close

Duduk Bersama, Pertemuan Musik dan Puisi

db
duduk bersama
duduk bersama

Senja temaram di kota Yogyakarta dan sisa dingin hujan sepanjang siang itu menyambut pertemuan segar dalam gelaran Duduk Bersama edisi 2, tepatnya di Suave Cafe & Bar Yogyakarta. Malam itu, Rabu (13/5), suasana cafe mendadak ramai oleh pengunjung yang ingin menikmati suguhan musik puisi. Belum jua pembawa acara mengucapkan salam pembuka, semua kursi sudah terisi, puluhan pasang mata sibuk memeriksa deretan sajian kuliner dalam daftar menu.

Mengejutkan, kata tersebut tepat untuk mewakili antusiasme para pengunjung dalam gelaran Duduk Bersama. Acara yang mengusung tema musik dan puisi tersebut sekiranya dapat dijadikan tolak ukur tentang bagaimana musik puisi masih ada di hati para pendengar khususnya di Yogyakarta. Bagaimana tidak, April lalu, tepatnya pada gelaran Duduk Bersama yang pertama jumlah pengunjung tak semeriah dan sebanyak bulan ini. Setidaknya tolak ukur di atas dapat memberikan simpulan bahwa peminat musik puisi acara Duduk Bersama semakin bertambah.

Mishbah membuka malam dengan balada bernuansa cinta yang manis nan romantis. Suara lembut dari vokalis Fabiola Mahareza mencuri perhatian para pengunjung lewat lagu “Lelaki Pesawat Kertas”. Gilang Alamsyah dan kawan-kawan menyuguhkan sentuhan romantik balada dengan lirik-lirik liris membuat para pengunjung kerasan. Mishbah, penampilan grup musik yang lahir dari sebuah teater kampus Universitas Negeri Yogyakarta mengawali acara malam itu dengan mengesankan. Suasana di ruang cafe bertambah hangat, pertemuan-pertemuan yang tercipta antar pengunjung di meja-meja itu layaknya sebuah belanga yang memasak keakraban-keakraban untuk dinikmati bersama. Adanya ruang atau lapak yang disediakan panitia menjadi hal baru dalam perhelatan Duduk Bersama kali ini, hal tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh Needles And Bitch dengan menjual hasil kerajinan tangan dan tak ketinggalan juga partisipasi Interlude dengan menjual beberapa buku-buku yang diterbitkannya.

Berlanjut Egi Azwul lewat “Wayang” menghentak panggung dengan lirik yang berkesan epik ditambah lagi kemasan folk yang frontal dengan jeritan biola dari gesekan tangan Donny Onfire. Ada juga buah kolaborasi satu nomor dari Bob Dylan “Blowin in the Wind” yang dibawakan bersama Ved, tepuk tangan tak terbendung. Selesai dengan Egi Azwul, telinga para pengunjung dimanjakan dengan suara lembut yang datang dari lagu-lagu yang dibawakan oleh Kami Bertetangga. Pengunjung diajak bertamasya ke desa-desa mengenal suka duka dengan lirik-lirik lagu Kami Bertetangga sebagai kendara. Melalui “Cerita Tanah Lapang”, Kami Bertetangga sukses mengajak pengunjung ikut bernyanyi bersama. Duduk Bersama kali ini memberikan suguhan para penampil yang mempunyai karakter berbeda-beda, hal ini menjadikan panggung Duduk Bersama terasa lebih dinamis.

Selanjutnya, Kopibasi ambil bagian, lewat puisi “Ayun Kapak Bapak” karya Rabu Pagisyahbana yang dibacakan dengan mantap oleh Mathorian Enka, Kopibasi berhasil menarik perhatian para pengunjung yang hadir. Beberapa lagu Kopibasi sebagian juga berasal dari puisi-puisi para penyair Yogyakarta di antaranya Rabu Pagisyahbana dan Joko Pinurbo. Grup musik yang lahir dari dalam komunitas sastra Ngopinyastro ini mendapat apresiasi lebih dari pengunjung, lewat lagu “Doa Ketika Bepergian” dan “Cukuplah Pagi yang Telanjang” Kopibasi melanjutkan malam Duduk Bersama dengan meriah.

Selanjutnya, Talamariam mengkoyak-koyak panggung, nada-nada minor gothic dilantunkan pelan, perlahan lalu memburu bak anak panah menerkam sasaran. Suara cadas sang vokalis membacakan lirik-lirik bertemakan kritik sosial politik beradu ngeri dengan efek elektrikal yang dilantunkan dengan instrumen synthizer. Penampilan heboh dari Talamariam sukses menutup barisan para penampil di acara Duduk Bersama 2, pengunjung terpukau lewat aksi penutup Talamariam. Malam yang ranum itu akhirnya masak oleh para penampil di jam session. Para pengunjung turut berpartisipasi, salah satunya Kontemproduk, memberanikan naik ke atas panggung lalu melantunkan beberapa lagu karya mereka, sontak pengunjung bersorak sorai menyambutnya. Rabu Pagisyahbana yang juga hadir pada malam itu membacakan sebuah puisi yang dinanti-nanti oleh para penonton, tak ketinggalan juga M Akid Aha membacakan puisi dengan gaya blues-nya. Jam Session ditutup dengan penampilan Sasmita musik yang melantunkan lagu dari puisi Chairil Anwar berjudul “Sajak Putih”.

Gelaran Duduk Bersama 2 akhirnya tuntas dengan apik dan ciamik. Pertemuan musik dengan puisi ataupun sebaliknya dalam satu panggung dapat dinilai sebagai suatu ide segar untuk mengapresiasi musik puisi. Selain itu, Duduk Bersama juga memiliki andil dalam upaya kreatif mendokumentasikan karya-karya dari para musisi dan penyair yang tampil. Dokumentasi karya tersebut berupa kemasan audio-visual yang nantinya akan dipublikasikan ke media sosial, seperti Youtube dan Soundcoud. Boleh mengambil kesimpulan dari gelaran Duduk Bersama 2 adalah tumbuhnya semangat untuk berkarya dan kemudian melestarikannya, termasuk juga kesadaran-kesadaran untuk merekam jejak suatu karya.

Teks dikirim oleh: Galih Fajar

Event by: Ngopinyastro

Date and venue: 13 Mei 2015, Suave Bar n Cafe

Man of the Match: Kopibasi di lagu “Doa Ketika Berpergian”, penonton menyanyi bersama

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response