close

Festival Musik Tembi 2016: Syukuran Semarak Bebunyian Nusantara

hari 1-kiki and the klan
kiki and the klan (OA)
kiki and the klan (OA)

Perjalanan mengelilingi nusantara di FMT tahun kemarin membuat kita sadar bahwa bebunyian di negeri ini memanglah semarak. Tahun ini FMT mengajak kita berhenti sejenak, merayakan semarak bunyi nusantara.

Seolah melanjutkan tema “Jalan-Jalan” yang diusung oleh Festival Musik Tembi (FMT) 2015, tahun ini FMT kembali hadir dalam tema “Semarak Bunyi”. Ini merupakan ungkapan syukur atas kesadaran bahwa musik nusantara sangatlah kaya, dinamis, dan beridentitas kuat. Perwujudan rasa syukur ini adalah adanya ruang apresiasi bagi ragam irama nusantara dengan balutan tren masa kini. Hal itulah yang disuguhkan oleh Forum Musik Tembi sebagai penyelenggara acara yang sudah memasuki tahunnya yang keenam ini.  FMT terus konsisten dan tidak merubah tujuan utamanya yaitu memberikan ruang apresiasi bagi komposer/musisi muda yang ingin menggali bunyi-bunyian nusantara tanpa sekat genre.

Dihelat di Tembi Rumah Budaya pada 19-21 Mei 2016, tema “Semarak Bunyi” pun diejawantahkan secara apik dalam beberapa program. Pembukaan FMT keenam ini dilakukan dengan Pawai Budaya, sebuah format yang berbeda dari tahun sebelumnya. Pawai ini dimulai dari depan Kantor Kelurahan Timbulharjo menuju Tembi Rumah Budaya yang berjarak kurang lebih 800 meter. Perarakan terdiri dari anak-anak dan pemuda Dusun Tembi, Ikatan Duta Wisata Bantul (Dimas dan Diajeng Bantul), dan Forum Musik Tembi. Arak-arakan ini juga dimeriahkan dengan bebunyian dari mainan anak-anak, seperti pistol-pistolan, botol mineral yang diisi batu kerikil, dan othok-othok. Rombongan arak-arakan secara resmi dilepas oleh Kepala Dusun Tembi, Ibnu Sutopo, dan disambut oleh Basmara Pradipta selaku Kepala Rumah Tembi Rumah Budaya di depan Pendopo Tembi Rumah Budaya sebagai destinasi akhir pawai tersebut. Tarian Reog Ponorogo dari Rogo Singo pun juga ikut menyambut arak-arakan di Pendopo.

Seperti biasa, “Musik Tradisi Baru” menjadi salah satu program yang dibanggakan FMT dari tahun ke tahun. Tahun ini, ada enam nominasi untuk Musik Tradisi Baru, yakni WP Grown, Tingang Tatu, Sanggar Seni Kakula Fakultas Ekonomi Untad, Allegro Sanarapane, NN, dan Mantradisi. Keenam nominator ini menampilkan musiknya di hari kedua perhelatan ini. Pengamatan akan penampilan mereka dilakukan oleh Erik Setiawan (musikolog), Rizaldi Siagian (etnomusikolog), dan Frans Sartono (wartawan musik harian Kompas). Ketiganya juga mengisi program bincang-bincang musik yang diusung di hari ketiga. Repertoar keenam grup musik yang mengundang decak kagum dan tepuk tangan penonton ini nantinya akan dikemas dalam Album Kompilasi Musik Tradisi Baru 2016.

“Panggung Komunitas” pun tak kalah menarik perhatian penonton. Contohnya grup Frog Music Lab dari Komunitas FROGHOUSE. Grup ini terdiri dari personel yang berasal dari berbagai negara yang memiliki satu kesamaan, yaki menyukai budaya dan tradisi Indonesia. Kemudian ada Music for Everyone, sebuah gerakan sosial yang menjadikan musik sebagai bagian dari perkembangan anak-anak dan remaja Indonesia. Selain itu ada grup Gamelan Mben Surup dari Komunitas Gayam16 yang belajar dan bermain gamelan bersama. Terakhir, ada unit folk asal Yogyakarta, Olski, dan juga Jalu TP, solois bergitar yang sukses membuat penonton tak beranjak dari tempatnya menonton dan terus bernyanyi bersama.

