close

Eka Kurniawan: Corat-Coret Di Panggung Literasi

IMG_0066

Baru beberapa bulan berjalan, tahun 2016 sudah banyak memberi kejutan bagi dunia literasi Indonesia. Sebuah riset  menunjukan Indonesia berada di posisi 2 terbawah dalam ‘literate behavior characteristics’. Ada pula berita tentang pelarangan diskusi, lengkap dangan razia buku-buku. Namun syukurlah tak semua hal buruk terjadi, hal-hal membanggakan juga menghiasi separuh 2016 ini. Terbitnya banyak buku bagus, munculnya banyak penerbit independen dan berita membanggakan tentang adanya penulis Indonesia yang mendapat penghargaan internasional.

Interview by: Titah Asmaning & Tomi Wibisono

Eka Kurniawan
Eka Kurniawan

Adalah Eka Kurniawan, penulis Indonesia pertama yang masuk nominasi Man Booker International Prize 2016 untuk buku Lelaki Harimau. Ia juga baru saja memenangi World Readers Award 2016 untuk novel Cantik itu Luka.  “Sebenarnya penghargaan terbesar ya buku dibaca orang,” ungkap Eka merespons makna sebuah penghargaan. Tahun 2016 sepertinya jadi tahun yang menyenangkan bagi pria kelahiran Tasikmalaya ini, karena di tahun yang sama ia juga merilis novel baru bertajuk O.

Pencapaiannya tahun ini semakin melegitimasi pujian banyak orang sebagai penerus penulis terbesar negeri ini, Pramoedya Ananta Toer. Eka banyak terinspirasi dari Pram, buku pertamanya bahkan membahas karya-karya Pram. Namun begitu, ia menganggap pujian itu adalah hal biasa, ia juga mengatakan Pram tidak mempengaruhi gaya kepenulisannya. “Ku rasa (aku-ed) nggak Pramis, Pramis itu hanya Pram”

Selama di Jogja, lulusan Filsafat UGM ini sempat menjadi vokalis band. “main-main lagu tahun 90an, ya rock-rock jaman tahun 90an tapi ya (cuma) bentar, karena aku kemudian sadar nggak punya bakat”. Ia juga kemudian sempat menjadi jurnalis di Pantau selama kurang lebih satu tahun, sebelum besar dengan karya-karya fiksinya. “Waktu itu balik lagi ke Jogja buat nulis Cantik Itu Luka, ya habis itu balik lagi ke Jakarta untuk kerja yang masih urusan fiksi, ngurusin nulis TV, skenario sinetron, lebih supervise sih.”

Di penghujung April, sehari pasca acara Haul Pram ke-10, Eka kembali mengunjungi Jogja dalam rangkaian tur buku terbarunya. WARN!NG kemudian membuat janji untuk melakukan wawancara, setelah selesai melakukan bedah bukunya. Namun, ada sedikit mis-komunikasi di poster publikasi yang dibuat. Kesalahan jam pada poster membuat beberapa orang termasuk kami salah jadwal. Akhirnya wawancara berpindah tempat, di sebuah hotel di bilangan Sudirman.

Eka tampak santai memakai kaos oblong berwarna biru dan celana jeans panjang. Apa yang ia kenakan seolah menjadi kuantum dengan caranya menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kami. Dan rupanya kesalahan jadwal menjadi berkah tersendiri, karena dengan begitu kami bisa melakukan wawancara di ruang yang lebih intim.

 

Eka Kurniawan
Eka Kurniawan

Novel terbaru Anda, O proses pengerjaannya delapan tahun?

Ya delapan tahun, dari sumber-sumber paling awalnya memang sejak delapan tahun lalu. Tapi novelnya ditulis dengan cara santai aja. Awalnya bahkan belum kebayang bentuknya seperti itu. Baru sambil jalan, sambil cari, sambil menulis cerita-cerita yang akan jadi di novel itu, sambil memikirkan nanti bentuk akhirnya seperti apa ya itu sesuatu yang bertahap, gradual, baru kebentuk ya akhir-akhir aja sih.

Dibanding buku-buku sebelumnya, sepertinya di O ada perubahan cara bercerita ya?

