close

Festival Film Dokumenter ke-17 Meluncurkan Program Virtual Reality tentang Disabilitas

Sesi diskusi pengembangan program “The Feelings of Reality”

Sulit menampik bahwa penyandang disabilitas sering kali ditempatkan sebagai “warga negara kedua” di negara ini. Hampir semua aspek tidak ramah pada kaum disabilitas. Hal inilah yang akhirnya membuat mereka sulit untuk memperluas ruang gerak.  Padahal, sebagai komponen yang tidak terpisahkan dari suatu negara, penyandang disabilitas memiliki hak yang sama dengan masyarakat lainnya, termasuk dalam menikmati sinema.

Mengingat pentingnya meningkatkan kepekaan masyarakat terhadap difabel, Festival Film Dokumenter (FFD) meluncurkan program “The Feelings of Reality” pada Minggu, (9/12) lalu di gedung Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta. Bekerjasama dengan VOICE GLOBAL, program ini memiliki misi untuk memperluas pengaruh film-film yang menyuarakan isu disabilitas dengan cara menayangkan film dokumenter berbasis Virtual Reality (VR). Medium baru ini dipilih karena kemampuannya menampilkan realitas yang lebih dekat dengan audiens.

Aditya R. Pratama (kiri), programmer “The Feelings of Reality” memberikan presentasi pembuka tentang program, ditemani oleh penerjemah bahasa isyarat (kanan)

Diawali dengan pemutaran film tentang anak-anak penyandang disabilitas yang terlibat dalam sebuah olimpiade, berjudul SOIna–Spesial Olimpiade Indonesia (2008). Kemudian dilanjutkan dengan diskusi bersama dengan ALTERAKSI yang difasilitasi oleh Rival Ahmad dan Ardi Yunanto. Diskusi berlangsung secara dua arah. Peserta diskusi yang merupakan penyandang disabilitas dan non-disabilitas melebur menjadi satu, saling menyatakan keresahan masing-masing terkait isu-isu disabilitas. Melalui kolaborasi dengan ALTERAKSI, FFD mencoba untuk belajar langsung dari para teman-teman difabel mengenai isu-isu apa saja yang penting untuk dieksplorasi melalui film dokumenter.

Sesi diskusi peluncuran program “The Feelings of Reality”

Program “The Feelings of Reality” akan berlangsung selama tiga tahun hingga 2020. Di luar pemutaran, bentuk program yang akan dijalankan berupa workshop dan produksi film dokumenter berbasis VR. Selain itu, akan diadakan open call untuk para pembuat film di Indonesia, dengan empat daerah tujuan utama: DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Barat. Ditambah juga distribusi dan ekshibisi delapan film dokumenter berbasis VR  yang akan dihasilkan ke berbagai sekolah dan komunitas.

Dengan dilaksanakannya program ini, FFD berharap bahwa akan muncul peningkatan kesadaran mengenai isu-isu disabilitas melalui pengalaman dalam menonton yang membawa realitas baru serta adanya perubahan perspektif masyarakat dalam melihat isu-isu disabiltas. Secara lebih luas, FFD juga akan berkolaborasi dengan teman-teman dari Braille’iant untuk menyelenggarakan Bioskop Bisik. Semua usaha ini dilakukan demi terciptanya ruang-ruang sinema yang lebih emansipatif dan menjangkau lebih banyak aspek.

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response