close

Didi Kempot: Maestro Campursari yang Tak Pernah Menua

IMG_8411

Tujuh poster acara musik dalam waktu semalam bukan hal terlalu mengejutkan jika terjadinya di Yogyakarta. Ini terjadi Sabtu 6 Mei 2017 lalu. Yang menarik, salah satu poster menampilkan wajah yang jarang ditemui di gig, tapi sekaligus sangat familiar. Didi Kempot, sang ikon campursari Indonesia tampil di panggung kampus dengan gempita anak muda. Tanpa bermaksud mengadakan distingsi berbasis geografis dan ras, untuk mereka yang lahir dan tumbuh sebagai orang Jawa, barangkali ia membawa ingatan sesi mendengarkan radio sore di rumah bersama Bapak, atau dendang yang terdengar saat kita malu-malu membuntuti ibu mengambil sate ayam atau es buah di kondangan tetangga. Tak usah malu jika ingat namanya saja, kalian bisa menyanyikan “Sewu Kutho” dan “Stasiun Balapan” sefasih dan selantang ketika sekarang kalian meneriakkan “Wish You Were Here”-nya Pink Floyd atau “Kangen”-nya Dewa 19. Diperdengarkan sejak kecil, lalu hafal di luar kepala, seperti itulah Didi Kempot untuk saya, dan mungkin kita yang lahir di tahun 90’an.  Sebuah komentar lucu dari seorang teman di linimasa hari itu bahkan berkata “Didi Kempot sebagai duta we fall in love with people we can’t have”, cukup menggambarkan bahwa lagu campursari pun sebenarnya masih relate dengan lika-liku anak muda.

Tak mau menyia-nyiakan kesempatan bertemu maestro campursari ini, WARN!NG menemui bapak 3 anak bernama asli Didi Prasetyo ini di hotelnya beberapa jam sebelum tampil di Etnika Fest 2017. Nama belakang ‘Kempot’ sejatinya adalah singkatan dari Kelompok Penyanyi Trotoar. Jejak masa lalu yang ia banggakan sebagai pengamen di jalanan Yogya dan Jakarta tahun ’84-’89. Laku yang oleh bapaknya, (alm) Mbah Ranto Gudel (seniman & pelawak) disebut sebagai praktek dan uji bakat. “Saya itu SMA nggak lulus, kelas 2 keluar. Terpengaruh bapak saya ngomong ‘seniman kui rausah sekolah duwur-duwur, koe enek bakat ora? Ngono tok ae. Ojo teori, praktek le.’ Ngamen itu menurut bapak praktek,” ujarnya sambil terkekeh.[i]

Ketika kami sampai, ia tengah duduk santai menghisap rokok memakai kaos Jim Morrison warna hitam. Rambut gondrongnya terikat di belakang, seperti tak pernah memendek sejak pertama kali tahu Didi Kempot. Ia terbahak saat ditanyai lagu favorit dari penyanyi yang mukanya sedang ia pakai di kaos, “Jim Morrison? Ora eruh aku mbak, aku mung seneng kaose,” kami pun tak bisa menahan tawa.[ii] Gestur hangat mengiringi obrolan panjang tentang kariernya, campursari, budaya jawa, dan juga fakta-fakta di balik lagu-lagunya yang akrab dengan moda transportasi atau tempat wisata.

Didi Kempot yang lebih banyak bicara dalam bahasa Jawa juga menambah cair suasana. Menjawab belasan pertanyaan kami, ia kerap kali mendendangkan lagu-lagu seperti, “Ada “tak lelo lelo lelo legung..” (bernyanyi) itu serius, ha nekkodhok ngorek..” (bernyanyi) itu ajarannya sejak jaman nenek mbuh kapan kan.” Tangannya sesekali mengayun seolah mencari nada.