Sebenarnya lebih secara cerita, aku merasa sebenarnya kurang lebih nggak terlalu jauh beda, dalam artian dari novel awal sampai novel akhir aku masih multi plot. Bedanya barangkali di novel-novel awal selalu ada plot utama yang jadi tulang punggung, sementara plot-plot lainnya lebih ke sub-plot. Di O nggak ada plot utama, semuanya sama rata. Kedua, lebih ke cara bercerita kalau di novel-novel awal itu lebih kayak mendongeng si naratornya menceritakan kisah, sementara di dua novel terakhir aku lebih mencoba menjaga jarak, obyektif dalam arti lebih memperlihatkan saja adegan, dialog, tanpa si narator banyak bercerita.

Anda sering mengangkat tema-tema mistis, erotis, sejarah, politik dan kerap menggunakan cakupan-cakupan lokal, memang suka mengangkat lokalitas ya?

Ya kalau lokalitas barangkali karena aku lebih seneng nulis yang aku familiar aja ya, yang aku lihat di sekelilingku, yang aku tumbuh di sana dan setidaknya aku pernah mengenal orang di lingkungan itu tapi kalau yang lain-lain barangkali ya tidak selalu sih. Misalkan ya tidak ada background historis di dua novel yang terakhir atau di novel terakhir bagian-bagian seksual nggak terlalu menonjol, barangkali itu tema-tema itu sangat umum di banyak karya. Di beberapa novel lebih kentara, di novel lain nggak. Di novel kayak Cantik Itu Luka aspek politik lebih kuat karena bicara soal sejarah, di novel yang lain sangat samar. Bagian-bagian itu tetap ada tapi presentasenya naik-turun.

Di Cantik itu Luka dan di Seperti Dendam itu tema-tema sosial politik dihubungkan dengan tema mistis dan erotis. Bagaimana anda mengembangkan itu?

Aku tumbuh di zaman remaja membaca novel-novel horor dan silat. Dalam bayanganku ketika aku ingin nulis novel pada dasarnya aku ingin menulis novel horor atau nulis novel silat. Kalau kita lihat formula Cantik Itu Luka sebenarnya itu formula novel horor, orang keluar dari kuburan terus ada hantu balas dendam itu kan novel horor banget.  Cuma aku memasukkan elemen-elemen lain yang tidak mudah lagi untuk menjadi novel horor tapi basic-nya tetap novel horor. Atau Seperti Dendam itu basic-nya ya novel silat. Ada orang yang yang senang berkelahi, ada background-nya cuma ada elemen lain yang membuat itu nggak murni cerita silat. Ya kurasa sih buatku itu ada pengaruh-pengaruh dari seleraku aja. Tidak ada strategi khusus bahwa untuk menceritakan ini harus ada aspek mistis atau apa, itu sesuatu yang alamiah aja buatku. Emang niatnya pengen bikin yang seperti itu.

Nama-nama karakter di novel anda selalu unik, bagaimana proses membuat nama tokoh-tokoh itu?

Aku biasanya jarang mereka-reka, kebanyakan tokoh-tokoh di novelku itu ku ambil dari nama orang yang bener-bener ada, temenku, tetanggaku, orang yang ku kenal ya setidaknya cukup kenal, paling nggak temennya temen gitu. Ya, kadang-kadang aku mencoba kalau aku menciptakan itu lebih ke nama kamu, nama kamu, di gabung aja gitu. Misalnya di Seperti Dendam ada nama Ajo Kawir, ada yang nama Ajo dan Kawir, atau kadang aku memakai nama julukan saja, seperti ada Iwan Angsa. Itu juga di lingkungan yang aku kenal banyak orang punya julukan seperti itu aku juga mengadopsi aja sebenernya.

Termasuk ke karakter penokohan juga diadaptasi?

Biasanya ada model-model tertentu yang aku kenal, nggak selalu orang yang aku kenal. Biasanya juga model historis seseorang, orang yang benar-benar ada terus sejarahnya aku ganti-ganti terus aku ambil aja karakternya.

Soal bahasa, banyak yang mengamini kalau bahasa-bahasa vulgar seperti yang kerap anda gunakan di novel-novel anda itu ditujukan untuk kelas-kelas bawah. Setuju nggak dengan statement itu?

Ya nggak juga. Orang-orang kelas atas di lingkungannya sendiri juga kadang-kadang ngeluarin kata-kata vulgar gitu, cuma mereka mungkin di publik menfilter diri sendiri aja. Siapa sih yang nggak pernah mengatakan hal-hal vulgar?

Selain mengangkat kelokalan seperti yang di novel-novel Anda, apa sih potensi yang ada di sastrawan-sastrawan Indonesia yang sebenarnya bisa membuat mereka mendapat exsposure dunia Internasional?

