close

[Movie Review] The Bicycle Thief

Ladri3

images (2)

Tidak dipungkiri emosi merupakan unsur yang mempengaruhi dan mampu membuat gelombang gejolak dalam film. Dengan kata lain, emosi sanggup menjadikan film dinamis, tidak monoton, serta berwarna. Emosi pada dasarnya mendorong penonton turut serta “berperan” sehingga merasakan apa yang dirasakan atau mengalami apa yang dialami oleh para aktor film. Hal ini dapat terjadi pada diri penonton ketika mereka menonton film sepanjang emosi dalam film itu dapat dengan pandai dimunculkan dan dikelola oleh aktor. Emosi memang sengaja dibangun oleh aktor dengan cara melakukan penghayatan terhadap karakter tokoh yang diperankan. Pada titik ini, aktor mencoba untuk menghidupkan sosok tokoh tersebut. Di sisi lain, emosi akan terbentuk –dan dirasakan penonton –ketika para aktor berhasil membuat hidup tokoh yang ada, membiarkan dirinya beralih menjadi pribadi lain.

Film The Bicycle Thief adalah contoh film emosional di antara banyak film yang sanggup menghadirkan emosi sebagai unsur yang paling kentara. Emosi diolah secara apik lewat duet akting tokoh ayah, Antonio dan anaknya yang bernama Bruno. Di samping itu, tokoh pendukung lain seperti istri Antonio sekaligus ibu dari Bruno, Maria serta teman-teman Antonio ikut memperkuat hubungan secara emosional. Sejak awal sampai akhir film ini terus-menerus memainkan emosi penonton. Aktor pameran tokoh Antonio dan Bruno sukses menjadikan penonton seolah-olah merasakan akibat dari masalah yang timbul dan turut menanggung beban ketika sepeda yang oleh Antonio dianggap sebagai penyelamat kehidupan keluarga tiba-tiba raib.

Latar belakang keluarga kelas bawah yang ditandai dengan kehidupan yang serba cukup adalah faktor utama pembentuk emosi film The Bicycle Thief. Secara eksplisit, hal di atas digambarkan melalui sosok Antonio yang kesehariannya bekerja sebagai tukang pengelem poster. Pada masa itu, profesi tukang pengelem poster dapat mendatangkan penghasilan yang cukup untuk menghidupi keluarga kecil seperti keluarga Antonio. Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang menuntut pelakunya untuk selalu berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain sehingga keberadaan sebuah kendaraan menjadi kebutuhan vital. Sebagai seorang kepala keluarga, Antonio berkewajiban untuk menghidupi istri serta anaknya. Oleh sebab itu, dirinya mati-matian mencari pencuri sepeda miliknya agar ia bisa kembali bekerja dan mendapatkan uang.

Pada saat menyaksikan film The Bicycle Thief, saya telah menduga kalau film ini kental dengan unsur emosi yang tidak berhenti dibangun oleh para aktor. Terbukti sampai film berakhir, penonton sekan-akan disadarkan bahwa sedari awal mereka telah masuk ke dalam “kehidupan” Antonio dan Bruno. Pada dasarnya saya tidak terlalu suka film yang memiliki tipe seperti film The Bicycle Thief. Permainan emosi dari awal hingga akhir dimana lebih banyak didominasi oleh emosi yang negatif (baca: sedih) membuat diri saya “lelah” menonton film. Apalagi emosi yang dimunculkan tidak hanya sekedar emosi yang disebabkan karena hilangnya sebuah sepeda tetapi juga ditambah dengan emosi yang menyelimuti hubungan antar ayah dan anak. Sang ayah yakni Antonio berusaha menjalankan perannya sebagai ayah yang kerap kali diidentikkan sebagai sosok pencari nafkah dan pelindung keluarga. Sang anak, Bruno, di sisi lain, memandang Antonio sebagai tokoh yang bertanggungjawab meski beberapa cara yang ditempuh Antonio untuk menunaikan tanggung jawab itu bukanlah cara yang baik dan terpuji.

Dilihat dari segi teknis pengambilan gambar, film The Bicycle Thief mulai mempraktekkan sudut pengambilan gambar sangat dekat (close up). Jika dikaitkan dengan emosi yang secara bertahap dibangun dalam film ini, sudut pengambilan gambar sangat dekat merupakan salah satu cara yang digunakan untuk memperkuat unsur emosi tersebut. [Warning/Nindias Khalika]

Tags : movie
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response