Bon Jovi from Java, begitu ia mendapat julukan dari penggemarnya di Belanda dan Suriname. Penyanyi yang mengaku sudah membuat lebih dari 700 lagu ini memang tak hanya populer di Indonesia. Akhir-akhir ini, ia mengaku cukup sering diundang ke negara-negara dengan jumlah TKI banyak seperti Hongkong dan Taiwan, “Seneng lho nyanyi di sana bisa nambani kangene wong-wong, mereka mungkin hiburan apapun banyak ya, tapi begitu kami datang mereka nangis kelingan omah.”[iii]

Sayang sekali, seperti musik tradisional atau produk-produk subaltern lain, campursari kurang mendapat perhatian dari media. Literatur dan arsip media tentang Didi Kempot di jagat internet cukup susah dicari, hal yang dimaklumi juga oleh sang empunya lagu. Di usianya kini 51 tahun, Didi Kempot masih memiliki produktivitas sangat tinggi untuk berkarya. Penyanyi asli Solo ini yakin bahwa campursari dan budaya Jawa tak akan punah. Sempat ia menyebut nama NDX sebagai salah satu musisi muda potensial menurutnya.

Baru-baru ini, Ddi Kempot dinobatkan sebagai duta PT KAI Indonesia. Ia mengaku mungkin lagu “Stasiun Balapan” yang terlanjur melekat dengan citranya yang membuatnya terpilih. “Mungkin muka saya ini cocok dinggo contone wong sing numpak sepur,” ujarnya. [iv]

Wawancara oleh: Titah AW

Foto oleh: Umar Wicaksono

Terus sebagai duta Kereta Api, apa yang akan dilakukan?

Saya kadang dikasih waktu untuk nyanyi di stasiun. Nah di awal atau di tengah pementasan itu kami menyampaikan, mengkritisi untuk keretanya kurang apa, kenyamanan kurang apa, penumpang langsung cerita pas saya tanya di situ.

Bapak Didi Kempot, Mbah Ranto Gudel kan pelawak, Mas Mamiek juga pelawak. Kenapa Didi Kempot memilih jadi musisi?

Saya jatahnya memang di situ. Ibu saya dulu menyanyi keroncong juga, ibu saya Hj. Umiyati. Zaman dulu ibu itu penyanyi keroncong antar kampung alias tarkam. Tapi bukan itunya, yang jelas saya bangga punya orang tua yang darah seninya mengalir ke anak-anaknya.

Ketika jadi musisi pun, kenapa akhirnya memilih campursari?

Kayaknya di situ saya lebih nyaman. Di situ saya melihat, waktu itu (di campursari) ada almarhum Mas Manthous, kalau keroncong dulu ada Waljinah, Mus Mulyadi. Makin ke belakang kok anak-anak muda kurang tertarik ke situ, akhirnya saya mencoba membuat lagu yang sekiranya anak-anak muda mau menerima gitu. Akhirnya terciptalah lagu ”Stasiun Balapan”. Dalam intervalnya di tengah tak kasih sentuhan gitar yang tententeng (berdendang), ada spanish-nya dikit, ternyata mereka tertarik, dalam arti, dipasarkan dalam bentuk CD ya laku habis.

Kalau terjun ke musik campursari pertama kali kapan?

Tahun ‘89. Lagu pertama “We Cen Yu”, aku tresno koe…. kuno kui (tertawa). Mungkin sampean kalau mengamati lagu-lagu saya kan ada yang nge-joke, ada juga yang mellow, memang hidup itu kayak gitu harus tersenyum dan menangis (tertawa).

Di Indonesia kalau ngomongin campurasi, pasti Didi Kempot disebut. Dianggap sebagai legenda hidup campursari gimana?

Belum lah, belum legend karena saya masih ingin berkarya terus-terusan, apalagi seni kan tidak ada batasan umur. Berkarya sampai habis.

Berarti belum kepikiran pensiun musik ya?

Belum. Kan makin ke belakang ini laguku tak coba kembali ke musik back to 60’s, kayak lagu “Suket Teki”, dengan melodi yang sederhana sekali tet tet tot tet tot (berdendang), sekarang kan lagi booming “Suket Teki”, “Dalan Anyar”, “Pantai Klayar”. Dalam kurun waktu dua tahun ini tak masukin lagu-lagu yang mellow ternyata keterima lagi. Sebelumnya kan tak keluarin “jambu alas kulite ijo…” (lagu “Jambu Alas”) yang agak mbanyol-mbanyol, sekarang saya kembalikan ke yang mellow-mellow.

Pertimbangannya apa untuk melakukan perubahan itu?

