close

Dita Permata Sari: Pesona di Balik Piano Hitam

IMG_6942i

 

Words: Tjok Khresna | Photo: Angelina Anjar

 

Dita Permata Sari © Warningmagz
Dita Permata Sari © Warningmagz
Dita Permata Sari © Warningmagz
Dita Permata Sari © Warningmagz
Dita Permata Sari © Warningmagz
Dita Permata Sari © Warningmagz
Dita Permata Sari © Warningmagz
Dita Permata Sari © Warningmagz
Dita Permata Sari © Warningmagz
Dita Permata Sari © Warningmagz
Dita Permata Sari © Warningmagz
Dita Permata Sari © Warningmagz
Dita Permata Sari © Warningmagz
Dita Permata Sari © Warningmagz

 

Tawa lepas dan perkenalan hangat cukup mengagetkan kami sewaktu pertama menyapanya. Nada bicaranya yang lugas, jelas dan pasti cukup mengesankan sisi perfeksionis dalam dirinya. Ya, dia adalah Dita Permata Sari, sosok di belakang keyboard Koala. Bersama rekan-rekannya, ia siap membius Anda dengan melodi dan nada yang tak kalah mempesona dari senyumannya.

Dita membukakan pintu dengan ramahnya. Jabat erat tanda perkenalan membuka perbincangan kami kala itu. Kami ingat bagaimana Dita mempersiapkan semuanya dengan baik dan teliti. Dua keyboard ia tata dengan baik di dalam studio mini yang berada di belakang rumahnya sambil sesekali mengajak kami berbicara. Tak sedikit tawa yang keluar saat itu, dan ya, Dita sosok yang sangat mudah larut dalam pembicaraan dan candaan.

Saat kami menyiapkan berbagai peralatan foto dan lighting, ia sekejap menghilang dari pandangan kami yang juga cukup sibuk menyiapkan segala. Jadwal Dita yang cukup ketat juga sedikit berdampak pada segala persiapan kami kala itu. Tapi toh ia tetap bisa tampil cantik dan tetap ceria bersama kami di sesi pemotretan tersebut.

Sejak usia sembilan tahun dan sampai kini, Dita serius menggeluti piano sebagai jalan bermusiknya. Semua ternyata bermula dengan begitu saja. “Waktu itu aku datang ke pesta ulang tahun seorang temanku. Di sana aku melihat seseorang memainkan piano dan mengiringi kami bernyanyi. Mulai detik itu aku jadi tertarik dan sampai di rumah langsung minta belajar piano ke orangtuaku,” ia mengisahkan perkenalan pertamanya dengan piano. Ceritanya yang begitu jujur dan sederhana itu semakin memikat kami untuk terus memperhatikan berbagai cerita Dita lainnya.

Sempat juga ia bercerita tentang pendidikan musik yang sempat dilahapnya selama ini. Sedikit membingungkan sebenarnya, tapi tak mengurangi rasa penasaran kami akan ceritanya. “Dulu aku pernah les di Yamaha Musik Indonesia, piano klasik, step 8. Terus pernah juga les di Associated of Royal School of Music, piano klasik juga sampe grade 5. Pernah juga belajar di program Piano Pop-Jazz Hana Music School”. Kegemarannya dalam bermain piano klasik rupanya juga dimanfaatkan oleh kedua orangtuanya yang sering memintanya mengiringi nyanyian mereka berdua. “Bahkan suatu ketika aku jadi lebih ngerti lagu-lagu nostalgia daripada lagu-lagu populer saat itu,” jawabnya sembari tersipu malu.

“Sekarang aku lagi sibuk sama dua band, dua-duanya lagi dalam proses bikin album. Band yang satu Koala, yang satu lagi Tik! Tok! Kalau Koala udah jalan enam tahun, alirannya fusion dan udah punya enam lagu yang di-record. Sementara Tik! Tok! Itu formatnya akustik, dua gitar, satu keyboard, tiga vokal. Lagu kedua band tadi bisa didengerin di Soundcloud lho!” Ceritanya yang begitu antusias dan tatapan matanya yang serius, terang saja membuat kami penasaran dan pasti akan mencoba mendengarkan sampel lagu kedua band yang baru saja disebutkan Dita tadi. Hmmm

 

 

“Buatku, musik itu kayak handphone, bisa dipakai buat alat komunikasi dengan orang lain. Kita bisa menyampaikan pesan lewat lagu atau musik. Selain itu, zaman sekarang orang juga enggak bisa hidup tanpa handphone kan? Kemana-mana bawa handphone. Begitu juga dengan musik, orang enggak bisa lepas dari musik. Kapanpun dan di manapun dia berada, pasti bakal dengar musik,” katanya sambil lalu.

Akhirnya keceriaan kami saat itu tetap harus berakhir juga. Waktu menunjukkan pukul 12.55 dan Dita rupanya diburu waktu untuk les vokal. Beberapa frame foto dan sedikit pertanyaan lain sempat kami ajukan padanya, dan ia menyetujuinya. Jadilah kami bisa bercengkerama lebih lama lagi.

Khayalannya untuk berduet dengan David Foster sembari bermain piano di lautan lepas, entah itu Samudera Pasifik atau di pegunungan tinggi macam Himalaya, ia lontarkan dengan gaya khasnya yang tidak lepas dari tawa. Pun ia tambahkan kekagumannya pada musisi Tanah Air seperti Glenn Fredly yang selalu bermusik dengan hati. Apakah Dita juga ingin berduet dengan Glenn Fredly? Entahlah, ia terlalu bersemangat bercerita tentang samudera dan pegunungan tadi.

Apresiasi juga ia berikan akan kiprah musisi Jogja saat ini. Mulai dari memasuki kancah nasional sampai mencoba peruntungan di dunia internasional sudah dilakukan oleh musisi Jogja menurutnya. “Promosi lewat media sosial memang ngaruh banget buat melebarkan sayap musisi sekarang ini. Selain promosi lewat sosmed, udah banyak juga lho musisi Jogja yang konser langsung di luar negeri” ungkapnya. “Aku sama teman-teman dari Koala dan Tik! Tok! Juga terus usaha nih biar bisa cepet kelarin album terus bisa promosi di luar negeri. Biar orang luar juga tahu kalau musisi Indonesia itu juga nggak kalah sama musisi internasional lain.”

Ia sempat tersipu saat ditanya mengenai pengalaman menarik dengan fans, terutama fans laki-laki. “Dulu pernah ada orang yang ngirim surat sama buat video dia main piano buat aku, dia bilang mengidolakan aku. Pernah juga ada yang buat akun twitter @iamditalicius dan tahu segala hal tentang aku. Ya! Segala hal.” Melihat dia tersenyum menceritakan hal tersebut, kami hanya bisa bergumam, mungkin kami akan melakukan hal yang sama dengan dua pria tersebut, apalagi setelah melihatmu bermain piano dari dekat dengan senyum yang selalu terpancar di wajahmu itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tags : dita permata sariWarning Lady
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response