close

Explosions In The Sky – The Wilderness

a0140231993_10

Review overview

WARN!NG Level 8.4

Summary

8.4 Score

 

Label: Temporary Residence Limited

Year: 2016

Watchful shot: “Disintegration Anxiety”, “Infinite Orbit”, “Landing Cliffs”

Paham mengenai post-rock identik dengan sebuah hamparan luas yang dihidupi oleh permainan instrumental dari tautan perangkat elektronik, efek yang ditekan hati-hati, ketukan drum yang fluktuatif, maupun intonasi yang mendebarkan. Salah satu alasan mengapa saya jatuh hati pada genre ini adalah bagaimana ia mampu membuai alam bawah sadar hingga batas imajinasi yang muskil dijangkau, sekaligus merapalkan metamorfosa akan kaidah kehidupan di semesta raya. Ditambah, dengan mendengarkan komposisi-komposisi tersebut, kebebasan seketika berdiri di depan mata; mengajak untuk sekejap menerawang sampai permadani yang tak berbekas.

Rasanya tak perlu menyebutkan band beraliran post di pelbagai belahan dunia karena bisa dibilang jumlahnya terhitung banyak dan masing-masing di antaranya membawa integritas yang menonjolkan keistimewaan. Ada yang menyelipkan nafas hardcore, meneteskan senyawa eksperimental, serta meraciknya lewat sentuhan blues dan jazz sekalipun. Namun satu hal pasti; nama Explosions In The Sky berada pada urutan atas yang seyogyanya tidak patut ditinggalkan.

Dibentuk di tahun 1999, kuartet yang digawangi Chris Hrasky (drum), Michael James (bas), Munaf Rayani (gitar), dan Mark Smith (gitar) ini masih konsisten memegang konsol bermusiknya sampai level yang sukar dibantahkan. Bagi mereka, post-rock telah merasuk dalam sendi-sendi penyangga yang mau tidak mau, suka tidak suka, berperan penting merawat ingatan perihal kekosongan. Explosions In The Sky bukan sekedar produk atau jaring pengumpul masa sepanjang tur darat. Bukan pula tumpukan memori yang menunggu kapan tibanya usang. Explosions In The Sky adalah cangkang berproses ketika kita bias membedakan hal yang nyata dan fana.

Total sebanyak 12 (duabelas) album sudah mereka hasilkan. Terbagi atas tujuh album studio dan lima buah album original soundtrack. Tiap album memiliki taraf penilaiannya tersendiri yang mana tidak semuanya berhasil memuluskan simpul kepuasan indera pendengar. Coba saja simak bagaimana How Stranger, Innocence (2000) dan The Earth Is Not A Cold Dead Place (2003) tampil secara memukau dan mendulang banyak respon positif sebelum dikecewakan The Rescue (2005) serta Take Care, Take Care (2011) yang kelewat membingungkan.

Akan tetapi durasi berkabung mereka tak berlangsung lama. Sadar bahwa formula musiknya mulai membosankan, Explosions In The Sky seolah mendapati tanda terlahir untuk kali kedua kala tiga soundtrack film rilis berurutan; Prinche Avalanche (2013), Lone Survivor (2013), dan Manglehorn (2014). Mengusung konsep minimalis, mereka justru membuat kesan baik seraya meletupkan antusiasme. Terutama kolaborasinya bersama David Wingo yang mendedah khayal. Melahirkan kemegahan saat improvisasi panjang sedikit dikaburkan.

Tak ingin kehilangan momentum, album studio ke delapan yang bertajuk The Wilderness pun dilepas. Berkumpulnya sembilan nomor yang memercikan ketenangan di mana tidak ada sorotan berlebih maupun publikasi bombastis. Yang ada hanya sikap minim beban dan menikmati perjalanan. Semacam fase yang menuntun perlahan tetapi tak meminta upeti berupa rencana berjangka. Cukup memejamkan cahaya dan menghidupkannya saat riak dilema tak lagi memaksa.

Dalam album ini, Explosions In The Sky berkarya tanpa beban. Ibarat kata sedang memasuki lubang di mana yang ada di kepala hanya bermain dan bermain tanpa memikirkan ekspektasi grafik penjualan maupun keramaian konser yang dilakukan. Di lain sisi, Munaf Ravani paham betul tatkala fondasi post-rock semakin mudah diperkirakan dari album ke album. Semangat klasikal yang memudar nyatanya menjatuhkan keintiman; antara skeptisme atau fokus yang terpecah-belah. Alhasil, nafas baru berwujud konstruksi yang tak bertele-tele dari mesin synth pun jadi andalan terkini.

Adalah “Wilderness” yang menjadi contoh konkrit. Petikan gitar beradu dengan resonansi mesin buatan yang menutupi ruang. Sejurus berselang, baying-bayang menyeramkan tercipta tanpa kepastian tendensi. “The Ecstatics” pun setali tiga uang. Sound yang dihasilkan Mark merasuk ke dimensi entah yang menggetarkan jala. Seperti “Hoppipola” milik Sigur Sigur Rós dengan versi lebih lantang. Sedangkan di “Tangle Formations” dan “Logic of A Dream” karakter khas semasa berkutat di padang Texas muncul seketika. Sayup-sayup dawai bergetar membunyikan refleksi mayor dan minor yang ditajamkan. Lalu menguntit di belakang, hentakan pedal Hrasky melesatkan timpalan orkestrasi yang tipis.

Tentunya terdapat kesepakatan tidak resmi, di luar hitam dan putih, yang menyebutkan The Wilderness menghadirkan kembali dentuman optimisme karir Explosions In The Sky dan keyakinan post-rock mampu berbenah diri. Tak sekedar raungan instrumental yang kadung dicap mengalami stagnansi atau mungkin ajang pamer superioritas dalam mencumbui perkakas pribadinya. The Wilderness mencerminkan bayangan jiwa mereka masih sama seperti satu dekade silam. Menjunjung keliaran, menolak pengekangan, dan melenyapkan belenggu batasan.

Apabila diminta untuk mengambil beberapa nomor favorit, pilihan jelas jatuh kepada “Disintegration Anxiety”, “Infinite Orbit”, serta “Landing Cliffs”. Ketiganya berhasil menyeret saya ke roman masa lampau untuk sebatas duduk bersila, menghela nafas dan udara pegunungan, kemudian beranjak berdiri sembari menghirup batang tembakau yang sengaja disimpan di saku celana. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.