Ku rasa ada dua hal yang harus diperhatikan dengan jelas. Pertama bagaimana pun orang membaca, ya misalnya spesifik aja kita bicara tentang novel, kalau terlalu melebar akan sulit. Yang paling penting itu bagaimana seorang  penulis menyampaikan cerita itu, enak nggak dibaca? Menarik nggak sih ceritanya?  Sekarang kita membayangkan, katakanlah diterjemahkan dalam Bahasa Inggris, orang Amerika deh, berapa banyak sih mereka yang peduli dengan Indonesia? Nggak banyak. Hanya mahasiswa yang belajar Indonesia, belajar Asia Tenggara mungkin peduli, sisanya sebagian pembaca ya nggak peduli, mereka cuma mau baca novel, mau baca cerita menarik, setting-an dimana terserah. Mau settingan-nya di Mars atau di Indonesia, yang penting mereka mau baca cerita menarik. Itu penting, artinya poin pertama bukan soal lokalitas, poin pertama itu cerita deliver, bisa dibaca dan menarik.

Yang kedua ketika kita bicara tentang lokalitas, di sini ada dua aspek, ada dua sisi positif dan negatif. Kenapa mereka membaca karya dari Indonesia, tentu saja mereka ingin sesuatu yang unik, yang membuat mereka merasa bagusnya kayak gini dan nggak ada ditempat lain, itu juga hal penting. Tapi negatifnya sesuatu yang lokal itu juga menjadi sebuah hambatan karena kalau kamu terlalu bicara tentang sesuatu yang spesifik yang kita tidak tahu ya itu jadi hambatan.

Di satu sisi lokalitas bisa membuatmu berbeda dari tempat lain, di sisi lain itu juga bisa jadi hambatan karena ya sekarang bayangkan kalau kita membaca karya-karya asing, misal Murakami gitu, mungkin di sana ada aspek-aspek lokalitas tapi pada dasarnya kalau kita sudah baca. Katakanlah dialek gitu, sudah dalam Bahasa Inggris lagi, bukan Jepang, kita peduli nggak dialek itu berbeda antara Kyoto dan Tokyo? kita sudah nggak peduli. Bagi orang Jepang mungkin peduli, makanya sama ketika kita bicara tentang lokalitas, bisa aja kita bicara tentang yang sangat-sangat detail (tentang) perkawinan adat Jawa dengan Sunda, konfliknya macem-macem. Kata orang Swedia, “ngapain gue harus pusing-pusing soal orang Sunda mau kawin sama orang Jawa dan gimana kawinnya? Gue cuma pengen tahu ini kawinnya jadi apa nggak?” Itu hal-hal yang kadang-kadang agak susah gitu. Kita merasa itu asik, itu penting, tapi penting buat kita yang lingkungannya kecil. Ketika lingkungannya diperbesar, diperbesar lagi, itu mungkin nggak. Itu persis seperti saat kita lihat gajah kalau depan mata yang gede banget, kita merasa itu penting banget, tapi semakin orang bacanya jauh, ya itu kecil aja. Makin jauh itu binatang, makin jauh lagi itu benda.

Apakah Anda bisa disebut Pramis?

Ku rasa nggak Pramis, Pramis itu hanya Pram.

Anda disebut-sebut sebagai penerus Pram, dan dalam sebuah wawancara anda bilang Pram tidak mempengaruhi kepenulisan anda tapi semangatnya.

Semangat menulis terutama bagaimana dia dengan berbagai situasi politik, bagaimana dia di penjara, dia tetap gigih menulis dan tetap menekuni dunia itu, itu satu hal yang jauh lebih penting buatku. Aku juga belajar dari karya-karya dia, dan dari cara dia memandang kesusastraan, cara dia memandang Indonesia itu juga sangat penting.

Kalau perkembangan genre realisme-sosialis, bagaimana menurut Anda dewasa ini di Indonesia?

Aku nggak tahu ya, apakah masih ada orang yang melakukan itu. Ku rasa seperti yang lain-lain itu juga sesuatu yang berkembang, aku tidak tahu banyak yang lain melakukan apa, ada yang meneruskannya atau masih memikirkannya. Buatku sendiri, aku menganggap bahwa karya-karyaku memiliki elemen itu tapi tentu saja tidak murni, tidak persis seperti Pram melihatnya karena buatku aku menambah banyak elemen di novelku yang ku rasa fungsional. Aku merasa cara pandangku terhadap situasi dan Indonesia yang berbeda mungkin juga mempengaruhi cara pandangku yang baru, misalkan di novel-novelku ada elemen-elemen pop culture, ada cerita silat, ada cerita horor, yang agak sulit ditemukan di karya-karya Pram. Tapi ada beberapa cara pandang yang mungkin juga tetap, seperti aspek-aspek politik kurang lebih aku sangat terpengaruh oleh Pram, cara pandang Pram.