Ya kita lihat. Namanya kompetisi, bermusik itu kan semua pingin laku, genre apapun. Tak lihat sekarang kan selain banyak yang kayak techno, grup-grup band saya amati yang laku yang mellow-mellow juga. Saya buat lagu Jawa-nya begitu juga, dengan harapan supaya laku. Dan ternyata TV nasional pun masih mau menayangkan lagu-lagu saya, walaupun cuma sekian persen ya, yang penting masih ada. Daripada tidak ada sama sekali.

Berarti perkembangan tren musik di luar campursari memperngaruhi ya?

Ya kita harus belajar dari situ.

Apakah Didi Kempot juga mengikuti lagu-lagu top 40 nasional?

Kurang lebih. Ikutin pasar lah. Sekarang seandainya muncul penyanyi baru kayak Tulus, Tulus bisa laku kenapa? Oh disitu toh ternyata, boleh kayak gitu. Mungkin juga ada anak-anak muda yang melihat karya Didi Kempot terus belajar, mungkin lho ya,  saya nggak tahu. Kalau saya, jujur saya belajar dari yang laku, berapapun usianya dan itu nggak salah, boleh-boleh aja. Karena itu untuk dinyanyikan, untuk dinikmati. Cuma bedanya saya menyanyikan dengan lagu-lagu Bahasa Jawa, makanya teman-teman banyak yang bilang “Didi Kempot itu lagunya jawa tapi not-nya internasional,” kadang ada yang ngomong gitu. Mungkin itu pengaruh karena saya sering ke Belanda, Suriname, pas muter-muter gitu saya lihat. Sebelum main kan banyak musisi lokal sana main, kayak orang Afrika, orang Indian, bule-bule, ternyata kita nyanyi mereka dansa juga. Begitu keneklayangmu wis tak tompo wingi kui..” (berdendang) mereka langsung pelukan sampai habis, nggak dilepasin pacarnya (tertawa).

didi kempot

Saya itu mendengarkan Didi kempot itu sejak TK…

Iya lah aku nyanyi sejak tahun ‘89, pasti kamu belum lahir.

Fans juga ada regenerasi berarti ya?

Ada banyak, ada yang ngomong “mas Didi aku ndisik rungokke sampean sejak cilik saiki wis ndue anak”,[v] tapi Alhamdulillah-nya sampai sekarang orang-orang masih dengerin, itu kebanggan tersendiri. Kita buat sesuatu, diterima jangka panjang, tidak gampang di lepeh (dibuang-red), itu mungkin siapapun senimannya akan bangga. Waluapun pelukis, penari, semua sama.

Selama bermusik dari dulu, apa yang berubah dari aransemen musik Didi Kempot?

Ndak ada perubahan, lagu-lagu saya kan sebenernya bisa dibilang campursari, bisa dibilang cong-dut, keroncong dangdut. Banyak yang menyebut campursari, tapi sebetulnya kan keroncong dangdut karena selalu ada gendhang. Ketipung itu lho. Kayaknya lebih muda gitu lho, cah enom sik gelem nompo.[vi] Karena dari beat-nya ya, jadi walaupun mellow tapi kaki tetap goyang.

Kalau dari tema-tema yang dinyanyikan?

Cinta lah. Cinta-guyon-cinta-guyon. Soalnya ya emang harus kayak gitu, biar adil. Kudu enek guyone kudu enek seriuse.[vii] Kan orang Jawa kayak gitu, saya belajar dari lagu-lagu lawas kayak “thok menthok tak kandhani..” (bernyanyi) itu guyon, atau misal “bu sibu ono kere teng njawi” (bernyanyi) itu sudah dipelajari sejak saya kecil. Ada “tak lelo lelo lelo legung..” (bernyanyi) itu serius, ha nekkodhok ngorek..” (bernyanyi) itu ajaranya sejak jaman nenek mbuh kapan kan. Akhirnya itupun yang nyiptain siapa saya ndak tahu. Saya sudah setua gini masih menikmati. Anak saya nyanyi “Kodhok Ngorek” ya mau, itu sudah lengket dengan budaya. Kita sebagai orang apa, nek aku wong jowo ya nggak mungkin hilang lagu-lagu Jawa. Nek aku wong batak rungokane pasti lagu-lagu Minang .[viii] saya ada keyakinan, lagu Jawa tidak akan bisa punah. Orang mantenan pasti jowo-jowonan, ada janur pasti ada gamelan. Ya kan?

