close

Film Indonesia Terbaik 2014

FILM TERBAIK
FILM TERBAIK

Rasanya tidak berlebihan menyebut 2014 sebagai salah satu tahun terbaik untuk perfilman Indonesia. Tahun ini adalah masa dimana layar lebar Indonesia tidak berhenti di perkara bioskop-festival atau genre fiksi-dokumenter. Banyaknya tema dan jenis film yang berseliweran di layar-layar pemutaran –baik komersil ataupun bukan—, serta antusias penonton yang tinggi menjadi tanda bahwa tahun ini film Indonesia mendapatkan kembali keberagaman dan euforianya. Mulai dari gaharnya adegan aksi di The Raid, sedapnya Rendang Batokok di Tabula Rasa sampai munculnya lagi tema klasik dunia persilatan seperti di Pendekar Tongkat Emas.

2014 juga adalah ketika sinema Indonesia tidak berhenti jadi produk hiburan semata. Film-film seperti Yang Ketu7uh, Jalanan dan Senyap dengan jujur merekam manusia dan realitas sosial yang menghidupinya. Bahwa kemudian film-film ini menjadi lebih dari sekedar dokumentasi, alat untuk berefleksi sampai tamparan untuk diri sendiri, itu adalah efek baik yang memang seharusnya dihadirkan oleh sinema. Masa untuk cerita utopis film-film klise sudah lewat, sekarang narasi itu ada pada kita, manusia dan potret keseharian yang apa adanya. Dan rasanya, merayakan perfilman Indonesia tahun ini sama artinya dengan merayakan keseharian kita, yang padanya ada cerita-cerita bermakna yang mungkin selama ini luput terekam dalam kamera.

 

10. Killers (The Mo Brothers)

killers

Sophomore effort dari Mo Brothers ini tak kalah merah dari Rumah Dara. Berkisah tentang seorang jurnalis gagal yang teradiksi nikmatnya membunuh berkat pengaruh seorang vlogger anomali asal Jepang yang populer akan video sadisnya di internet. Tubrukan budaya Jepang-Indonesia dirajut dalam plot brutal yang stylish dan elegan. Sebuah pengamatan diam-diam, licik dan terpelajar terhadap situasi horor. Film yang mendayakan kekejaman dengan cara eksotis, diiringi gubahan scoring yang intimidatif dan kadang sedikit homoris. Pendekatan bertuturnya tidak banal namun berkesimpulan brutal, mengarah pada adegan puncak yang mengingatkan pada karya klasik John Woo.

 

 9. Pendekar Tongkat Emas (Ifa Isfansyah)

pendekar tongkat emas

Pendekar Tongkat Emas membangkitkan lagi kenangan masa kecil oleh tokoh-tokoh pendekar heroik pembasmi kejahatan. Mira Lesmana lagi-lagi menetapkan standar bagi perfilman di Indonesia, ketika film remaja romantis punya patokan Ada Apa Dengan Cinta, film anak-anak diukur dengan keberhasilan Petualangan Sherina dan tren film adaptasi novel diawali doleh Laskar Pelangi, kini masyarakat Indonesia tinggal menanti apakah Pendekar Tongkat Emas bisa jadi inspirasi munculnya film-film pendekar berikutnya. Dilatari dengan bentangan alam Sumba yang memukau dipadu dengan kemampuan akting luar biasa para pemainnya serta skenario puitis garapan Seno Gumira Ajidarma, Pendekar Tongkat Emas adalah pilihan film yang tepat untuk menutup tahun.

