close

Efek Rumah Kaca dan Perasaan Takjub Itu

Efek Rumah Kaca

 

Mereka menyuarakan pertentangan akan hal yang menyimpang. Pengekangan kebebasan, pelanggaran fundamental, penculikan yang tak pernah menemukan jalan pulang, hingga penindasan semena-mena yang diulang terus-menerus. Dengan musik, suar tersebut menyala terang. Syairnya, di samping elok secara diksi, juga memantapkan prinsip dan sikap. Melodinya minimalis, meski berevolusi kompleks di album terbarunya. Sedangkan hegemoninya bakal terus berdiri sejalan perjuangan di palagan pertempuran yang tak lagi bersembunyi dalam modus operandi.

Adalah Efek Rumah Kaca, begitu mereka biasa dipanggil pengikutnya. Menapaki rimba independen sejak satu dekade silam, membuat kuartet ini paham tentang dinamika yang muncul dari akarnya. Tiga rilisan sudah ditelurkan; Self Titled, Kamar Gelap, serta Sinestesia. Masing-masing membawa kotak pandora yang menggariskan benang merah antara satu dan lainnya. Melukiskan dimensi yang menautkan kesepahaman, walaupun nampak kasat mata di depan pandangan.

Genderang peperangan meletupkan motor yang mereka tunggangi. Saat kolektif lain menuliskan pendulum cinta, romansa, dan eksistensialisme kerinduan, Efek Rumah Kaca menaiki tangga lebih dari itu. Dengan lantang, mikrofon kata merubah perspektif para pemirsa. Membela kaum pinggiran, tertinggal, serta terhapuskan beton perbedaan yang seyogyanya bisa merekatkan, jadi prioritas ketidaksengajaan. Jika yang diandalkan tak mampu menjalankan, maka lagu mereka meniupkan senjata penahbisan.

Kecintaan mereka terhadap Indonesia sama halnya dengan konstruksi melodi yang ditumpahkan dalam penggabungan wujud konsonan serta notasi nada. Pelbagai sisi mereka tempuh. Mulai menaikan beat, mendayu keterlambatan, meluluhkan sirkuit orkestrasi, menambahkan bumbu kepadatan efek, dan berulang hingga ke sekian kalinya di titik peralihan sebelum berlari kencang menerobos alur permasalahan terkini. Untuk menggapai lautan visi tersebut, Efek Rumah Kaca senantiasa berpegang pada satu hal; keberanian.

Perlawanan kepada lembah korporasi, penguasaan aset pribumi, sampai kritik untuk benih fasisme maupun kuasa otoritarian mencuat perkasa dalam intisari Efek Rumah Kaca. Penghayatan getir, luapan amarah, serta kanal kekecewaan berkumpul di satu cangkang; menunggu waktu untuk diluncurkan ke segala penjuru. Membabat habis nyali yang terciutkan, melumat persekongkolan, dan meleburkan optimisme tentang pencapaian.

Deretan penjelasan di atas pula yang mendasari mengapa menyaksikan Efek Rumah Kaca tak pernah membosankan. Tak bisa dipungkiri, intensitas mereka dalam mengokupasi panggung sudah berada di luar jangkauan. Gigs berskala kecil, sedang, atau besar telah mereka lalui dengan paripurna. Apalagi semenjak Sinestesia keluar di pasaran, grafik penampilan mereka pun ikut terkerek drastis. Sejalan pernyataan tersebut, timbul sebuah pertanyaan; mengapa Efek Rumah Kaca tak memberikan kulminasi rasa jenuh kepada para penggemarnya?

Jawabannya sederhana; melihat Efek Rumah Kaca bermain bukan sekedar persoalan mendatangi tempat gigs seperti kebanyakan. Bertukar sapa dengan teman, berbicara tentang kabar burung yang beredar dari media sosial, tekanan pekerjaan, atau desas-desus harga tanah yang kian mencekik kepala. Bukan sebatas mengabadikan momen dengan perangkat gawai lantas mengunggahnya ke laman Instagram. Bersama Efek Rumah Kaca, kita mendapati lebih dari itu.

Apabila dalam pelataran musik biasanya perasaan jenuh dapat mengombang-ambingkan kesenangan dan mungkin menggantikannya dengan kegiatan lain; tapi tidak tatkala memperhatikan Efek Rumah Kaca. Tatapan fokus menatap aksi Cholil Mahmud, pikiran terpusat, dan gawai tak lagi jadi teman pengusir rasa jenuh. Berselang kemudian, ada desir getaran yang mengangkat antusiasme perlahan. Menyentuh saraf, meraba keseluruhan indera, lantas memuncak pada simpul otak.

Menyaksikan Efek Rumah Kaca adalah ritus perjalanan. Telinga bisa mendengar bermacam penindasan, mata bisa memandang berupa kekerasan, dan hati bisa tergerak karena ketidakadilan merajarela di mana saja. Ini lebih dari sekedar pertunjukan musik biasa. Ada semacam barisan penonton dan juga demonstran dalam wadah gigs berkumpul, lalu menyanyikan himne tentang segala kejadian yang entah sengaja atau tidak, lahir membabi buta dengan pola sama.

Suara penolakan bisa saja keluar dan membantah opini yang disampaikan. Akan tetapi bukan tanpa dasar bahwa pertunjukan musik bisa jadi opera megah yang berisi kata-kata perlawanan, orasi tanpa batas, dan suar-suar yang menyala untuk perubahan. Tak ada yang lebih takjub dibanding sing along massal, tanpa komando, memenuhi seisi ruangan yang gelap. Dan hanya Efek Rumah Kaca yang mampu menyediakannya. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response