close

ERK Membawa Terang yang Dijanjikan

IMG_1830

Ketika bumi terasa panas, polusi makin menjadi-jadi, cuaca tak menentu, greenhouse effect (efek rumah kaca) kian kentara, pembabatan hutan, hingga akhirnya terjadi bencana alam, itulah saatnya manusia bergerak untuk menyelamatkan lingkungan.

 

Efek Rumah Kaca © Warning
Efek Rumah Kaca © Warning

 

Kira-kira itu pesan yang ingin disampaikan tim panitia Bengkel Kesenian Geografi (BEKAGE) UGM dalam Earthernity Fest 2013. Maka, sangat pas jika BEKAGE memilih Efek Rumah Kaca sebagai band utama dalam malam puncak yang diselenggarakan di Pusat Pusat Kebudayaan Kusnadi Harjosumantri UGM, Minggu (2/6).

Ini adalah kali kelima Earthernity Fest diselenggarakan dan untuk tahun ini tema yang diambil adalah “Earth, Pray, Love”.  Mulai pukul 19:00 beberapa band internal dari Fakultas Geografi dan juga band-band seleksi mulai bermunculan. Mereka mencoba memanaskan venue yang masih lowong. Tampak para penonton sedang duduk lesehan nyaman di lantai venue

Berikutnya, suasana R&B semi pop jazz dari Page Five dilanjutkan oleh irama blues pop ala Archie Blues. Semakin malam, penonton semakin padat. Ini dimanfaatkan Edelweiss untuk membawa penonton bernyanyi bersama lewat aransemen dari “Saat Kau Milikku” (BLP) dan “We Are Young” (Fun). Wikan & The Alvian Project, band jebolan BEKAGE, semakin memanaskan suasana lewat empat lagu penuh hentakan seperti “Madness”, “Labirin”, “Lakon Mahasiswa”, “Viva La Vida”.  Kemunculan duet MC di setiap pergantian band menjadi berkah tersendiri, karena mereka selalu punya lawakan segar yang membuat penonton, yang masih belum terlalu bersemangat itu, untuk tertawa lepas.

 Aurette and The Polska Singing Carnival © Warning
Aurette and The Polska Singing Carnival © Warning

Klaim tiket sold out oleh pantia mulai terasa ketika Aurette and The Polska Singing Carnival (AATPSC) masuk ke stage. Di saat inilah sekitar 1000 penonton mulai berdiri, berdesak-desakan, maju ke depan, untuk menikmati  delapan lagu bergaya gaya folk-pop dengan sentuhan Eropa dari AATPSC. Band asli Yogyakarta yang lagi naik daun ini pantas dianggap spesial, sebab mereka punya instrumen yang beragam, mulai akordeon hingga fagot.

Dua lagu Beirut, yakni “Postcards from Italy” dan “Nantes” dibawakan dengan riang oleh Dhima Christian Datu dkk. Ada pula “Seeking Carnival”, “I Love You More Than Pizza”, dan “Lies in a Cup of Cappuccino” berirama waltz. Lalu ada nomor Mocca “You” yang diaransemen dengan versi semi-keroncong oleh AATPSC. Tak lupa mereka menampilkan “Wonderland” untuk memancing keriuhan penonton sebelum band utama muncul.

Penantian panjang berakhir pada pukul 22:30 ketika Cholil Mahmud  mengokupasi panggung. Inilah Efek Rumah Kaca (ERK) minus Adrian. Sang pembetot bas yang sedang sakit ini digantikan oleh additional player. Sambil menyanyikan lagu pembuka “Debu-Debu Berterbangan”, fokus penonton lalu beralih ke banyaknya personil ERK yang mentas di panggung.

Ternyata, ERK bertransformasi menjadi Pandai Besi. Seperti yang diketahui, lewat Pandai Besi, ERK menjadi sebuah band baru yang mengaransemen lagu-lagu lawas mereka. Pandai Besi digawangi gitaris, pemain trompet, keyboardist dan dua vokalis latar perempuan. Sayang, yang disebut terakhir justru memberikan suasana canggung di panggung ketika dua biduan tersebut melenggak-lenggok tubuhnya sambil bernyanyi. Meski demikian, hal itu tidak mengurangi esensi dari musikalitas sosio-humaniora ala ERK.

Dikeluarkanlah “Laki-Laki Pemalu” dan “Menjadi Indonesia”  versi daur ulang oleh Pandai Besi yang tampak kurang familiar di telinga. Teriakan dan suara kompak dari penonton mulai terdengar nyaring ketika “Sebelah Mata”, “Balerina”, “Kenakalan Remaja di Era Informatika”, dan “Mosi Tidak Percaya” dinyanyikan. Kemudian, ERK aka Pandai Besi mencoba syahdu lewat dua lagunya “Hilang” dan “Jangan Bakar Buku” sebelum kembali menghentak venue lewat “Cinta Melulu” yang sama sekali tidak mendayu-dayu.

Tiba-tiba, Cholil berbicara di panggung dan mengucapkan bela sungkawa atas kejadian Locstock#2 pekan lalu, terutama atas meninggalnya Yoga ‘Kebo’ Cahyadi, sang ketua panitia Locstock. ERK tidak jadi tampil minggu lalu dalam acara tersebut. Janji tampilnya ERK di Yogyakarta pun akhirnya terwujud lewat malam puncak Earthernity Fest layaknya membawa terang bagi pecinta musik di Jogja. “Semoga Jogja terus bisa menyelenggarakan event musik seperti ini dan melanjutkan karya-karyanya,” ucap Cholil yang disambut tepuk tangan penonton.

“Tapi aku tak pernah mati, tak akan berhenti…” Refrain “Di Udara” tersebut tampak emosional selepas pidato singkat Cholil itu. Lewat lagu itu, ERK mencoba melakukan ‘tribute to Locstock’ secara halus. Para performer sebelumnya pun juga mengucapkan bela sungkawa atas Locstock dan ERK mampu menggenapinya menjelang akhir acara.

Selepas “Melankolia”, Cholil lalu berganti gitar akustik untuk membawakan dua nomor final menjelang pukul 12 malam. “Lagu Kesepian” menjadi koor khidmat para penonton ketika syair “di mana terang, yang kau janjikan, aku kesepian…” membahana. Akhirnya sampailah pada “Desember” yang menjadi sajian penutup yang mampu memuaskan crowd. Total 15 lagu berhasil mereka persembahkan. Pertunjukan selesai, penonton pun menikmati hujan di bulan Juni yang menjadi ‘epilog’ kepulangan mereka. [Warning/Sandy Mariatna]

 

Event By: Bengkel Kesenian Fakultas Geografi UGM

Date: 2 Juni 2013

Venue: Pusat Kebudayaan Kusnadi Harjosumantri / Purna Budaya UGM

Man of the match: Bela sungkawa ‘Lockstock’ dari tiap performer

Rating: •••1/2

 

Efek Rumah Kaca © Warning
Efek Rumah Kaca © Warning

Foto konser ini bisa dilihat di -> Earthernity Fest

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response