close

#DWP14 : Eat, Sleep, DWP. Repeat! (Day 2)

dwpww

Sekitar lebih dari 40.000 orang memadati venue untuk bergoyang bersama menikmati musik dari DJ-DJ kenamaan sambil sesekali menenggak minuman berlabel yang dijual di sekitaran stage. Ditambah sinar laser yang saling beradu menambahkan efek visual yang apik dan membuat suasana malam menjadi gemerlap. Itulah sedikit gambaran dari bagaimana riuhnya salah satu event yang ditunggu-tunggu oleh banyak anak masa kini, yaitu Djakarta Warehouse Project 2014.

Djakarta Warehouse Project 2014
Djakarta Warehouse Project 2014

Acara yang dipromotori oleh Ismaya Live ini merupakan gelaran kelima Djakarta Warehouse Project (DWP) yang dimulai dari tahun 2010. Untuk tahun ini, DWP digelar dua hari pada tanggal 12-13 Desember 2014, untuk lebih memuaskan para partygoers dan pecinta musik EDM. Venue yang digunakan gelaran tahun ini pun lebih besar, yaitu di JI Expo, Kemayoran.

Untuk line-up sendiri jelas DWP 2014 memiliki lebih banyak artis ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Tercatat 24 artis asing dan 38 local heroes tampil kesetanan; seperti Above&Beyond, Steve Aoki, Nicky Romero, Skrillex, Martin Garrix, Midnight Quickie, DJ Yasmin, Winky Wiryawan dan masih banyak lagi. Ditambah Life in Color–penyelenggara paint party terbesar di dunia, dimana ditengah-tengah DJ sedang memainkan setlistnya, penonton akan disemprot dengan selang yang berisi cat, juga menambah semarak DWP tahun ini.

Saya sendiri sampai di venue pukul 17.30, satu jam setelah acara dibuka menurut official rundown. Setelah menunggu lima menit akhirnya kami diperbolehkan masuk. Ada yang menarik dari sistem ticketing DWP14 ini. Mereka menggunakan sistem RFID dan setiap wristband yang dipakai oleh pengunjung sudah dilengkapi chip. Teknologi yang memang sedang booming di Indonesia tetapi masih tergolong baru untuk digunakan di festival musik.

N.E.V.
N.E.V.

Seperti tahun lalu, DWP masih menggunakan tiga stage yang sama yaitu Garudha Land (outdoor), Neon Jungle dan Life in Color (indoor). Saya langsung menuju ke stage Life in Color karena penasaran dengan konsepnya. Sambil menikmati house music dari DJ Deefo di stage, saya melihat ke sekitaran dan tampak balutan kain hitam di seluruh ruangan, yang tampaknya seluruh ruangan akan basah dengan cat dari Life in Color. Kemudian saya berpindah menuju Neon Jungle dimana N.E.V (Nidji Electronic Version) sedang tampil. Tak banyak berbeda dengan Nidji versi biasa, N.E.V hanya menambahkan sedikit efek electronic pada setiap alat musik personilnya dan lebih didominasi oleh bass dan drum. Tidak seperti lagu mereka yang bisa dikatakan electro-pop seperti Heaven atau Disco Lazy Time–yang dikuasai oleh permainan synth dan autotune dari Run-D. N.E.V memainkan medley dari beberap lagu pop dan EDM; seperti “Rude” milik Magic!, “One More Time” milik Swedish House Mafia, “Sweet Dream” milik Marilyn Manson dan beberapa lagu Nidji sendiri seperti “Heaven”, “Indahnya Cinta”, dan “Di Atas Awan.”

Akhirnya malam pun tiba, JI Expo pun semakin dipadati oleh party people. Pesta kali ini tak hanya milik orang Indonesia. Nyatanya, bendera negara dari Brazil, Malaysia, India, Swedia, Hongkong, Belanda, dan Jepang juga menghiasi malam itu. Mungkin faktor harga tiket yang lebih murah ketimbang Zoukout di Singapura yang diselenggarakan pada hari yang sama dan dengan line up yang sama juga.

