close

[Movie Review] Ex Machina

ex-machina-movie

Director           : Alex Garland

Cast                 : Domnhall Gleeson, Alicia Vikander, Oscar Isaac, Sonoya Mizuno

Durasi             : 108 menit

Studio             : Film 4, DNA Film, Scott Rudin Production

ex machina
ex machina

Sudah lama sejak terakhir kali ada sebuah film sci-fi yang benar-benar mampu menanamkan sebuah ide kepada penontonnya. Sering kali film sci-fi berujung menjadi tontonan garing yang dibungkus dalam desain yang fantastis dan futuristik. Pada akhirnya, film-film seperti itu hanya menjadi tontonan kering yang tidak membekas, meski ide yang ditawarkan cukup menarik. Ingat Transcendence? Aspek visual film garapan Wally Pfister itu memang tidak dapat diragukan lagi. Tema yang dibawa juga sangat kekinian, yaitu kecerdasan buatan. Namun, eksekusi yang kurang mantap dan penaskahan yang tidak berfokus membuat Transcendence kurang provokatif.

Ex Machina, yang sekiranya berada di ranah yang sama, bisa menjadi antitesis yang tepat terhadap tema yang sama-sama diajukan. Film debut Alex Garland sebagai sutradara ini memang tidak menghadirkan desain yang berkilap atau pesawat luar angkasa yang canggih. Namun, kendati gayanya yang minimalis. Ex Machina, dalam esensinya adalah bentuk utuh dari film sci-fi.

Alkisah, Caleb (Domnhall Gleeson), adalah seorang programmer yang mendapatkan undangan spesial dari bosnya yang tertutup, Nathan (Oscar Isaac). Selama seminggu penuh, ia menghabiskan waktunya di kediaman Nathan yang terpencil. Di sanalah ia mengetahui maksud tersembunyi Nathan. Ia berniat untuk melibatkan Caleb dalam tes Turing terhadap ciptaannya, Ava (Alicia VIkander), sebuah-atau-seorang robot-atau-wanta yang memiliki kecerdasan buatan. Mulai disitulah, konflik atas Ava terjadi dan berakhir dengan notasi yang begitu mengerikan.

Dalam latar tempat yang begitu terisolir, ide tentang kecerdasan buatan dieksplorasi dengan gamblang dalam tujuh sesi wawancara antara Caleb dan Ava. Motif dan konsekuensi dari penciptaan kecerdasan buatan sendiri dapat terlihat samar dalam diri Nathan. Tiga aktor utama inilah yang menjadi modal Alex Garland untuk mengulur penontonnya untuk memahami isu ini. Memang karakter tidak ada yang begitu baru dari karakter-karakter yang dikenalkan. Namun, kesederhanaan ini yang membuat Ex Machina terasa tidak bertele-tele dan setia pada substansinya. Sisanya, naskah cemerlang Ex Machina menjadi tulang belakang dari keseluruhan film ini. Aspek visual garapan Rob Hardy yang sederhana dan jauh dari kesan mentereng ala film sci-fi juga berhasil memberikan corak tersendiri pada Ex Machina.

Dari awal film, rasa penasaran dan aneh mulai dibangun dengan diperkenalkannya Ava, yang jika didalami, tidak pernah berada di tempat yang jelas antara sebuah robot atau seorang manusia. Karakteristik ini yang membuat Ava sangat menarik untuk disoroti. Kita, sebagai penonton, yang diwakili oleh Caleb, tidak bisa berbuat apa-apa terhadap situasi tersebut. Bahkan detail kecil seperti kartu akses Caleb yan terbatas menekankan perasaan itu. Lalu datanglah Nathan, stereotip seseorang yang termakan oleh obsesi dan kecerdasannya sendiri. Lewat Nathan yang bersandingan dengan tokoh Dr. Frankenstein, penonton bisa melihat kemungkinan-kemungkinan yang ada dari terciptanya kecerdasan buatan dalam bentuk manusia. Benar, jika dilihat dari kulitnya, Nathan tidak bisa dikatakan sebagai percontohan moral. Namun begitu pula dengan Caleb, yang meski lugu, ia sendiri memiliki agenda pribadi terhadap Ava.

Tapi nilai moral terhadap rasanya bukan menjadi titik berat Alex Garland dalam membicarakan kecerdasan buatan. Hanya ada misteri dan ketidaktahuan dalam Ex Machina, dan usahanya yang perlahan-lahan untuk mencoba memahami. Ambil contoh perlakuan Nathan terhadap Kyoko (Sonoya Mizuno), yang merupakan pendahulu Ava. Nathan terang-terangan “memperbudak” Kyoko. Lalu mengapa? Pada hakikatnya, Kyoko bertuhan pada Nathan sebagai penciptanya. Bukankah kita juga seperti itu? Di sisi lain, sebagai entitas yang memiliki kesadaran, akan ada dorongan untuk bebas. Sebagaimana yang dirasakan Ava. Tidak ada yang baik atau buruk dalam lokasi yang terpencil itu. Semuanya buram, terdistraksi oleh latar yang begitu memikat.

Sampai akhirnya, Alex Garland memang tidak ingin menjawab pertanyaan yang ia ajukan sendiri. Ex Machina tidak berusaha memberikan jawaban atau ramalan. Melainkan sebuah penggambaran akan fenomena yang cepat atau lambat akan datang. Ex Machina secara perlahan dan hati-hati menuntun penontonnya melangkah melampaui permasalahan tersebut. Sialnya, Alex Garland justru sengaja meninggalkan kita terperangkap dalam pengasingan rumah Nathan. Membiarkan kita terus bertanya sekaligus terpukau akan Ava.[WARN!NG/Kevin M.]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response