close

Eddie Cahyono: Menambah Keberagaman Sinema Lewat Siti

untitled-0912

Bercerita lewat cerita dan bentuk, Eddie Cahyono membawa Siti meminang berbagai penghargaan, kemudian mengangkatnya dari layar alternatif ke bioskop.

wawancara oleh: Titah Asmaning

eddie cahyono
eddie cahyono

Dalam bingkai sempit dan warna monokrom, Eddie Cahyono menceritakan hidup Siti. Seorang penjual peyek jingking yang pada malam hari harus jadi pemandu karaoke di Pantai Parangtritis. Kehidupan Siti yang depresif tidak hanya mengiris hati melalui cerita, tapi juga lewat bentuk sinemanya. Lewat narasi kecil ini, Eddie Cahyono mencoba membicarakan hal besar, kebebasan hidup perempuan. Poin-poin inilah yang mungkin menjadi alasan Siti memenangkan tiga penghargaan di Festival Film Indonesia (FFI) 2015 (Film Terbaik, Penata Musik Terbaik, dan Penulis Skenario Asli Terbaik). Kemenangan film panjang kedua Eddie Cahyono di FFI ini sempat mencuri perhatian, pasalnya film ini merupakan film alternatif yang tidak tayang di bioskop. Boleh dikatakan bahwa keputusan FFI ini unik. Sebelumnya, sejak dirilis di Jogja Asian-NETPAC Film Festival (JAFF) 2014 lalu, Siti sudah melalang buana ke berbagai layar alternatif di festival film internasional, seperti Rotterdam Film Festival, Vienalle Film Festival, Toronto Asian Reel Film Festival dan masih banyak lagi.

Setelah kemenangannya di FFI, Siti mendapat atensi masif dari publik Indonesia. “Film ini memang layak kok untuk dipertemukan dengan penonton yang lebih luas,” ujar Eddie Cahyono tentang keputusannya membawa Siti ke bioskop. Siti sendiri akan dirilis di semua jaringan bioskop Indonesia mulai 28 Januari besok. Selain itu, pihak Fourcolurs Films juga akan membuat pemutaran layar tancep Siti di lokasi ceritanya, yaitu Parangtritis. Eddie Cahyono mengaku tidak punya ekspektasi apapun tentang reaksi warga lokal, “Apapun yang terjadi besok kita akan mengapresiasinya. Kemarin kan kita juga udah berkeliling, tim promosi, pakai mobil dan toa kayak jaman dulu ngumumin film Siti, nyebarin pamflet juga. Kita hanya ingin memberi ruang unntuk menonton bagi warga di Bantul.”

Ditemui WARN!NG setelah menggelar konferensi pers Siti beberapa hari lalu, Eddie Cahyono menjawab beberapa pertanyaan tentang perjalanan film Siti, tema besar yang ia angkat, bentuk sinemanya, perubahan di film karena sensor, sampai pandangannya tentang pendidikan film di Indonesia. Simak wawancara berikut!

 

Selama ini di dunia sinema Indonesia selalu ada permasalahan dikotomi film komersil dan non-komersil, apakah kemenangan Siti di FFI dan kemudian Siti ditayangkan di bioskop adalah salah satu bentuk usaha menghapus dikotomi itu?

Yang jelas kita tujuannya tetap sederhana, karena film Siti itu kan film yang sederhana juga. Kita enggak pernah muluk-muluk, bahkan kadang kita merasa kemanangan Siti di FFI itu too much gitu. Tapi bagaimanapun juga, kemudian kita harus menyikapi bahwa yang paling penting adalah film indonesia itu beragam. Yang paling penting itu.

Paling tidak kita menyediakan sebuah pilihan baru tentang bagaimana bersinema, bagaimana kita bercerita dalam bentuk visual, itu aja sih. Kalau kemudian bahwa Siti dipandang sebagai perubahan, saya pikir enggak. Karena banyak temen-temen lain yang juga bikin film sama tapi dengan teknik berbeda, tapi banyak yang tidak punya kesempatan masuk ke bioskop. Karena kadang mereka diberi kesempatan hanya beberapa layar atau tayang 1-2 hari lalu turun.

Apakah benar sebelum masuk ke bioskop, Siti melewati Lembaga Sensor dan tidak lolos?

Sebenenarnya karena ada informasi bahwa ketika sebuah film masuk bioskop itu harus 40 copy, padahal kita nggak punya duit. Nah sebabnya informasi semacam itu dan ada beberapa adegan yang memang tidak lolos. Pada akhirnya kemudian ketika di FFI, itu justru pihak panitia yang membantu kita untuk lolos sensor. Karena di LSF ada dua jenis sensor, untuk festival dan reguler. Dari situlah kemudian ketika Siti menang jadi film terbaik, mungkin dari pihak LSF jadi harus lebih memperhatikan film ini. Mungkin mereka akhirnya ikut membantu.

