close

Egon Spengler: Punk Mursal dalam Balutan Rock and Roll Bengal!

egon

Surabaya, tidak lagi menjadi kota yang bersahabat. Hiruk pikuk perkotaan yang dikepung gedung-gedung megah, langit pekat, serta peluit-peluit industri yang tak henti-hentinya menjerit, menjadikan wajah kota ini kian murung. Venue pertunjukan musik yang kian hari kian terkikis, habis, membuat roda industri musik kelas dua nya sempat lesu. Namun, secercah cahaya pelita mulai terlihat kembali berbinar beberapa tahun belakangan. Pelbagai karya bernas dilahirkan oleh kota yang terkenal terik ini.

Salah satunya melalui Egon Spengler, kuintet punk rock mursal ini menarasikan hari-hari membosankan tentang rutinitas pekerjaan, jeratan monster-monster laten bernama kapitalis, agama menjadi alat komoditi, hingga budaya populer yang salah kaprah yang dikemas dengan lirik horror, jenaka nan sarkas dalam debut album pertamanya yang bertajuk Ecto 1.

 Dibentuk pada tahun 2008, unit punkrock mesakat yang dimotori oleh Albert (Vokal), Tebo (Bass), Ikang (Gitar), Obe (Drum) butuh waktu yang cukup lama agar bisa menelurkan debutnya. “Kami bukan band kaya. Masih banyak mulut yang perlu diberi makan,” tukas Albert. Sonder perlu diragukan lagi, meresureksi AC/DC, Ramones hingga Black Flag dalam tubuh bukan suatu persoalan remeh-temeh. Dentum beat drum groovy yang bersambut dengan raungan gitar distorsi overdrive classic 80’an, bersatu padu dengan teriakan a la Henry Rollins menjadikan nomor-nomor dari Egon Spengler—nama yang terinspirasi dari film Horror Komedi 80’an– bak sebuah molotov.

Berbahan baku luapan amarah, semangat revolusioner anak muda, menjadikan debut album mereka dipastikan dengan cepat meledak, menjalar, mengokupasi telinga kalian. “Kesulitan utama kami adalah jika ditanya mengenai genre. Kami pasrah dilabeli audience. Pernah kita disebut, punk rock, skate/punk, speed metal bahkan funk!,” kenangnya sambil terkekeh kecut. Kembali menengok kebelakang, saya pertama kali menyaksikan aksi mereka disebuah gigs circa tahun 2014. Penampilan vokalis yang nyentrik, bertelanjang dada, lengkap dengan tato logo Bad Brain serta Misfits disekujur tubuh, cukup kuat merepresentasikan imej punkrock skuadron ini.

Yang menarik perhatian adalah, tensi pertunjukan yang mulanya dingin, berubah menjadi kacau balau dalam sekejap. Barisan penonton seolah larut dalam sihir. Meneriakan ode kerusuhan “Mustang! Mustang! Mustang Rambo!” lebih dari 666 kali–jika saya tak salah hitung–dalam lantai dansa penuh keringat, dengan kadar keriaan dosis tinggi. Rekaman memoria perjumpaan dengan kaum dugal ini, tidak begitu saja mudah dilupakan. Hingga di awal tahun lalu, seorang kawan, owner dari Radioactive-Force Records, mengabarkan bahwa akan membidani debut album kolektif mbeling ini dalam waktu dekat. Tentu, kurang ajarnya lagi saya kembali dibuat menunggu.

Skena hardcore/punk di Surabaya memang sempat kembali masa kejayaan beberapa tahun belakangan. Sayangnya, warisan masalah pelik tentang bagaimana semua band berusaha untuk seragam merupakan hambatan besar. Bak oase di gurun tandus, Egon Spengler hadir menjadi pilihan lain. Saat kebanyakan hardcore kids disini hanya berhenti di Boston dan New York, mereka memilih kembali ke bar kumuh nan legendaris CBGB, untuk kembali menghidupkan ruh Ramones ataupun Dead Boys dalam diri mereka. Jika tidak cukup disebut punkrock, maka hardcore punk rock and roll mursal semoga cukup mewakili bagaimana mereka pantas disebut. Tak pelak, band yang dimotori oleh Obek (Vokal) sebagai ikon yang kerap menggunakan kostum a la biarawati ini, menuai pelbagai pengharapan. Namanya juga band bengal, alih-alih berusaha mewujudkan mimpi dari banyak umat, dengan enteng mereka mengkibaskan segala ekspektasi serta menukarnya dengan pernyataan, “Yang jelas, tidak ada album ke-2 dalam waktu dekat,” tutup Albert.

Meski demikian, Ecto 1 menjadi barang wajib bagi saya secara personal untuk selalu bersemayam dalam playlist harian. Album yang terdengar bak sebuah soundtrack film Ghostbuster dalam versi punk ini, tak bisa dipungkiri memang tepat dinikmati kala harus berjibaku dengan gilasan roda-roda industri, serta permasalah akademik dan deadline yang terus menghantui. Terlepas dari segala ekspektasi yang memang telah lama saya tingalkan, setidaknya delapan nomor bernas yang mereka punya ini cukup esensial dalam memacu adrenalin dan menjaga tetap sadar, tidak peduli liter alkohol yang telah melewati kerongkonganmu. Tancap gas, Mustang Rambo! [WARN!NG/Reno Surya]

Download Egon Spengler – “Not Dead Enouh” di album WARN!NG Compilation Vol.1 – 2017 DI SINI!

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.