close

Dare To Care : Jangan Beli Anjing!

20130429-040951.jpg

Dare To Care : Jangan Beli Anjing!

“Njing anjing anjing kintamani, beli dari pulau bali. Njing anjing anjing kintamani senyumnya manis sekali…” Tepat setelah lagu ini dinyanyikan seorang wanita meyeruak diantara penonton dan berteriak, “JANGAN BELI ANJING! ANJING BUKAN BARANG! ADOPSI! JANGAN BELI ANJING!”

Insiden diatas merupakan salah satu dari sekian hal menarik yang terjadi dalam konser Dare To Care #3 Sabtu malam, (17/4). Gigs yang diselenggarakan oleh Mongabay, Animal Friends Jogja, dan Outsiders Jogjakarta ini dihelat di Lapangan Sekolah Tinggi Multi Media (MMTC). Ide dan pesan yang kuat menunjukan acara ini tidak bisa dianggap sebagai acara musik biasa.

Panggung dibuka dengan teriakan dan beat berat dari Miskin Porno. Teriakan “Fuck pasar burung! Fuck Freeport! Sawit Brengsek!” terdengar keras dari mulut Daniek sang vokalis. Scream dari Nita semakin melengkapi kekuatan kampanye band ini agar kita lebih memperhatikan alam. Dilanjutkan dengan Risky Summerbee & The Honey Thief yang membuat suasana menjadi santai lewat lagu-lagunya yang khas. Kemudian ada Dream Society, yang terdengar sangat unik dengan suara harmonika dari vokalis Topan Murdox dalam nomor “Yogyakarta” dan “Teraniaya”. Ika, vokalis Havinhell pun sempat berduet dalam lagu “Loveless”.

Disusul dengan The Brews dan Dirty Glass secara bergiliran menghantam indra pendengaran. The Brews merupakan sebuah band dari Bali yang sedang mengadakan mini tournya di Jogja. Dirty Glass menambah poin swing dari band Celtic Punk ini dengan suara mandolin yang merdu. Permainan musik dari The Brews dan Dirty Grass mulai menggerakkan kaki-kaki penonton untuk meloncat-loncat dan berdansa ria.

Penonton semakin ramai, namun sepertinya gairah mereka belum bangkit seutuhnya. Mereka masih berdiri terpencar dan sebagian duduk-duduk saja di rumput saat jeda. Melancholic Bitch pun hanya membuat sebagian orang berdiri. Terlepas dari respon penonton yang kurang antusias, Unit pop-rock ini tetap bermain maksimal. Mereka membawakan nomor-nomor dari album Balada Joni dan Susi serta Anamesis. lagu-lagu andalanya seperti “On Genealogy of Melancholica, Tentang Cinta, 7 Hari Menuju Semesta, dan The Street” disajikan. Penampilan teatrikal Ugo sang vokalis yang emosional pun memuncak dalam lagu penutup mereka “Mars Penyembah Berhala”

Sekarang giliran Havinhell menggeber instrumentnya. Dibuka dengan Intronya yang khas, Ika Zidane sang vokalis mengawali perform dengan menyapa Super Fighters(sebutan untuk fans mereka -ed). Band Sweet Punk ini menghentak panggung dengan dentuman drum Ebo yang cepat dalam rentetan lagu “I don’t Care”, “Go Fighting”, serta lagu terbarunya “Gossip”. Ajeng dengan gitar Flying V-nya menciptakan hentakan yang menyihir jiwa muda untuk bermoshing ria. Sempat terjadi perkelahian kecil yang menghentikan penampilan mereka. Namun konflik tersebut larut kembali dalam rentetan lagu “Ceria Kebersamaan”, “Pak Satpam”, dan “Kawan Vs Lawan”. “Rise Together” pun didaulat sebagai penutup yang dibumbui dengan adegan atraktif Ika Zidane dan Ajeng. Penampilan atraktif mereka mengundang fotografer untuk berebut mengambil gambar.

Saatnya mengangkat tangan keatas dan menghentakkanya di udara. Perangkat musik digital DJ Vanda mulai memecahkan suasana. Absennya Kill The DJ pasca operasi usus buntu tak menghalangi Jogja Hip Hop Foundation untuk mengajak penonton berdansa. Dengan lagunya “Sabdatama” sebagai pembuka, dilanjutkan “Lolipop”, “Gangsta”, serta “Ayo Ngguyu” dinyanyikan dengan semangat oleh penggerak Hip Hop yang sudah merambah Negeri Paman Sam ini. “Ngelmu Pring, Ora Cucul Ora Ngebul” selanjutnya dinyanyikan. Lirik-lirik berbahasa Jawa yang dilantunkan menunjukkan semangat pelestarian kebudayaan dari unit hip hop ini. Penampilan apik JHF ditutup lewat “Jogja Istimewa”, sebuah karya yang membuat mereka meraih Anugrah Duta Nagari dari Sultan Hamengkubuwono X Desember lalu. Penontonpun seketika menjadi koor yang dengan lantang meneriakkan “Jogja Jogja, tetap Istimewa. Istimewa Negrinya Istimewa orangnya…”

Dan akhirnya penantian Doggies-Doggies pun terbalaskan, ditandai dengan naiknya idola mereka, Shaggydog ke atas panggung. Tak hanya para Doggies yang asik berdansa, Heru sang vokalis bahkan ikut berjingkrak-jingkrak di atas panggung. Dimulai dengan “From The Doc To The Dog”, “Ditato” dan “Jalan-jalan” semakin panas pula suasana di depan panggung. Beberapa kali Heru berusaha menenangkan para doggies agar tak berkelahi, ”Yang berantem, mending pulang aja,” ucapnya. Saat ditemui setelah turun panggung Heru juga menambahkan, “Tadi ada sedikit percikan-percikan, namanya juga anak muda. Tapi semoga kedepannya acara ini tetap berlanjut.”

Insiden lagu Anjing Kintamani yang sebelumnya dibahas diatas, merupakan sebuah aksi spontan yang dilakukan dari salah seorang aktivis Animal Friends Jogja. Teriakanya yang berapi-api cukup mengusik kita untuk berpikir, bahwa perhatian manusia terhadap binatang masih kurang. Setelah cukup merasa bahwa suaranya didengarkan, sang aktivis pun turut hanyut dalam lagu-lagu Shaggydog selanjutnya. Seperti nomor “Selamatkan Atau Hilang”, lagu yang diharapkan dapat menggerakkan para doggies agar bisa mencintai satwa dan alamnya. Penampilan ShaggyDog pun ditutup dengan lagu andalan mereka “Sayidan”.

“Banyak yang dateng ya sampai ribuan orang, banyak juga yang mampir ke stand kita. Walaupun tadi banyak yang ribut.” ungkap Pinkan, seorang mahasiswa UGM yang juga perwakilan dari GreenPeace. “Keren acaranya, meningkatkan kesadaran anak muda. Dan semoga kedepannya bisa ada terus.” Tutup Heru dari Shaggydog.

Event by : Mongabay, Animal Friends Jogja, Mapala MMTC dan Outsiders Jogjakarta

Venue : Lapangan SekolahTinggi Multimedia “MMTC”

Date: April 27, 2013

Man of the match : Tiket 10 ribu didonasikan untuk kehidupan satwa

Rating : ●●●1/2

;

Havinhell - © Warning
Havinhell – © Warning

;

Foto-foto acara ini bisa dilihat disini

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.