Sebagai penulis, kalau sudah jadi penulis sebesar Anda apa tantangannya ya?

Bagiku sih dari dulu sama tantangannya, aku punya gagasan, punya ide bagaimana cara merealisasikannya menjadi tulisan itu tantangan paling sulit buatku. Dari dulu sampai sekarang bahkan semakin ke sini semakin berat karena aku melihat dunia dengan cara yang lebih kompleks, semakin lebih rumit, semakin lebih lebar, sementara mediumnya tetap mediumnya bahasa, mediumnya novel, bentuknya itu semakin sulit, aku rasa sebagai penulis sebagian besar semakin lama akan menghadapi tantangan yang pada dasarnya jauh lebih sulit.

Oh jadi semakin ke sini semakin sulit begitu?

Yang aku rasakan memang begitu, semakin sulit, menulis novel semakin lama.

Kan ada anggapan untuk menjadi penulis itu tidak bisa dijadikan patokan utama untuk menunjang ekonomi, menurut Anda?

Mungkin saja, tergantung siapa penulisnya kalau aku tidak tahu ya, kalau kaya Dewi Lestari saya rasa kaya rayalah dengan tulisannya atau Andrea Hirata. Ku rasa itu sebenarnya urusan dagang aja, tinggal itung-itungan aja gitu, kamu butuh berapa? Itu kan urusan masalah kamu butuh berapa setiap bulan dan tulisan menghasilkan berapa? Kalau butuhnya 50 juta dan ngehasilin 10 juta ya tetep aja kurang. Tapi kalau cuma butuh lima juta dan kamu ngehasilin sepuluh juta, ya bisa nutup. Itu sih masalah urusan dagang sih akhirnya, menulis bisa menghidupi atau nggak. Ya, ukurannya sama saja dengan profesi lain, kita bisa bertanya bikin gorengan empek-empek bisa ngidupin nggak sih? Itung-itungan aja, ada yang bisa hidup ada yang nggak.

Anda bilang dulu pernah mencuri buku, dan sekarang karya-karya anda dibajak. Apakah menurut Anda ada relasi dari dua hal itu?

Aku rasa itu berbeda, kalau aku mencuri buku, aku mencuri dari toko buku, dari orang yang punya buku, dari perpustakaan, itu artinya aku mencuri dari orang yang berpunya. Itu tetep aja kriminal, tapi konteksnya aku mencuri dari seseorang yang punya. Aku cuek aja misalnya kamu nggak punya uang, pengen baca novel, kamu mau membeli yang murah ya masuk akal buatku. Kamu nggak punya uang, ada yang murah separuh harga ya kamu beli, atau kamu fotokopi gitu. Meskipun bagiku fotokopi ujung-ujungnya juga mahal, atau ada filenya di internet kamu download. Sepanjang kamu nggak punya uangnya. Tapi sebenarnya poin dari pembajakan yang kita harus merasa sebal dan marah bukan pada orang-orang seperti itu tapi pada orang-orang yang membajaknya, orang-orang itu bukan seperti pencuri yang nggak punya. Pembajak ini jelas punya mesin, punya alat produksi dengan kata lain dia orang yang lebih kaya daripada aku. Itu kaya kamu dirampok oleh orang kaya, itu kan menyebalkan sekali dan pembajakan itu selalu begitu. Yang membajak film-film bajakan itu siapa? Ya mereka orang-orang kaya, punya mesinnya punya alatnya. Ya, yang jualan di depan mungkin sih penjual-penjual, buatku kalau kita membrantas orang-orang begitu sih nggak penting. Si penjual dan si pembeli bisa diambil, akan ada penjual-pembeli lain tapi yang bikin ini, yang punya mesinnya yang punya alatnya, punya kapitalnya. Ya itu ibaratnya kamu dirampok sama orang kaya.

Apakah Anda merasa akhir-akhir ini dunia perbukuan Indonesia sedang naik, misal dilihat dari muncul banyak writer festival dan banyak publisher-publisher baru.

