close

[Movie Review] Dawn of the Planet of the Apes

dawn2

Dawn of the Planet of the Apes

Dawn Of The Planet of The Apes
Dawn Of The Planet of The Apes
Director:  Matt Reeves

Cast: Gary Oldman, Keri Russell, Andy Serkis
Year: 2014 

 

Manusia dan yang diyakini sebagai leluhurnya oleh para Darwinian terlibat peperangan hebat dalam balutan sci-fi. Meski kisah tentang relasi konfliktual antara manusia dan primata ini telah diangkat dalam berbagai franchise: Planet, Beneath, Escape, Conquest, Battle dan yang terakhir Rise—Dawn of the Planet of the Apes adalah pengalaman pertama saya. Tayang berbarengan dengan Transformer 4 yang dikabarkan boros visual namun melompong, membuat film ini memiliki daya tarik lebih untuk dipilih. Dan benar saja, seri Dawn dibuat cerdas dan mengesankan, walau saya tidak menonton seri lain yang bisa dijadikan pembanding.

Dawn of the Planet of the Apes diawali dengan narasi mengenai kekacauan dunia karena virus pandemik yang dinamai Flu Simian. Penyebaran virus secara besar-besaran membuat populasi manusia mendekati kepunahan, sedangkan primata menjadi begitu kuat dan cerdas—dengan perilaku hampir mendekati manusia. Teknik visual yang entah dibuat sedemikian rupa kemudian menampakkan koloni primata yang kuat dan tangguh, menampilkan peradaban baru yang mereka bangun setelah terpisah dari manusia. Kehidupan yang damai di koloni primata tadi lalu terusik ketika ada segerombolan manusia yang masuk ke area hidup mereka. Pertemuan antarspesies berjalan tidak menyenangkan, dan kontak tersebutlah yang memulai perang di antara keduanya. Hasil kerja produksi film ini begitu rapi dan realistis meskipun secara sadar tahu bahwa apa yang ditampilkan tak lebih dari ilusi yang dihasilkan oleh layar chroma key dibantu sentuhan CGI—mata ini rela saja diakali jika sajiannya mengagumkan seperti ini.

Konrad Z. Lorenz, seorang etologis, menemukan metode unik guna mengidentifikasi kecenderungan perilaku agresif dalam diri manusia. Selaku etologis, Lorenz menggunakan pengetahuannya dalam mengamati tingkah laku binatang untuk sekaligus menganalisis kecenderungan yang sama terhadap perilaku manusia, khususnya perilaku agresi. Dalam buku On Aggression (1966), Lorenz mengekstraksi teori milik Freud yang menyatakan bahwa manusia pada dasarnya memiliki dua macam insting: eros dan thanatos, yang menjadi motivasi pada seluruh tindakan manusia. Selain itu, Lorenz juga menggunakan teori seleksi alam milik Darwin dan kemudian menyimpulkan bahwa: agresi yang bersifat instingtif adalah sebuah produk evolusi. Bahwa sudah sewajarnya apabila makhluk hidup bertindak agresif terhadap yang lainnya dalam rangka bertahan hidup. Namun yang menarik, Lorenz menilai manusia lebih kejam dari hewan buas manapun, terutama dalam aksi membunuh sesamanya. Hal ini didasarkan atas fakta bahwa hingga saat ini—apalagi didukung oleh kemajuan teknologi, manusia telah mengembangkan kemampuan untuk membunuh satu sama lain dari  jarak jauh, bukan semata-mata untuk menjaga kelangsungan hidup. Dengan upaya tersebut, faktor penghambat agresi, yaitu empati terhadap korban (mangsa) telah sengaja diabaikan.

Manusia kini dapat bercermin melalui mata para primata, ketika Koba, seekor simpanse percobaan laboratorium sains menunjukkan bekas-bekas luka dan menyeru, “Human work, human work, human work!” Dawn of the Planet of the Apes adalah alegori yang sangat mudah dicerna untuk menggambarkan kekacauan yang lekat pada kehidupan manusia sekarang ini. Keserakahan manusia telah mengantarkan mereka menjadi makhluk yang destruktif, agresivitas bukan lagi insting natural ketika telah bercampur dengan ambisi dan emosi-emosi negatif—yang untung saja tidak dimiliki oleh selain manusia. Meskipun begitu, bukan berarti film ini melukiskan derajat manusia menjadi lebih rendah daripada hewan. Porsi sudut pandang hewan dan manusia dibuat sangat imbang, kita diajak untuk tidak melulu memandang dari mata para primata namun juga dipersilakan untuk berpikir dengan strategi manusia. Sehingga simpati pada manusia dan hewan terbangun sama rata.

Di tengah terpaan film fantasi yang tidak menawarkan apa-apa selain hiburan dengan efek-efek canggih, Dawn of the Planet of the Apes bisa dijadikan alternatif. Dalam film ini, manusia dihadapkan pada pilihan sulit: menjalani kehidupan dengan energi yang semakin menipis dan menghadapi kemungkinan berperang intra-spesies; atau berusaha mencari sumber energi pengganti tetapi berisiko perang inter-spesies. Setiap karakter primata dibentuk sangat kuat, jadi walaupun percakapan mereka hanya dilakukan dengan gestur sederhana dan kalimat patah-patah, namun dengan penekanan pada ekspresi wajah, penonton tetap mampu larut secara emosional ke dalam intensnya interaksi mereka. Pengerjaan scoring dan latar suara juga tidak bisa diabaikan, berkat kerja Michael Giacchino tensi penonton dapat terbangun secara brilian. Siap-siap saja untuk jatuh cinta pada Caesar, sang pemimpin koloni primata yang dimainkan dengan fantastis oleh Andy Serkis. Dan berdoa saja, jangan sampai ada virus yang menjadikan primata—atau hewan lain—menjadi “manusiawi” dengan segala kecerdikan dan emosi yang dimiliki manusia. [Adya Nisita]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response