close

[Album Review] Electric Wizard – Time to Die

TimeToDieElectricWizard
TimeToDieElectricWizard

 

Juni 1984, Gary Lauwers, 17 tahun, meregang nyawa di tengah hutan Aztakea, utara kota Northport, Long Island, New York. Beberapa minggu setelahnya, di hari kemerdekaan Amerika Serikat, apa yang tersisa dari Gary Lauwers memberikan sedikit gambaran akan apa yang terjadi. Ricky “The Acid King” Kasso, di bawah pengaruh LSD dan mescaline, menusuk Gary Lauwers berkali-kali dan mencungkil matanya. Lalu ia biarkan mayat itu membusuk di tengah hutan. Seakan tak merasa bersalah, Ricky Kasso bahkan tidak ragu-ragu untuk memamerkan mayat Gary Lauwers kepada teman-temannya.
Pemuda yang mengaku menganut Satanisme ini akhirnya ditangkap pada 5 Juli 1984. Dua hari setelah penangkapannya, dengan mengenakan kaos AC/DC, Ricky Kasso gantung diri di sel tahanan. Peristiwa ini sempat menggemparkan publik Amerika Serikat. Banyak pihak yang terobsesi untuk mengaitkan pembunuhan ini dengan ritual pemujaan iblis, penggunaan narkotika, dan pengaruh konten okultisme dalam musik rock dan metal.

Tiga puluh tahun berselang, kisah Ricky Kasso menjadi benang merah dalam album terbaru Electric Wizard, Time to Die. Lewat album kedelapannya, Jus Oborn, Liz Buckhingham, dan Mark Greening akan menggerogoti otak anda dengan kebencian dan pesimisme terhadap kehidupan masyarakat pada umumnya. Selama kurang lebih 65 menit, album ini tak ubahnya adalah jelmaan Ricky Kasso dalam balutan doom metal yang beringas dan mentah.

Album berisi sembilan lagu ini dibuka dengan suara gemericik air dalam “Incense for the Damned” yang juga menyertakan cuplikan suara mengenai kasus Ricky Kasso. Suara organ mengiringi narasi yang dipotong teriakan frustasi tanda dimulainya marching yang mengawal penolakan terhadap pandangan buruk terhadap penggunaan narkotika. Kemudian riff “Time to Die” akan menjebak pikiran anda dalam bad trip sementara Jus Oborn meraung-raung mengajak mati. Puncaknya, distorsi bass dalam “I Am Nothing” bergejolak dan menggema liar mengiringi pandangan yang tidak manusiawi dalam liriknya.

Nomor instrumental “Destroy Those Who Love God” mengingatkan kembali pada kasus Ricky Kasso. “Oh my Satan destroy those who love god,” kata seorang anak kecil menutup lagu itu. Sampai sini, kesempatan untuk jeda headbanging pelan terdapat pada “Funeral of Your Mind”. Namun, jeda tersebut tak lantas menjinakkan Time to Die secara keseluruhan. Gitar drone pada “We Love the Dead” akan mengisi ambience dan mematenkan atmosfir album ini secara keseluruhan.

Jika anda tidak sempat mendengarkan keseluruhan album ini, coba saja nikmati simpelnya gelombang riff dalam single “SadioWitch” yang masih sarat akan elemen stoner rock. Efek akan lebih terasa ketika anda melihat video klip yang dibuat oleh filmmaker indie Shazzula Vultura untuk lagu ini. Akhirnya, sampailah pada lagu  “Lucifer’s Slave” dan berlanjut dengan keseraman Moog Synth di “Saturn Dethroned” yang perlahan hanyut dalam gemericik air seperti di awal album. Dale Griffis, polisi Negara bagian Ohio, kembali peringatannya di awal album Dopethrone. Bedanya, dalam penghujung Time to Die ia memperjelas peringatan tersebut. “When you get into one of these groups, there’s only a couple of ways you can get out. One, is death; the other is, mental institutions. Or third, you can’t get out.[Kontributor / Kevin Muhammad]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response