close

[Movie Review] Di Balik 98

071091600_1421300180-dibalik98a
071091600_1421300180-dibalik98a

Movie title       : Di Balik 98

Running time  : 106 minutes

Production       : MNC Pictures

Director             : Lukman Sardi

Starring             : Chelsea Islan, Boy William, dll

Rating                : !

Si sutradara, Lukman Sardi sebenarnya sudah dengan sungguh mewanti-wanti bahwa film yang ia garap bukanlah film sejarah, ini adalah film drama keluarga yang kisahnya berlatar peristiwa sejarah. Namun nyatanya mau ini film sejarah atau hanya berlatar sejarah, eksekusinya sama-sama nanggung. Sayang rasanya, mengingat film ini termasuk karya yang cukup diantisipasi khususnya bagi kebanyakan kaum muda yang ingatannya soal masa genting 98 cukup tertambat pada lagu “Krismon” milik penyanyi cilik Cindy Cenora. Potensi pemasaran film ini cukup tinggi, debut Lukman Sardi sebagai sutradara didukung dengan topik yang masih jarang diangkat serta tampilan poster final yang menampakkan keadaan Jakarta dikepung kepulan asap hitam—terlepas kemunculan Chelsea Islan tentu saja. Setidaknya dengan status sebagai alumnus Trisakti saja, Lukman Sardi mampu menjadi magnet penonton dari ‘Kampus Reformasi’ tersebut.

Sebagai film yang katanya bukan film sejarah, Di Balik 98 berangkat dari titik tolak yang kurang tepat. Sketsa-sketsa dokumentasi yang ditampilkan sebagai pembuka menghadirkan kesan jika film ini ingin mengajukan diri sebagai rekonstruksi sejarah. Serta ditambah dengan dihadirkannya tokoh-tokoh politik masa itu. Agaknya sebagai film drama tak perlu lah repot-repot untuk menyoroti terlalu banyak latar belakang politik, apalagi jika justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan. Di lain sisi, apabila ingin mendeklarasikan diri sebagai film drama, pada film ini tidak didapati ikatan yang cukup antara penonton dengan masing-masing tokoh yang diangkat. Terlalu banyak wajah-wajah artis tenar yang terkesan hanya lewat tanpa diberi porsi penokohan yang cukup untuk membangun cerita. Sehingga, menurut opini pribadi, dramatisasinya terkesan dimunculkan dengan cara paksa dan sangat opera sabun.

Fokus cerita sebenarnya tertuju pada keluarga Diana (Chelsea Islan) yang sangat oksimoron, Diana yang seorang penggiat organisasi kampus nan idealis harus berhadapan dengan kakak iparnya yang seorang anggota TNI dan kakak perempuannya yang bekerja di dapur Istana Negara. Semangat perlawanan Diana kemudian terbawa sampai rumah dan dilampiaskan pada pekerjaan anggota keluarganya yang katanya sangat membela pemerintahan itu. Ia akhirnya memutuskan keluar dari rumah dan menginap di kampus demi membela hak-hak rakyat. Selain Diana, ada pelaku utama lain yakni pacarnya, Daniel (Boy William), mahasiswa keturunan Tionghoa. Di tengah kerusuhan, sentimen atas warga keturunan Tionghoa memuncak, identitas kultural Daniel kemudian juga memunculkan kisah tersendiri.

Mungkin, kalau saya mencoba menelaah maksud Pak Sutradara, beliau ingin memunculkan persepsi dari sisi berbagai kalangan masyarakat atas kerusuhan Mei 1998. Ada keluarga keturunan Tionghoa, mahasiswa, pegawai Istana Negara, anggota TNI, bapak pemulung dan anaknya, serta para pejabat pemerintah sendiri. Sutradara ingin mengangkat sisi human interest dari kejadian yang menjadi titik balik Indonesia tersebut. Menarik sebenarnya, melihat sepasang keluarga pemulung tadi menganggap aparat yang berjejer lengkap dengan kendaraan anti huru hara diatur dalam rangka ulang tahun ABRI, sedangkan di depannya mahasiswa senantiasa menyerukan tuntutan penurunan Soeharto dengan berapi-api. Dari Istana Negara sendiri, Soeharto yang diperankan kembali oleh Amaroso Katamsi sejak Pengkhianatan G30S/PKI (1984), digambarkan sangat manusiawi, diilustrasikan sebagai orang tua yang rapuh dan ingatannya mulai lemah sampai lupa pakai kopiah dan harus dituntun keluar kamarnya yang megah. Tetapi, alih-alih menguras emosi, fokus yang bercabang menjadikan film ini terasa begitu tanggung bak celana kain remaja masjid.

Akhir kata, saya tidak bisa dibilang puas dengan film ini, terhitung beberapa kali geleng-geleng kepala menyaksikan eksekusi yang terlampau cengeng. Ini benar-benar film drama yang tidak bisa diharapkan sisi akurasi sejarahnya. Rekonstruksi adegan demonstrasi dan konvoi panser milik TNI akhirnya hanya berakhir menjadi sebuah latar cerita yang dibuat untuk memeras air mata lebih banyak lagi. Sayang sekali.[WARN!NG/Adya Nisita]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response