Justeen X Sliqq menjadi pilihan saya selanjutnya. Duo DJ asal Bali ini memberikan penampilan yang sangat energik. Mereka didaulat sukses karena berhasil membuat penonton bergoyang dan melompat mengikuti musik mereka. Penampilan mereka ditutup dengan mengajak penonton bersama-sama bernyanyi “One Love” milik Bob Marley, tanpa di-mixing tentu saja. Kemudian disambung dengan penampilan duo local heroes, Yasmin dan Dipha Barus. Yasmin lebih me-mixing lagu-lagu pop seperti “Maps”–Maroon 5, “Holy Grail”-nya Justin Timberlake, dan lagi-lagi “Rude” milik Magic!. Paras ayu dan penampilan energik Yasmin sukses menghipnotis para pria yang ada di barisan depan. Apalagi ketika Yasmin naik ke deck, makin panas suasana dibuatnya. Namun, sempat terjadi insiden kecil ketika transisi dari Yasmin ke Dipha, tiba-tiba turntable Yasmin mati dan sempat terdiam beberapa detik. Tak berhenti di situ, Dipha Barus melanjutkan penampilan dengan style yang lebih progressive ketimbang Yasmin. Suasana menjadi pecah ketika Dipha memainkan nomor “Badinga” milik TWRK! yang juga menjadi penampil di hari pertama. Musik berjenis trap ini sukses membuat para penonton menggelengkan kepala hingga headbanging sesuai irama. Di sela-sela penampilan Dipha Barus, tetiba munculah lima wanita berbikini dan menari di depan panggung. Ya, mereka adalah CyberJapan, dengan liukan yang sensasional tentu saja sukses membuat para pria merelakan hatinya untuk dibuat berdebar.

Waktu menunjukan hampir pukul sembilan malam, saya memutuskan untuk ke Life in Color Stage untuk menyaksikan Matthew Koma. Sampai disana ternyata Winky Wiryawan masih menguasai panggung dan mengontrol penonton. Jika kebanyakan local heroes me-mixing lagu-lagu hits zaman sekarang, Winky lebih memilih memainkan nomor-nomor lawas seperti; “Numb” milik Linkin Park, “Viva la Vida” milik Coldplay, hingga “Killing in the Name” milik Rage Againts The Machine. Kemudian CyberJapan kembali hadir menari menggoda diatas panggung. Meskipun hanya menyaksikan Winky 20 menit terakhir, tetapi ia laik dinobatkan sebagai local heroes terbaik malam itu. Winky sendiri malam itu lebih memainkan nomor-nomor campuran antara progressive, electro house dan sedikit trance.

Tak lama kemudian Winky menyelesaikan setlist-nya dengan lagu wajib fans Coldplay yaitu “Fix You”. Semua penonton langsung mengulurkan tangan ke atas dan menggerakkan tangan perlahan laiknya sedang menonton Coldplay secara langsung. Sungguh penampilan luar biasa dari Winky. Sebelum Matthew Koma memasuki stage, MC dari LIC menyambangi penonton untuk memberitahu bahwa mereka akan “unleashed” cat ke seluruh ruangan dalam waktu 1 jam kedepan. Mereka juga sempat menyemprotkan sedikit cat kearah barisan depan untuk sekadar test drive. Kemudian puluhan layar LCD di atas stage berwarna merah menyala dan MC kembali memancing keributan para penonton. “Dare You to Move” yang menjadi lagu pembuka langsung memecahkan gemuruh di stage Life in Color.

Dilanjutkan dengan “Calling” (Lose My Mind), “Find You”, “Cannonball” dan “Years” yang sukses membuat party people berjingkrak-jingkrak. Tak sempat untuk berdiam diri pada saat itu karena setlist dari producer/singer ini selalu menghantam penonton untuk selalu mengeluarkan energi lebih. Namun, ada yang saya sayangkan dari kualitas sound di stage tersebut karena semakin lama suara treble semakin menyakitkan telinga dan tak enak didengar. Aksi Matthew Koma diakhiri dengan hits-nya yang membuatnya melejit, yaitu “Spectrum”. Teriakan “we want more” pun bergaung ketika Koma meninggalkan deck.

Akhirnya, saat yang ditunggu-tunggu oleh hampir semua pengunjung DWP14 Day 2 pun tiba, yaitu Life in Color. Jam hampir menunjukan angka 00:00 dan MC kembali memancing suara dari para penonton. Tak lama kemudian selang berukuran besar kembali keluar dari belakang stage dan disemprotkan kearah penonton. Sayangnya, jangkauan semprotan dari selang tersebut hanya 3-4 meter dari stage, dan agak membuat saya yang berada di lini tengah kecewa karena tidak kebagian.