bhatara ethnic (OA)
bhatara ethnic (OA)
sisir tanah (OA)
sisir tanah (OA)

Kemeriahan tak berhenti di situ saja, karena “Panggung Terbuka” juga menjadi program yang ditunggu-tunggu oleh penonton. Program ini menghadirkan berbagai musisi lintas genre yang beberapa namanya sudah tak terdengar asing lagi di telinga para pecinta musik tanah air. Misalnya, di hari pertama, duo folk asal Yogyakarta, Sisir Tanah, mengokupasi Panggung Teduh, sebuah panggung kecil yang berada di tengah apitan dua pohon beringin di depan Pendopo. Ditemani lilin-lilin dan lampion yang menggantung di dahan-dahan pohon tersebut, Bagus Dwi Danto dan Pandu Hidayat memetik gitar-gitar mereka dan syahdu pun melingkupi arena tersebut. Membawakan lebih dari lima nomor, Sisir Tanah bagaikan dua cangkir teh panas yang mereka sesap di sela-sela penampilan mereka; melumerkan gula batu dalam cangkir-cangkir tersebut, dan juga melumerkan perasaan penontonnya.

Selain itu ada pula Kiki and The Klan yang membawa nuansa rock n’ roll ke penonton di amphitheatre setelah Tana Ntodea yang penuh dengan aura mistis khas Toraja membuat penonton merinding, dan sebelum Bhatara Ethnic Band memberikan nuansa pop etnik khas nusantara yang apik. Interaksi para penampil dan penonton tak sekalipun terlihat berjarak. Hal itu juga terlihat dari penampilan Total Perkusi, Bukonk Betaja, sampai unit folk berinstrumen serba mini asal Bandung, Littlelute. Semuanya membaur dalam riuh rendah suara dan teriakan, lirik-lirik yang disenandungkan bersama-sama, serta renyahnya tawa yang menyelip keluar melalui mulut-mulut yang terlihat bahagia. Betapa menyenangkan dan hangat.

Ditemui WARN!NG selepas acara, Yopei Edho selaku Festival Director dari FMT 2016 mengakui adanya peningkatan antusiasme penonton FMT dari tahun ke tahun. Baginya, FMT yang berproses dari tahun ke tahun tentunya mengalami perkembangan karena banyak hal yang ditemui selama proses tersebut, baik dari segi konsep, manajemen, sampai ideologi. “Kami sebagai penggiat FMT ingin festival ini menjadi pergerakan agar masyarakat senantiasa teredukasi. Karena pada dasarnya FMT adalah pencerahan, dengan harapan masyarakat membawa sesuatu, wawasan, sepulang dari acara ini,” terangnya.

Festival Musik Tembi 2016 pada akhirnya memanglah semarak akan bunyi. Tak hanya semarak, bebunyian itu melahirkan suatu keintiman tersendiri yang membuat para penggiat musik khas nusantara dan para penikmatnya berangkulan satu sama lain. Bersama-sama, mereka menegaskan sebuah kesimpulan bahwa bebunyian ini memang mesti dijaga karena apalah artinya semarak tanpa rasa memiliki dan kebanggaan. “Serampang Dua Belas” dan “Selayang Pandang” yang melantun bersama Komunitas Ronggeng Deli di panggung terbuka pun menutup tiga malam yang menyenangkan ini dengan liak-liuk tubuh orang tua, muda, bahkan anak-anak. Tak peduli apa instrumen yang mereka bawa dan dari mana asalnya, entah itu kecapi, sape, gamelan, akordion, mandolin, atau pita suara saja, semuanya menjadi satu dalam gerakan tubuh-tubuh yang bergoyang pelan mengikuti irama. Semesta nampaknya juga ikut merasakan semarak itu, karena di atas hamparan padi yang mengelilingi panggung terbuka Tembi Rumah Budaya, rembulan menyiramkan cahayanya yang bulat penuh pada jiwa-jiwa bahagia yang berpesta di bawahnya [contributor/ Oktaria Asmarani].

Event by                      : Forum Musik Tembi

Date                            : 19-21 Mei 2016

Venue                          : Tembi Rumah Budaya, Sewon, Bantul, Yogyakarta

[yasr_overall_rating size=”small”]

Gallery: Festival Musik Tembi 2016

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.