Ya, kurasa bagus sih, di luar negeri hampir setiap kota ada festival sastra, dan biasanya penulis keliling dari satu festival ke festival lain. Aku rasa penting bagi penulis, juga bagi komunitas membaca untuk pembaca bisa ketemu dengan penulis, terutama di festival itu selalu ada bentuk-bentuk lain selain promosi buku  atau apa, yang paling penting kan sharing pengetahuan, sharing gagasan, dimana nggak sekedar soal buku baru tapi gagasan-gagasan itu seperti pasar gagasan. Kita bisa ketemu banyak penulis nggak cuma satu genre gitu.

Buku sekarang nggak cuma dibaca tapi juga berfungsi sebagai action figure, bagaimana anda melihat ini?

Ya nggak tahulah, itu kurasa nggak cuma buku tapi makanan juga. Aku rasa bukan soal buku dan makanan tapi memang ada tren baru dimana orang sekarang lebih visual, lebih melihat banyak hal secara visual karena perkembangan teknologi juga sih.

Bukan suatu yang buruk ya?

Ya, nggak ada yang buruklah dalam hal itu. Buruk itu kalau orang asalnya baca jadi nggak baca itu buruk.

Eka Kurniawan
Eka Kurniawan

Anda dulu kuliah jurusan filsafat, apa pengaruh yang didapat dari kuliah untuk Anda sebagai penulis sekarang?

Kurasa filsafat membantuku disiplin dalam berpikir. Menulis itu kan sama saja dengan berpikir. Kita nggak mungkin berpikir tanpa bahasa, segala jenis bahasa, dengan simbol. Ya itu alat manusia untuk berpikir itu bahasa. dan menulis juga sama alatnya bahasa juga. Jadi itu paralel sebenernya, menulis dan berpikir menggunakan metode yang sama, kalau pikiran kita kacau pasti tulisan kita kacau juga. Kalau pikiran kita bisa tertib tertata itu ya kita bisa nulis, karena alatnya sama, cuma bedanya satu di kepala dan yang satu dituliskan.

Kalau pengalaman Anda di pers mahasiswa Balairung, apakah ada pengaruhnya sebagai penulis sekarang?

Aku nggak tahu ya, karena aku lupa pernah nulis atau nggak di Balairung tapi yang lebih penting ya pergaulanku dengan teman-temanku. Nggak sekedar ngumpul tapi berbagi gagasan, ya beberapa teman yang sampai sekarang masih menjadi teman nongkrong ya dulu berawal dari B21 kaya Ugoran (penulis & vokalis Melancholic Bitch). Aku kenal sejak dari B-21. Dia sekarang di Amerika, kemarin waktu aku ke sana juga ketemu dia.

Kehidupan seorang Eka Kurniawan sebagai pembaca itu seperti apa?

Aku hampir membaca setiap hari, aku lebih seperti pembaca daripada penulis karena sebagian waktuku lebih aku habiskan untuk membaca. Di pesawat aku pasti baca, kalau nggak baca pasti tidur, nunggu masuk boarding ya pasti baca. Ya pokoknya aku setiap ada waktu luang ya aku baca buku.

Kalau buku-bukunya sendiri?

Oh nggak pernah baca lagi, males.

Maksudnya buku-buku yang dibaca itu buku seperti apa?

Ya macem-macem sih, mood-mood-an sih, kalau selesai membaca buku tinggal liat rak aja, kira-kira baca apa ya atau kalau ada buku yang baru datang aku liat, ya udah aku ambil. Ya aku sih nggak terlalu strick pada satu bacaan, ya random aja kalau ada yang menarik aku baca.

Soal males baca tadi, seberapa lama proses membaca ulang karya sendiri sebelum diterbitkan?

Aku sih emang kalau nulis biasanya selalu re-read terus gitu, jadi versi final itu biasanya aku udah enek banget karena udah pasti puluhan kali baca. Lalu aku kasih editor, editor ngedit, biasanya ada hal-hal yang aku kelewat dia kasih tahu terus aku benerin, udah fix, udah cetak. Biasanya aku sudah nggak mau sentuh lagi. Udah terserah orang deh.

Sebagai ilustrator nih, bagaimana penjagaan akan ilustrasi di cover buku Anda? Anda juga sering menggambar cover buku anda sendiri.