 

untitled-0918
eddie cahyono

Kalau pendapat Anda tentang praktek sensor film di Indonesia? Soalnya selama ini banyak filmmaker independen yang bahkan memusuhi Lembaga Sensor Film.

Ya karena kemudian birokrasi akan jadi rumit, padahal kita sebagai filmmaker kalau mau bikin film ya bikin aja. Bahkan untuk film pendek pun harus ada lembaga sensor. Bagi saya itu juga jadi sangat berat. Cuma memang harus dipikirkan juga bahwa dunia komersil dan independen itu berbeda, sangat berbeda bahkan. Karena memang tujuan membuat film di teman-teman independen adalah kebebasan berekspresi, sementara ketika dihadapkan lembaga sensor mereka harus mengikuti aturan yang berlaku.

Banyak yang sebenarnya menyarankan untuk peng-kategorian. Saya ambil contoh gini, kayak misalnya di Festival Film Solo, mereka (filmmaker) juga bebas berekspresi tapi pihak panitia memberi sensor sendiri, sensor kepada penonton lewat kategori. Ketika nonton film ‘ini’ bagi mereka ini 18+ atau untuk 21+, nah mungkin juga dari teman-teman independen juga harus siap untuk itu. Bahkan si pembuat film pun ketika membuat film independen juga sudah harus mengkategorikan filmnya sebagai film apa gitu. Itu sih kalau dari aku. Jadi kita sendiripun sudah mengkategorikan (memberi contoh) ‘ini’ film yang nggak boleh ditonton oleh anak-anak.

Kayak saya misalnya gini, waktu di Festival Film Purbalingga kan Siti ditonton di layar tancep. Saya sebenarnya antara setuju dan enggak setuju, karena ketika Siti masuk ke ruang terutup kita jadi bisa kontrol siapa yang menonton. Sementara ketika dilayartancepkan itu kita enggak bisa kontrol siapa yang nonton. Kemudian saya minta pihak panitia Festival Film Purbalingga untuk memotong adegan, meng-tiiiit suara yang enggak cocok, dan itu mereka laksanakan, saya datang sendiri ke sana dan nonton dan beberapa adegan memang hilang.

Jadi memang Anda sendiri lebih mendukung kategorisasi daripada censorship?

Iya karena lebih bisa diterima untuk si pembuat.

Jadi seberapa banyak perubahan di film Siti yang untuk festival dan yang akan tayang di bioskop nanti?

Sebenarnya (ketika dirilis di festival) saya sudah selesai dengan film ini. Maksudnya yaudah filmnya udah itu. Tapi kemudian ketika ada sensor kita harus melepas ego kita, dan film ini memang layak kok untuk dipertemukan dengan penonton yang lebih luas. Saya sendiri yang ngedit. Walaupun kayak misalnya ada adegan anak kecil mandi telanjang, saya sebenarnya juga bertanya kenapa harus dipotong. Tapi memang aturannya alat kelamin baik anak kecil maupun dewasa memang tidak boleh. Ada beberapa yang kemudian saya ubah adegan itu, walaupun intinya sama.

Apresiasi film Siti di layar alternatif –sebelum kemudian masif disorot paska FFI sendiri gimana?

Yang jelas kita sangat berterima kasih untuk bioskop-bioskop alternatif, teman-teman yang bersedia memutar Siti, festival daerah, kampus, kantong-kantong budaya. Responnya sangat bagus, terakhir kita putar di Festival Film Samarinda kemarin, dan mereka sangat mengapresiasi film Siti dan ternyata di daerah itu mereka sangat membutuhkan tontotan yang berkualitas. Bahkan yang di Samarinda kemarin, yang dari luar kota datang untuk nonton Siti. Gila ternyata mereka haus akan itu. Bagaimana mereka membutuhkan Festival film, hiburan alternatif.

Untuk film Siti, kenapa memilih menggunakan bentuk sinema 4:3 dan hitam putih?

Hitam putih karena memang saya merasa hidup Siti tidak berwarna. Terus lebih ke psikologi Siti adalah depressing. Warna-warna depresi, tidak ada hope, penuh tekanan. Itu sangat cocok sekali kalau hitam-putih. Terus keputusan 4:3 itu justru pas di post-production, kita syuting 16:9. Tapi kemduian di editing saya merasa filmnya secara visual masih terlalu indah. Kemudian kita ngobrol sama Ifa (Isfansyah –produser Siti), ifa lalu punya usul “Coba yuk kita bikin 4:3” setelah Greg (Arya –Editor) diubah, kita langsung saling berpandangan dan “Oke!”. Karena filmnya jadi dapet, saya merasa kemudian Siti hidupnya lebih mepet, point of viewnya lebih mepet, tidak wide, lebih tertekan, pilihannya jadi lebih sempit.

Siti kan mengangkat isu tentang kebebasan perempuan. Menurut Anda, apakah film Indonesia sudah banyak yang berbicara tentang itu?