Nggak ingin membuat lagu dengan tema lain kah?

Kritik sosial ada. Lagu saya “Kuncung” itu kritik sosial. “Kawet cilik rambutku dicukur kuncung.. andukku mung cukup anduk sarung,” (bernyanyi). Begitu akrabnya si manusia-manusia waktu itu. Tidak gampang berantem, tidak gampang tersinggung, sampai nek adus woh aku ra nnggowo anduk yowis iki wae ngge gentinan. [ix]Dolananku motor cilik soko lempung…” walaupun sekarang sudah ndak mungkin ada lagi, tapi minimal lagu itu kan monumen, sampai kapanpun tiap terdengar di radio atau dimana, akan bertanya si anak, apasih lempung? Daripada anak cucu kita buta tidak tahu sama sekali.

Didi Kempot selalu diidentikkan sebagai pelestari budaya Jawa.

Ya sambil lah istilahnya. Nek jenenge budaya kan harus dieling-eling ya, salah satunya ya dengan lagu seperti itu.[x] Dan saya selalu nulis banyak tentang daerah wisata. Kayak “Parangtritis”, “Pantai Klayar”, baru booming semua itu. Dalam arti saya bangga punya Indonesia, saya lagukan dan ternyata diterima, “Tanjung Mas” ninggal janji… yo to?

Selain tempat wisata, Didi Kempot sering membuat lagu tentang kota-kota kecil kayak “Nginepo Jeporo”, “Magelang Nyimpen Janji”, atau “Kangen Magetan”. Kenapa memilih kota-kota itu?

Tak ratani (tertawa),[xi] yang lain nanti tunggu waktunya (tertawa).

Berarti sekarang masih daerah Jawa aja ya?

Loh kan ada “Prawan Kalimantan”? “Kopi Lampung”? Itu rasa terimakasih saya kepada bumi dan masyarakat Lampung karena orang Jawa banyak yang mencari nafkah disana. Saya sanjung, saya bikinin lagu supaya rukun.

Kalau yang moda transportasi? Kan udah ada pelabuhan, stasiun, terminal. Apa yang menarik dari tempat-tempat itu?

Soalnya percintaan itu ya berawal dari situ. Karena tersenyum dan menangis ya disitu. Nek dikhianati ya pacarnya nangis disitu waktu berangkat. “Janji lungo mung sedelut..” (bernyanyi), waktu nulis “Stasiun Balapan” itu saya lagi ngamen. Dalam hatiku, betul-betu po cintanya? Nangis-nangis si mbaknya.  Ngko ojo-ojo lali, “lali opo pancen nglangli…” (terkekeh).

Kok belum bikin tentang bandara?

Iya ya belum ya? Nanti deh saya bikin, sakjane yo kudu digawe yo bandara yo. Soale yo akeh wong jowo sing dadi pilot (tertawa).[xii]

Siapa tahu jadi duta pesawat juga kan habis itu…

(tertawa) Kereta api disik ae. “Stasiun Balapan” itu kan ada di album Cidro. Itu album lebih populer di luar negeri, kayak di Belanda. Itu rame banget karena banyak radio Jawa di sana waktu itu.

Kalau popularitas campursari di Indonesia sendiri menurut Anda gimana? Apa cuma populer di Jawa?

Saya itu sudah diundang ke seluruh provinsi di Indonesia, mungkin karena faktanya orang Jawa itu kerja sampai mana-mana. Tapi penduduk aslipun juga senang, ada orang Medan pingin belajar “Sewu kutho”. Pingin tahu, itu sudah menarik untuk saya.

Lagu-lagu Didi Kempot memakai lirik campuran Indo-Jawa?

Ada sebagian bahasa Indonesia, tapi paling 1 banding 100. Ada lagu “Sutradara Cinta” itu cukup boooming, itu saya mencoba menulis lagu bahasa Indonesia, ternyata diterima juga. Itu cuma nyoba aja sih, tapi kalo totalitas tetap Jawa. Terakhir-terakhir ini ya jowo kabeh.

Selalu menarik di lirik lagu Didi Kempot ada istilah-istilah gaul Jawa kayak “sekonyong konyong koder” dan lainnya..

