close

[Movie Review] Exodus: Gods and Kings

MV5BMjI3MDY0NjkxNl5BMl5BanBnXkFtZTgwNTM3NTA0MzE@._V1_SX640_SY720_

Exodus: Gods and Kings

Director : Ridley Scott

Cast : Christian Bale, John Turturro, Joel Edgerton, Ben Kingsley

MV5BMjI3MDY0NjkxNl5BMl5BanBnXkFtZTgwNTM3NTA0MzE@._V1_SX640_SY720_

 

Nama nabi Musa atau Moses tentunya sudah tidak asing lagi. Sejak ia dipungut dari Sungai Nil dan dibesarkan dalam kemegahan istana Firaun hingga memimpin budak Bani Israil menuju kebebasan. Ribuan tahun riwayat hidupnya tersebar turun temurun dari orang tua ke anaknya, atau dari guru-guru di sekolah dasar pada muridnya. Tidak ketinggalan, banyak pula karya seni yang terilhami kisah ini.

Salah satunya film Exodus: Gods and Kings. Film besutan Ridley Scott ini menawarkan sebuah tontonan epik di penghujung tahun 2014. Dibintangi sederet aktor ternama seperti Christian Bale dan Ben Kingsley, Exodus dibebani ekspektasi yang tinggi dari penonton. Sayangnya, ekspektasi tersebut tidak terpenuhi.

Dengan durasi dua setengah jam, Exodus gagal untuk membawa penonton untuk masuk ke dalam kisahnya. Singkat cerita, Moses bersama Ramessis dan Seti, ayahnya, menyerang pasukan Heth. Seti tewas dan Ramessis diangkat sebagai Firaun. Identitas Moses sebagai Bani Israil terkuak dan ia diasingkan. Lalu Moses memimpin bangsanya yang diperbudak untuk lolos dari Kekejaman Firaun. Antara babak-babak tersebut, tidak ada twist yang menarik sehingga secara keseluruhan, penaskahan film ini terasa datar. Exodus menyia-nyiakan materi cerita yang menarik untuk dieksplorasi dan mereduksinya untuk memberi ruang pada efek CGI yang berlebihan.

Penampilan Joel Edgerton sebagai Ramessis pun tidak segemilang kostum emas flamboyan yang ia pakai. Sementara Christian Bale sendiri kurang menjiwai karakter Moses dan bahkan membuat karakter utama tersebut tidak relevan terhadap keseluruhan cerita. Interaksi antar tokoh yang terputus-putus dan tidak selaras semakin membuat Exodus cenderung membosankan.

Meski begitu, bukan berarti Exodus adalah sebuah film buruk dan tidak layak untuk ditonton. Exodus tetap menyajikan visual effect yang cemerlang untuk menggambarkan aksi yang terjadi sepanjang film. Perhatian terhadap detail dalam penataan kostum, lokasi, dan koreografi dalam film ini juga patut diapresiasi. Hanya saja, hal itu tidak cukup untuk menutupi kekurangan dalam Exodus, pendalaman karakter dan penaskahan. Bahkan, karena kekurangan tersebut, sinematografi yang telah digarap dengan baik pun menjadi sebuah hal yang mengganggu.
Sepanjang karirnya, Ridley Scott telah memiliki reputasi sebagai seorang sutradara yang visioner. Lihat saja kedalaman nilai yang disampaikan dalam Blade Runner atau atmosfir horor yang terasa pada Alien lewat penataan artistiknya yang berpengaruh besar dalam dunia perfilman. TIdak ketinggalan, Gladiator yang dibintangi Russel Crowe juga memberikan sajian drama yang berkelas dari Ridley Scott. Berbicara mengenai Russel Crowe, ia juga menjadi tokoh utama dalam Noah, film garapan Darren Aranofsky yang terinspirasi oleh biblical-epic lain mengenai Nabi Nuh. Berbeda dengan Exodus, Noah berhasil mengajak penontonnya ke dalam megahnya bahtera Nabi Nuh dengan indah dan menguak sisi gelap tokoh Noah secara humanis.

Begitu juga dengan film tahun 1956 berjudul The Ten Commandments karya Cecil B. DeMille yang sama-sama mengangkat kisah Nabi Musa. Dalam The Ten Commandments , Cecil B. DeMille memberikan gambaran yang mencolok tentang keadaan Mesir saat itu dan menguraikan kisahnya dengan menarik. Sementara itu, Exodus tak ubahnya adalah film blockbuster lain yang tidak memiliki karakter tersendiri. Hampir sulit dipercaya untuk melihat Ridley Scott berusaha terlalu keras dan gagal untuk memenuhi ekspektasi penonton terhadapnya sebagai sutradara yang visioner. [Kontributor / Kevin Muhammad]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response