close

Fiksi-Fiksi Benang Merah

Fiksi-fiksi Benang Merah1-500×500
Fiksi-fiksi Benang Merah1-500x500

What : Fiksi-Fiksi Benang Merah

Penulis : …Ruhlelana

Penerbit : Samantha School Publishing dan Kendi Aksara, 2013

Bila buku-buku lain menyuguhkan cerita-cerita yang kemudian bisa diimajikan dalam adegan-adegan bisu di otak, Fiksi-Fiksi Benang Merah mengajak pembacanya terbawa dalam beberapa genre musik yang seolah menyuara bersama larik-larik cerita di bukunya. Ruhlelana mengelompokkan 21 cerita pendek di buku ini dalam genre Jazz, Blues, Grunge dan Orkes. Selain karena alasan yang terkait dengan isi dan nuansa cerita, pengadaan genre dalam buku ini bisa dibilang sangat membantu pembaca untuk sampai di halaman terakhir tanpa tersesat terlalu jauh.

Pembaca memang akan tetap tersesat. Cerita-cerita Ruhlelana di buku ini seperti racau asal dari seseorang yang bangun tengah malam, tapi sekaligus seru dan indah didengarkan. Seolah tidak menghiraukan batas logika dan pengetahuan pembacanya, Ruhlelana dengan bebas mengimajikan apa saja. Tentang Cepot yang setengah dewa, tentang Chairil yang seorang pembunuh, tentang bau sabun colek, sampai pheromone dan vagina purba. Begitu kacau, begitu lincah.

Untuk mereka (juga saya) yang menggemari karya-karya fiksi yang tidak biasa, Fiksi-Fiksi Benang Merah menjadi salah satu rekomendasi. Menggunakan diksi yang kaya, plot dan ide cerita yang bermacam-macam, Ruhlelana membuat saya (dan anda akan segera) terheran-heran sekaligus kagum, terjebak sekaligus tersengal-sengal mengejar logikanya agar tidak ketinggalan. Ketika pertama kali sampai di akhir buku, anda hanya akan keluar tapi belum selesai. Anda sesungguhnya masih tersesat di dalam. Begitulah.

Serupa musik Jazz yang penuh improvisasi dan permainan rumit dari setiap alat musik, 6 cerita di bab pertama ini juga begitu. Perasaan-perasaan rumit saling bertemu. Lagu-lagu milik Duke Ellington mungkin bisa didengarkan selagi membaca kisah perjalanan serupa Narnia di “Tersesat dalam Labirin Haji Meubel”. Ada juga cerita tentang seorang lelaki tua yang menggugat teks-teks yang mengada tanpa ruh.

Cerita-cerita suram tentang kematian mengada serupa distorsi gitar di musik-musik Nirvana. “BINATANG JALANG – A Short Story About A Perfect Murderer” adalah salah satu cerita dengan plot panjang yang sangat menarik di bab Grunge ini. Tersisip sedikit filosofi Mikhail Bakunin dan Chairil Anwar yang mendapat peran sebagai pembunuh.

Kemudian bab selanjutnya, Blues, berisi 4 cerita. Eksplorasi rasa rindu dilakukan dengan apik dan tidak klise oleh Ruhlelana. Salah satu cerita favorit “Semalam Bersama Mimpi Lusid” menceritakan seorang lelaki yang kemudian tersesat di limbo mimpinya selamanya.

Sampailah di bab dengan cerita yang kata Ruhlelana mengangkat lokalitas dan sangat Indonesia, Orkes. Pikir anda akan digoyang oleh cerita-cerita absurb tentang vagina purba yang beranak serigala, tentang kuntilanak yang tidur dengan manusia, atau adegan matahari, pelangi, bulan dan ikan lele yang bercengkrama.

Saran saya untuk anda yang akan membaca buku ini, jangan berambisi untuk mengalahkan Ruhlelana. Jika di akhir buku kalian kalah dan tersesat, alih-alih meronta atau menggugat, nikmati sajalah. [Warn!ng/Titah Asmaning]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response