Pupus godhong gedhang ajang pincuk saiki wis ra karuan..” itu kan bahasa-bahasa orang kita. Orang Jawa itu nrimo. Nrimo-nya orang Jawa itu laku, berarti nglakoni. Bukan nrimo untuk diapa-apakan diam, ndak. Makanya ada lagu “Aku Dudu Rojo”, biar dingin. Biar ndak ambisius, yowis pancen aku wis nyobo.[xiii] Kalau bisa ya budayanya jangan  berubah lah.

didi kempot

Perkembangan musik campursari di Indonesia sekarang seperti apa?

Standar, tidak boom lalu hilang juga. Mengalir terus. Makin banyak anak muda yang nyanyi lagu Jawa kayak NDX. Dimodel kayak apa-apa, ya bagus aja. Kreatifitas anak muda tapi ndak melupakan bahasa ibunya. Kalau jenis musiknya monggo silahkan bebas. Kalau penerus campursari ada beberapa, dari Jawa Timur itu banyak yang mulai tekun. Tapi kalau yang menulis lagu agak jarang, ada yang dari Banyuwangi, kalau di sini ada tapi ndak produktif. Ndak terus-terusan, kadang hilang.

Di sebuah wawancara NDX bilang pingin kolaborasi sama Didi Kempot lho…

Iya, saya nonton pas di Kick Andy di MetroTV. Berarti kan anak itu mungkin umurnya sama kayak cucu saya ya? Tapi menyebut Didi Kempot kan luar biasa. Harusnya siapa gitu… Endank Soekamti, malah Didi Kempot (terkekeh). Saya juga sempat kolaborasi lagu “Parangtritis” sama Endank Soekamti tahun 2013.

Itu gimana ceritanya bisa kolaborasi?

Si Erix yang bilang, ”mas ayo kolaborasi ‘Parangtritis’”. Tak bilang “ya ayo ketemu”. Sudah gitu aja, nggak pakai rencana panjang. Ternyata diterima juga sama masyarakat.

Selama ini musik campursari kurang disorot oleh media musik, menurut Anda?

Nah itu. Kayak yang ku bilang tadi, sekarang (di TV) masih ada, walaupun sekian persen untuk tayangan nasional ya. Ya sekarang paling kalau masuk TV pas ada kompetisi semacam D’Akademia atau apapun bentuknya. Nah di situ disuruh ikut ngisi acara. Tapi saat dulu boom-nya campursari saya sempet bikin acara Es Campur Es Didi Kempot, itu dengan seniman-seniman Yogya yang di belakangnya. Berdirinya TV 7 pertama kali, antara tahun 2001 -2002 lupa aku pasnya, antara itulah. Bahkan di situ kita kolaborasi dengan semua, Kla Project, Slank nyanyi bareng kita, terus Siti Nurhaliza. Banyak, hampir semua penyanyi Indonesia di panggung kita.

Menurut Didi Kempot harusnya seperti apa media musik melihat campursari?

Harusnya ada yang fokus, tidak cuma ben lewat, jangan cuma mesakke. Total gitu, harusnya ada yang membantu kami. Karena nggak mungkin habis, generasi itu akan terus lahir. Umpama bayi itu akan mbrangkang sakarepe dewe.[xiv]

Karena jarang ditulis, bahkan untuk nyari discography Didi Kempot aja susah.

Sementara lagu-lagu saya itu nggak saya openi. Banyak teman-teman musisi yang bilang “mas kui duit lho mas.. diopeni”, saya jawab “ngko sik lah, ngko enek sing ngopeni sopo ngono..” sementara saya tak gini saja.[xv]

Pengarsipan kurang  ter-handle berarti ya?

Iya, banyak teman-teman yang menyayangkan, tapi biar dulu. Anak saya nanti mungkin yang saya suruh ngurusi.

Tapi kalau dikira-kira, sudah berapa lagu yang diciptain?

Sudah di atas 700 mungkin ya, di sini dan di luar negeri ya. Album saya yang beredar di Belanda dan Suriname aja ada 18. Yang di sini ya banyak sekali. Kadang pas orang bayar lagu saya, kadang saya “lagu sing endi to?” “sing niki lho mas..” “coba nyanyio.. oooo” (tertawa) baru ingat.[xvi] Jadi saya itu tobong banget, nggak ngikuti perkembangan zaman. Tobong itu ketinggalan jaman.

Kalau album?

