close

[Movie Review] Eddie the Eagle

Eddie the Eagle – poster

Review overview

WARN!NG Level 7.3

Summary

7.3 Score

Director: Dexter Fletcher

Production: Marv Films – Studio Babel – Lionsgate

Cast: Taron Egerton, Hugh Jackman, Tom Costello, Keith Allen, Jo Hartley

Year: 2016

Rantai film dibuka dengan montase penuh pengharapan; poster olimpiade yang terus ia tatap sebelum memejamkan mata membuat letupan semangatnya semakin menjadi-jadi. Cita-cita untuk menanggung status seorang olimpian nyatanya sudah dipupuknya sedari dini. Berbagai rintangan dan juga tantangan dilewatinya satu per satu seiring bergesernya waktu. Mulai dari kondisi kakinya yang sempat mengalami keterbatasan sampai penolakan keras ayahnya yang menginginkan Eddie bekerja mencari uang. Namun ia tak gentar; prinsipnya yang kuat membuatnya memegang kartu sakti sebagai atlit ski potensial.

Eddie the Eagle merupakan film biopik olahraga yang menarik. Bercerita mengenai kisah Eddie Edwards yang diperankan oleh Taron Egerton dalam mengarungi pertarungan di ajang sekelas olimpiade. Melihat plot yang disusun, film ini mungkin sama dengan film sejenis lainnya. Proses yang berketerusan, usaha pantang menyerah, tertimpa kegagalan sebelum akhirnya berada di pucuk kemenangan. Akan tetapi, ada dua hal yang membedakan Eddie the Eagle dengan referensi biasanya.

Pertama, pemilihan latar belakang atlet yang tidak seperti pada umumnya. Di dunia ini kita ketahui banyak sekali olahragawan besar yang berpeluh gemerlap popularitas, menggondol segudang prestasi di samping kisah berliku yang tentunya bisa menarik atensi. Sebut saja Brian Clough, Muhammad Ali, hingga Niki Lauda. Deretan tersebut mewakili kanvas kehebatan di bidangnya. Maka dari asumsi tersebut timbul pertanyaan; apakah kita mengetahui sosok Eddie? Siapa dia? Dan bagaimana prestasinya?

Faktanya, rasa penasaran itu yang justru memberi kekuatan pada Eddie the Eagle. Dexter Fletcher selaku pengemudi layar menangkap peluang sesuatu yang bersifat cult, berkebalikan, serta unik untuk nantinya dituangkan dalam cangkang visual yang proporsional. Setapak demi setapak, Fletcher menuntun penonton mempelajari seluk beluk perihal beragam dinamika yang bergulir di tanah bersalju. Nomor dan jenis perlombaan, teknik penyesuaian, ataupun birokrasi pemerintah yang masih memandang olahraga dalam perspektif untung-rugi.

Ditambah, Fletcher begitu cermat mengambil titik-titik yang menautkan kepingan trivia agar lebih koheren; ritual tanpa busana Nordik di pemandian air panas, elegansi Finlandia di atas udara, serta kedisiplinan kontingen Amerika yang berarti segala-galanya. Alhasil, lubang yang biasanya hadir pada momen tak terduga, dapat diminimalkan keberadaannya.

Lalu yang kedua, penulisan cerita berhasil dibawa Sean Macaulay dan Simon Kelton dengan dosis tepat. Tak kurang, tak lebih. Latar belakang Eddie yang tak kelewat rumit membantu Macaulay dalam menggaris rajutan benang merah. Sosoknya yang fokus rupanya menghidupkan inspirasi bagi penulis maupun penonton kelak. Impiannya menyadarkan kita bahwa tak ada yang mustahil selama benih percaya dibiarkan tumbuh berkembang.

 

 

Berkali-kali saya dibuat tertegun dengan komitmen Eddie yang ditunjukan sepanjang 100 menit di depan. Tekadnya bulat, tak peduli cercaan sekitar, serta pelatuk energinya menyala bara seolah tak punya lelah. Taron Egerton perlu memperoleh kredit khusus mengingat penjiwaannya kepada Eddie diterapkannya secara militan. Ia tak terbebani pesona Eddie. Segala gerak-geriknya ia nikmati perlahan demi perlahan, setapak demi setapak.

Meski demikian, Eddie the Eagle bukan tanpa cela. Akting prima Taron nyatanya tidak diimbangi dengan bagus oleh Hugh Jackman yang memainkan peran mantan atlit cum pelatih dadakan, Bronson Peary. Terbesit dalam pikiran bahwa kolaborasi keduanya akan memunculkan lelucon segar, saling menimpal, dan dialog-dialog yang bernyawa. Ternyata yang muncul justru bias atau bisa dibilang membuat beberapa adegan terlihat nir makna. Kedataran Hugh sungguh menyedihkan laiknya pengasingan dirinya di daratan pegunungan pelosok Jerman yang hari-harinya diisi aktifitas meratakan tanah dan menenggak vodka kaleng dari sakunya.

Selain itu, plot yang sejak awal sudah dibingkai rapi tiba-tiba mengalami turbulensi tatkala film memasuki wilayah Olimpiade Musim Dingin Calgary. Fletcher, tanpa pikir panjang—atau memang terpaksa—memasukkan banyak konflik pada satu frame saja; cilakanya merusak tatanan yang dibangun. Efeknya signifikan: respon empati yang seyogyanya muncul kala Eddie diperolok banyak pihak terbuang percuma dan menempatkan Eddie the Eagle kehilangan marwah bak amatiran.

Secara keseluruhan, film besutan Fletcher ini cukup menghibur. Walaupun harus berantakan di pengujung akhir, bermacam petuah, motivasi, sampai pelajaran moral setidaknya bisa tersalurkan dengan baik. Kebijakan yang sederhana mengajarkan pada penonton agar tak menyerah begitu saja dalam merengkuh asa. Klise? [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response