close

[Album Review] Down For Life – Himne Perang Akhir Pekan

himne akhir pekan cover
himne akhir pekan cover

Down For Life – Himne Perang Akhir Pekan 

Label: Sepsis Records

Watchful Shot : Prosa Kesetaraan –  Pesta Partai Barbar – Pasukan Babi Neraka

[yasr_overall_rating size=”small”]

Band cadas kebanggaan Kota Bengawan, Down For Life, meluncurkan album keduanya  dengan mengemas kecadasan mereka kedalam versi yang jauh lebih dewasa. Berlangsung cepat bernapaskan petikan metalcore dari duo gitar Moses dan Rio, “Prosa Kesetaraan” langsung menggetarkan konstruksi telinga dan seakan mengubur suara merdu wanita di intronya yang ternyata membawakan lagu berjudul “Panis Angelus” karya Cesar Franc. Suara Aji, sang vokalis, dilapisi dengan sang basis Jojo nampaknya menghiasi nomor ini dengan suara yang sedikit heavy growl. Menuju ke lagu ketiga, “Air Udara Tanah Api”, seperti tidak ada perubahan besar dalam musikalitas mereka, mengingat adanya pergantian personil yang terjadi. Nuansa lirik nampaknya dibangun menjunjung isu lingkungan yang belakangan semakin hancur oleh tangan serakah manusia seraya melancarkan wacana secara semiotik untuk perbaikan alam raya.

Tempo awal yang cukup cepat nampaknya akan menghantarkan lagu “Pesta Partai Barbar”  sebagai himne perang akhir pekan pada moshpit di depan panggung penampilan mereka nantinya. Ada juga Kota Solo yang juga mereka ingin perkenalkan lewat lagu “Village to Privilege”. Kemudian tempo diturunkan dalam adukan adonan “Kami Adalah Api”, dan semakin turun hingga terdengar kejutan yang cukup brilian, sisipan ayat kursi! Lagu ini mengawali dirinya dengan lantunan merdu ayat kursi yang dibarengi dengan fade in gitar dan disongsong dengan gebukan drum yang menghantarkan kepada terbitnya ayat-ayat “Liturgi Penyesatan”. Dibacakannya ‘Doa Bapa Kami’ oleh gadis kecil bernama Kenny Gabriela sungguh membuat lagu ini menggetarkan hati.

Kemudian hasil karya penghujung dari Down For Life di album ini, “Pasukan Babi Neraka”, ialah sebuah hadiah untuk loyalitas para fans setia yang selalu berpesta pora di depan setiap panggung. Ditutup dengan (lagi-lagi) lagu rohani berjudul “Alleluya” karya George Frideric Handel yang dibawakan oleh kelompok paduan suara, album ini meninggalkan kesan penuh kejutan yang sarat makna. Semiotika yang melimpah ruah, membuat penikmatnya juga harus berpikir untuk dapat mengerti. Makna terpendam yang mereka coba ingin sebarkan nampaknya akan cukup menyadarkan penikmatnya tentang isu-isu yang harus diselesaikan secara gotong royong. [Bayu Pratama]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.