Banyak, sampean tanya di toko pasti bingung itu. Ada yang keluar di Youtube tapi nggak komplit.

Apa yang dikejar dari produktivitas yang sangat tinggi itu?

Bukan ajimumpung ya, karena saya mampu aja, karena saya masih mampu bikin. Saya ndak pernah berpikir laku dan tidaknya, yang penting karya yang saya buat akhirnya jadi album, saya lempar ke masyarakat, ternyata banyak yang nyangkut. Dan yang jelas produser pun minta. “Mas ono sing anyar ora?” Jadi kan selama ini saya nggak ada ikatan kontrak dengan produser manapun, jadi semua label ngeluarin lagu saya. Musika ada, Billboard ada, yang belum cuma Sony Music aja. Atlanta Records ada, Virgo, Ramayana, banyak pokoknya.Terakhir-terakhir ini dari Jawa Timur ada Perdana Records.

Kenapa nggak milih kontrak dengan satu label?

Jangan, nanti kita diatur. Keluar albumnya diatur pasti, mau keluar album antri, kan mereka pasti artisnya banyak. Makanya kamu tadi nanya setahun kok bisa empat album itu kayak apa? Mungkin mikirnya promonya kayak apa? Makanya saya menghindari itu. Ada kepuasan ketika mengatur karya sendiri, kita berseni kan di situ.

Tahun 2000-an ke bawah kan musik dijual lewat bentuk CD. Sekarang zaman internet, musik-musik lain sepertinya sudah menyesuaikan. Kalau campursari gimana? Apakah strategi distribusinya berubah?

Ya itu. Makanya untuk karya ndak tak openi, tapi banyak orang ngaplot lagu saya, dibeginikan dibegitukan, itu menguntungkan saya secara popularitas. Tapi kalau secara ekonomi saya nggak menikmati.

Dari sekian banyak album, mana yang paling berkesan?

Stasiun Balapan pasti, Sewu Kutho juga. Aku Dudu Rojo itu saya suka, saya mewakili wong cilik banget itu.

Lagu-lagu Itu dari pengalaman asli?

Ada lah sebagian. “Cidro” itu “wis sakmestine ati iki nelongso, wong sing tak trisnani mblenjani janji” (bernyanyi). Bukan diukur karena saya punya duit atau nggak, ingkar itu kan nggak mesti karena kaya atau miskin. Ternyata dia kok ingkar, kenapa kamu tega gitu.

didi kempot

Baru-baru ini Anda juga diajak KPK di event Ngamen Anti Korupsi?

Itu saya diajak, saya malah nggak kepikir sampe kesitu. Orang KPK ngajak ayo ikut ngamen anti korupsi, siap! Seniman kan kadang nggak nyeleneh-nyeleneh gitu. Kan aku ndak berpikir akan sampai kesitu, secara pengetahuan aku nol. Kalau tentang pasal aku ndak tahu, tapi nek ngandani aku iso.[xvii]

Kalau diajak kampanye partai politik pernah?

Parpol pernah semua. Ya dia ngundang saya, saya dibayar untuk nyanyi, yaudah. Mungkin kepentingannya untuk pilkada kan. Menjelang legislatif nanti diajak nyanyi di sana-sini, oh ya siap. Tidak terikat.

Kalau yang nawarin jadi kader nggak ada ya?

Ora iso, malah kleru ngko (tertawa).[xviii] Ya namanya ngamen aja, jual jasa kok. Kayak angkot aja, siapapun yang naik ya monggo. Ada mahasiswa, pedagang kacang ya monggo.

Lalu seperti apa pandangan politik seorang Didi Kempot?

Kita cukup nonton aja, melihat aja.

Ini membuat penasaran banyak orang, kenapa Didi Kempot dari dulu gondrong? Apakah itu statement prinsip atau apa?

Sekarang udah mbrodol (terbahak).[xix] Saya dari dulu sampai sekarang ya begini. Bukan statement politik atau apa, tapi yang jelas ketika pertama nyanyi “Stasiun Balapan” itu orang-orang pada kaget, soalnya nyanyi jawa tapi rambutnya gondrong. Sakarepe dewe jaketan kulit,[xx] norak, itu yang malah menarik untuk saya, saya diomongin berarti banyak yang memperhatikan saya. Aku yakin. Orang rata-rata mencemooh, ning aku bangga, berarti aku ditonton. Nek aku dicuekin berarti aku nggak dianggep.