Sebenarnya banyak. Sebenarnya kalau ngomongin tema besarnya, Siti itu ngomongin hal yang sangat luas. Bukan ngomongin hal-hal kecil, tapi ngomongin seorang manusia, seorang perempuan yang harus memilih untuk hidupnya. Bagi saya itu tema besar yang kemudian ketika pilihannya adalah seorang aktivis atau siapa, mungkin terlalu besar. Justru saya lebih menyoroti ke kehidupan yang lingkupnya lebih kecil, minimalis, lebih sederhana. Nah saya melihat itu kan di keluarga, nah di situlah kendaraan saya untuk berbicara. Karena kemudian saya melihat misalnya bagaimana perempuan di Jawa. Bahkan konteks ini bukan untuk konteks orang miskin saja, bahkan saya yakin orang-orang yang punya level ekonomi lebih tinggi pasti punya perasaan bahwa perempuan itu masih tetap susah untuk ngomongin tentang kebebasan bagi dirinya. Apalagi setelah itu jadi sebuah keluarga.

Bahkan oleh sutradara perempuan ya?

Banyak kok sebenarnya, kayak Lola Amaria, Nan T. Achnas, Djenar Maesa Ayu, mereka rata-rata ngomomgin tentang perempuan walaupun dengan sudut pandang berbeda. Nia Dinata juga, dengan Berbagi Suami.

Di dalam film Siti, ada karakter polisi yang mengalami perubahan sikap yang cukup drastis. Dari tegas sekali kemudian dalam waktu singkat jadi lunak pada Siti. Apakah ada wacana tentang otoritas dalam karakter itu atau hanya narasi yang mengalir saja?

Sebenarnya saya banyak melihat kalau polisi itu sering terlibat asmara dengan waitress, dengan dunia gelap gitu banyak. Dan kadang-kadang mereka harus melakukan tugas, kadang-kadang mereka harus jadi manusia. Bahkan polisi itu juga bisa jatuh cinta, punya rasa menyayangi. Sesimpel itu.

eddie cahyono
eddie cahyono

 

eddie cahyono & kru Siti
eddie cahyono & kru Siti

Membaca profil Anda di beberapa media, Anda pernah menjajal berbagai posisi dalam produksi film. Sebagai filmmaker, seberapa penting menjajal posisi lain?

Nggak harus juga sih. Paling tidak harus tahu. Yang paling penting untuk jadi sutradara itu kan visi. Visi seorang sutradara melihat sebuah film, bagaimana kemudian kita tahu ini nanti hasilnya kayak gini. Nah itu yang paling penting. Bagaimana kemudian memvisualkan cerita, men-treat kamera harus begini dan begitu. Itu yang paling penting. Nah memang semua elemen seperti editing, kamera, pergerakan kamera, sutradara harus tahu.

Anda kan juga mengajar di Jogja Film Academy. Sebagai pengajar, melihat pendidikan film di Indonesia sekarang seperti apa?

Saya pikir bagus tapi kita masih perlu menumbuhkan lagi. Karena pendidikan kita kan nggak merata, bahkan saya sendiri enggak tahu saya ini dosen yang baik atau enggak. Karena saya sendiri otodidak, saya bukan dosen yang memang berasal dari akademik jurusan saya, film. Karena ketika ngomongin kayak gitu, banyak sebenarnya orang Indonesia yang seharusnya mengajar di sini justru malah mencari duitnya di sana. Ya agak prihatin kalau ngomongin kayak gitu. Tapi yang jelas kalau ngomongin pendidikan film kita masih tertinggal, masih perlu perbaikan, dan itu harus dibarengi dengan perjalanan komunitas, perjalanan festival karena nggak mungkin sekolah hanya sendiri. Bahwa kemudian apakah sekolah ini kemudian menghasilkan filmmaker yang nggolek duit (mencari uang) atau memang tujuannya untuk mengapresiasi hidup.

Kenapa orang harus nonton Siti?

Aduh apa ya… [berpikir lama] aku raiso dodolan ki… Fa, ditakoni ki lho [memanggil Ifa Isfansyah yang duduk di seberangnya].

Oke skip dulu, next project-nya apa?

Next project bulan Juli kita akan launching proyek di Busan, di Asian Project Market. Judulnya The Wasted Land, dan di sana kita memenangkan award untuk proyek itu, ARTE Award namanya. Kita dapat hadiah sekitar 6.500 euro untuk memulai proyek ini. Ceritanya tentang seorang ibu yang ingin bertemu anaknya untuk terakhir kalinya karena anaknya akan dihukum mati di China.

Jadi kenapa orang-orang harus nonton Siti?

Iki nek ujian wis tak kosongi iki… [tertawa] Karena dengan menonton Siti kita bisa lebih mensyukuri hidup.

 

photo by: Soni Triantoro

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response