Lalu saya buru-buru kembali ke Garudha Land untuk menyaksikan Above & Beyond yang hampir dimulai. Group asal Inggris yang terdiri dari Paavo Siljamaki, Tony McGuinness dan Jono Grant ini mengawali Group Therapy mereka dengan single terbarunya “We’re All We Need” yang bernuansa deep trance. Kemudian dilanjutkan dengan hits mereka “Sticky Fingers”, “Blue Sky Action”, “Sun & Moon” dan “On My Way to Heaven”. Genre musik mereka berbeda dari penampil lainnya. Apabila kebanyakan bermain di tataran progressive, maka mereka nyaman di deep trance yang bisa dibilang lebih ringan dan menyejukkan. A&B tak lupa mengeluarkan ciri khas yang selalu mengetik quote secara langsung tiap lagunya, sehingga menambah keintiman dengan penonton; “This is Jakarta, This is Heaven”, “Wow, I’m Amazed by You” dan “Thank You Jakarta” yang memancing sorak sorai penonton. Atau quote dari arti lagu mereka seperti “If you love someone let them know today”, “You are stronger than you think”, dan “Life is made of small moments like this” yang membuat penonton tersenyum. Penampilan A&B tentunya sangat mengakomodir bagi mereka yang datang dengan pasangannya. Paavo dan Tony juga mengajak penonton yang beruntung untuk sama-sama “push-the-button”. Ritual mereka lakukan bersama fans untuk menekan tombol “play” pada turntable.

Penampilan A&B
Penampilan A&B

Selanjutnya Garudha Land disambangi oleh DJ asal Belanda yaitu Nicky Romero, salah satu superstar DJ yang dinantikan di DWP14. Dibuka dengan visual yang memukau ditambah letupan kembang api, menghipnotis penonton untuk tetap menumpahkan gerakan.
“Like Home”, “Toulouse”, “Legacy”, dan “I Could be the One”, yang merupakan hits DJ dengan ciri khas topeng ‘anonymous’, ini sukses membuat dini hari di JI Expo semakin gempita. Ditambah beberapa kali kembang api yang meluncur dari belakang stage menjadi paduan yang sempurna.

Tibalah di ujung acara, Steve Aoki menjadi senjata pamungkas di Garudha Land untuk menyelesaikan DWP 14 pagi itu. Yang ditunggu-tunggu dari Aoki adalah aksi panggungnya yang gila, dari melempar kue ke muka penonton hingga menaiki kapal karet ditengah lautan penonton. Noticable performance dari Aoki sendiri adalah saat memainkan lagu “Ping Pong” milik Armin van Buuren. Massa di Garudha Land menggerakan tangan laiknya bola pingpong berpindah dari sisi meja yang satu ke sisi lainnya. Merasa sudah cukup melihat aksi panggung Aoki, saya berpindah ke stage Life in Color dimana DVBBS sedang mengajak penonton menggila dengan alunan musik mereka yang merupakan perpaduan dubstep dan house. Meskipun sudah kelelahan saya tetap berjingkrak-jingkrak ketika mereka memainkan ‘Tsunami’ yang disambung dengan “How We Do” milik Hardwell.

Setelah hampir 10 jam berada di rave party terbesar di Indonesia ini, saya memutuskan untuk mengakhiri perjalanan saya di DWP14 ini. Keseluruhan saya puas dengan DWP tahun ini, lebih baik dibanding DWP13 yang sedikit terganggu karena hujan badai di Ancol waktu itu. Pilihan venue yang lebih besar, stage yang lebih menggila lagi visual dan lasernya, serta konsep yang lebih menarik. Selayaknya tim dari Ismaya Live yang mempersiapkan acara ini dari pertengahan tahun ini patut untuk diberi pujian. Kemudian animo yang besar dari turis asing harus bisa dikelola dan dimanfaatkan dengan baik untuk memajukan tourism di Indonesia.

Akhir kata: Eat. Sleep. DWP. Repeat. See you at #DWP15! [Chrissela Doni]

Event By : Ismaya Live

Date : 13 Desember 2014

Venue : JI Expo, Kemayoran

Man of the Match : Penampilan Steve Aoki

WARN!NG Level : !!!!

Tags : dwp 2014
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response