Nggak ingin bikin buku biografi Didi Kempot sebagai ikon campursari Indonesia gitu?

Belum, ada beberapa teman penulis nawari, aku bilang nanti dulu. Aku punya target kalau Tuhan ngasih umur panjang aku pingin bikin 1000 lagu dulu. Tapi ora ngawur 1000 lagu, aku pingin bikin beneran. Misal satu album 12 lagu ya semua didengerin dimanapun enak, ora ngasal.

Kalau sekarang ini sedang mengerjakan apa?

Baru mempersiapkan album lagi, album yang mau aku keluarkan ini judulnya Aku Ora Dolan. Itu bisa dimaknai banyak sekali. Jadi apapun yang kita perbuat itu nggak main-main, jadi kalau sekolah ya sekolah bener. Aku ora dolan. Kita merantau, keluar dari pintu rumah,  aku ora dolan. Jadi itu biar punya tanggung jawab pribadi, untuk semua orang, bahwa hidup itu nggak main-main.

#sarapanmusik ?

Bangun tidur aku ngoreksi lagu anyarku e, tak puter.[xxi] saya demokratis kalau di rumah. Misal sudah jadi 10-12 lagu, bojoku tak rungokke, “koe seneng sing endi? Tenane? Sing kae pak.”[xxii] Anakku juga. Soalnya kadang pilihan saya meleset juga, tapi voting di dalam rumah itu mewakili telinga banyak orang.

didi kempot

———

*Penggunaan endnote di artikel ini demi kenyamanan pembaca. Karena banyaknya istilah bahasa Jawa yang substansial, namun akan terasa mengganggu jika setiap terjemahan dimasukkan ke paragraf. Semoga tetap bisa menikmati wawancara ini.

[i] “Seniman itu nggak usah sekolah tinggi-tinggi? Kamu punya bakat nggak? Gitu aja. Jangan teori, praktek nak,”

[ii] “Jim Morrison? Aku nggak tahu mbak, aku cuma suka kaosnya.”

[iii] “Seneng lho nyanyi di sana bisa mengobati kangennya orang-orang, mereka mungkin hiburan apapun banyak ya, tapi begitu kami datang mereka nangis ingat rumah.”

[iv] “Mungkin muka saya ini cocok buat contoh orang yang naik kereta.”

[v] “Mas Didi, dulu aku dengerin kamu sejak aku kecil sampai sekarang aku sudah punya anak,”

[vi] “Anak muda masih mau nerima.”

[vii] Harus ada becandanya, harus ada sedihnya.

[viii] Kalau aku orang Batak ya dengernya lagu-lagu Minang.

[ix] Tidak gampang berantem, tidak gampang tersinggung, sampai kalau mandi lupa bwa handuk, oh yaudah handuk ini aja buat gantian.

[x] Yang namanya budaya harus diingat-ingat ya, ya salah satu caranya dengan lagu seperti itu.

[xi] Saya ratakan

[xii] Sebetulnya ya harus dibikin ya lagu tentang bandara, kan banyak orang Jawa yang kerja jadi pilot.

[xiii] Biar nggak ambisius, yaudah pokoknya aku sudah mencoba.

[xiv] Umpama bayi itu akan merangkak dengan caranya sendiri.

[xv] Banyak teman-teman musisi yang bilang mas itu uang lho mas, dirawat, saya jawab nanti dulu lah, nanti pasti ada yang mengurusi, siapalah nanti..” sementara saya tak gini saja.

[xvi] Kadang pas orang bayar lagu saya, kadang saya lagu yang mana to?” “yang ini lho mas..” “coba nyanyiin.. oooo” (tertawa) baru ingat.

[xvii] Kalau tentang pasal aku nggak tahu, tapi kalau menasehati orang aku bisa.

[xviii] Nggak bisa, malah salah nanti.

[xix] Sekarang udah rontok.

[xx] Seenaknya sendiri pakai jaket kulit,

[xxi] Bangun tidur aku ngoreksi lagu baruku, aku putar.

[xxii] Misal sudah jadi 10-12 lagu, aku perdengarkan ke istriku, “kamu suka yang mana? Beneran? Yang itu pak,”

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response