album mereka. Untuk Comedown Machine, mereka memulai dengan suatu kebimbangan, “Someone didn’t wanna know their name”, lalu “Somehow we don’t have to know each other’s name” dalam “Tap Out”. Sebuah area new wave modern yang dipasangi notasi pop minor. Untuk yang bersikeras berharap mereka masih peduli dengan Is This It, maka dengarkan single “All The Time” dan “50 50”. Sementara pada track lain, silakan mulai cermat mencari-cari sound gitar Nick dan Hammond dalam rangkap layer synthetizer yang membentengi, seperti pada “80’s Comedown Machines” dan “Chances”.

Track yang paling disorot negatif adalah “One Way Trigger”, karena mirip dengan “Take On Me”, sebuah single dari A-ha, artis terbesar Norwegia. Sayangnya diluar itu, lagu ini memang fatal. Find a job, find a friend, Find a home, find a dog” terlalu payah untuk terdengar keren dengan falsetto. 

Namun praktis selain lagu itu, dibanding Angels, beat-beat new wave bersama notasinya disini lebih mengalir dan terasa nyaman meluncur di telinga. Seperti “Slow Animal” yang memproyeksikan memori generasi yang berulang. “But the next generation will forget They’re always scared of where their daughter’s been ‘Cause who knows, she could be alone with men”. Sementara pada Partners In Crime”, 30 detik pertama ialah Is This It sebelum vokal masuk, dan ah, ternyata ini sudah album ke lima.

Disebutkan bahwa Comedown Machine terdiri dari sebagian sisa materi Angle. Kenyataanya 11 lagu ini justru cenderung lebih mapan. Meski tak ada track seperti “Undercover of The Darkness” sebagai single tangguh yang mampu menopang satu album, namun Comedown Machine lebih matang karena ditopang hampir oleh seluruh lagu. Entah gitar atau syntethiser, 70’s atau 80’s, nomor-nomor yang ada tetap menyediakan hook-hook eksplosif di reff, tipikal The Strokes. Sebuah album yang begitu menarik sebenarnya jika kita berlagak lupa dengan apa yang sempat mereka lakukan pada New York dan rock n roll. Oh, boleh jadi kini mereka hendak mewujudkan synthpop revivalist atau ya, mereka memang tak lagi memakai Converse. [Warn!ng / Soni Triantoro] 

tumblr_mk16pq99cJ1qfegyjo1_1280

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response