Nyantai aja sih sebenernya aku, beberapa didesain sama orang lain. Kalau sama orang lain ya biarin terserah mereka. Paling kadang-kadang ngasih usulan, kayaknya font-nya terlalu ramai atau apa, tapi biasanya jarang aku komentarin, ya terserah interpretasi orang. Bahkan kalau aku yang bikin sendiri aku juga kadang-kadang nggak terlalu mikirin ini novel tentang apa, biasanya aku sambil nulis biasanya suka coret-coret di blocknote, gambar apa, gambar burung, gambar apa. Ya waktu ada gambar itu aku scan aja, udah itu jadi cover.

wawancara bersama Eka Kurniawan
wawancara bersama Eka Kurniawan

Berada di bawah penerbit besar, bisa ceritakan, misal untuk pengerjaan cover itu apakah ada intervensi atau apakah mereka pernah menolak cover yang Anda buat?

Ya tetep aja, kadang-kadang misalnya aku sudah bikin gitu, biasalah mereka ngasih tahu kayaknya warnanya nggak gitu. Kan kayak Seperti Dendam dan Lelaki Harimau yang baru, ya gambarnya seperti itu tapi warnanya proses itu cyan, magenta, yellow, black. Tiba-tiba mereka ngasih usul ini warnanya nggak terlalu menonjol, terus mereka ngasih daftar warna, ya oke, kayaknya usulan mereka menarik. Akhirnya pakai tiga warna tapi warna-warna khusus.

Sekarang soal musik, katanya dulu pernah ngeband?

Bentar aja, main-main lagu tahun 90an, ya rock-rock jaman tahun 90an. Tapi bentar juga sih karena aku kemudian juga sadar nggak punya bakat.

Dulu megang apa?

Sempet main drum, sempet nyanyi juga.

Musik ngaruh nggak ke proses penulisan?

Ya secara langsung, nggak terlalu tahu ya tapi aku sih suka sambil dengerin musik kalau sambil nulis atau sambil apa. Kalau aku orangnya suka dengerin musik, sambil baca sambil dengerin musik.

Ada musik-musik yang cocok banget jadi teman kalau nulis?

Kalau sekarang sih aku relatif seperti baca, dengerin musik hampir musik apa aja sih. Ya dulu sih waktu masih kuliah, masih remaja agak susah masih lebih spesifik. Cuma suka jenis rock and roll, tapi makin ke sini aku bisa terima musik lain dan malah dengerin gitu. Jadi hampir semua jenis musik bisa aku dengerin gitu lho.

Kalau harus nyebut bandnya, yang sekarang disenangi gitu apa?

Kalau seneng-seneng banget kayaknya nggak terlalu ya dengerin musik, tapi ada yang aku mau dateng ke konsernya tapi alasannya kadang ya macem-macem. Misalkan aku nonton Metalicca, Guns N Roses, karena itu sejak jaman kuliah aku suka jadi aku pengen nonton. Terus SNSD Korea gitu ya aku mau nonton, kenalnya baru belakangan tapi pengen aja tahu kayak apa sih, ya sudahlah nonton. Atau..

Atau band Indonesia.

Band Indonesia belum pernah nonton konsernya sih.

Belum pernah?

Ya kalau zaman di Jogja sih nontonnya, tapi justru kalau band-band yang established itu sih aku belum pernah nonton. Nggak tahu belum ke dorong aja buat nonton.

Bandnya Ugoran (Melancholic Bitch)?

Bandnya Ugo juga belum pernah nonton, dengerin lagunya aja. Tapi ya dengerin aja sih, paling belakangan aku beli lagunya… itu siapa ya, Isyana (Sarasvati) itu dengerin.

Punya atensi khusus untuk lirik lagu nggak?

Kalau di mobil dengerin radio sering jadi perdebatan tuh dengan istri, “ini liriknya salah nih! Harusnya nggak gini”. Aku lupa liriknya, mungkin nggak salah tapi aku merasa repetisinya nggak enak. Kata-kata yang sama diulang di baris berikutnya. Itu nggak kreatif banget atau apa ya aku inget misalnya lagunya Anji itu apa ya, Sungguh Aku..”(“Ternyata Cinta” –ed)  yang dari lagunya Padi itu? Kalau aku bilang, ada satu kata yang bisa dibuang karena berlebihan, nggak bermakna kata itu. Terus istriku bilang, “tapi kan dia harus ngepasin dengan nadanya?” “Ya dia cari kata lain,” aku bilang. Soalnya itu kata yang salah, maksudnya kata itu nggak fungsi di situ. Biasanya aku kadang ngomel-ngomelin gitu aja.

Eka Kurniawan
Eka Kurniawan

Photos: Galih Fajar

Transkrip: Sekar Banjaran

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response