 

8. Selamat Pagi, Malam (Lucky Kuswandi)

selamat pagi malam

Sekejam-kejamnya ibu tiri masih lebih kejam ibu kota, mungkin ungkapan tersebut adalah penggambaran yang tepat dan kurang lebih menjelaskan garis merah film ini. Pada Selamat Pagi, Malam, Jakarta dan para penghuninya ditelanjangi bulat-bulat. Segala tindak tanduk yang dicap tabu dan luput tertutup tabir metropolitan serba moderen dipampang jelas-jelas sebagai sebuah karya penggalan cerita yang blak-blakan. Gambaran tanpa tedeng aling-aling tersebut membuat anggapan soal Jakarta bagi kebanyakan orang sirna sudah, Jakarta bukan lagi sekadar peluang kerja, pusat perbelanjaan dan tempat presiden berkantor. Banyak film yang bercerita soal Jakarta dan penghuninya yang katanya sudah terbawa kemunafikan ala urban, namun Selamat Pagi, Malam adalah karya mengesankan untuk melengkapi satu lagi koleksi autokritik para penghuni Jakarta.

 

7. Toilet Blues (Dirmawan Hatta)

toilet blues

Tentang seorang pria dalam usaha pencapaian cita-citanya menjadi seorang pastur dan seorang wanita yang dianugerahi sifat pemberontak dan oleh ayahnya dicap pelacur. Sebagai sebuah road movie, ketidakjelasan titik akhir yang mereka tuju mungkin berpotensi menimbulkan kernyitan di dahi penontonnya. Namun secara filosofis, dikaitkan dengan pemakaian metafor dari simbol agama dan dialog-dialog impulsif-agresif dari karakternya, gejolak itu yang mungkin sengaja ingin ditimbulkan. World Premiere di Busan International Film Festival 2013, judulnya secara hemat mampu merangkum isi film, layaknya toilet yang jadi ruang pembebasan beban dari tubuh manusia dan musik blues yang erat dengan religiusitas dan kemurungan.

 

6. Yang Ketu7uh (Dandhy Laksono)

yang ketu7uh

Peristiwa yang paling menyedot banyak perhatian masyarakat Indonesia di tahun 2014 adalah pemilihan umum presiden. Banyak insiden yang kiranya tidak ditemukan pada pilpres tahun-tahun sebelumnya. Yang Ketu7uh di sini hadir merangkum fenomena pesta demokrasi lima tahun sekali dengan cara menyorotnya melalui kisah empat rakyat kecil. Di sini, tidak banyak dibahas soal hingar bingar kampanye atau saling serang antarsimpatisan, namun lebih menyorot banyaknya pekerjaan rumah yang mengiringi presiden terpilih ketujuh nantinya. Menurut sutradaranya, kisah empat rakyat kecil ini mewakili empat masalah utama nan klasik di Indonesia: lapangan pekerjaan, pemukiman, hak atas tanah dan kebutuhan dasar. Menarik melihat dokumentasi partisipasi politik masyarakat Indonesia yang terhimpit berbagai permasalahan di atas, serta kenyataan bahwa pertautan antara masyarakat dan politik seringkali hanya dikuatkan oleh alasan pragmatis.

 

5. Jalanan (Daniel Ziv)

jalanan

Sebagai sebuah dokumenter, Jalanan memiliki jalan cerita yang tak kalah emosionalnya dengan film-film drama. Daniel Ziv sang sutradara mengikuti kisah ketiga tokoh dengan runut, lalu mengekspos semuanya dengan jujur. Kritik soal kesenjangan sosial, gamblangnya hidup di jalanan, sampai konsep cinta yang dimaknai begitu sederhana. Film ini seolah membuat penontonnya berkali-kali lebih dekat dengan apa yang sering terabai. Akhirnya, berkat film Jalanan kita bisa ikut tertawa bersama canda dan haru oleh kisah mereka, setelah biasanya kontak dengan mereka hanya sebatas memberi receh atau melambai tangan ketika tak ada uang kecil.

 

 

4. Cahaya Dari Timur: Beta Maluku (Angga Dwimas Sasongko)

cahaya dari timur

Film sepak bola dengan pengenalan wilayah dan human story mungkin sudah banyak, tapi dalam hal pencapaian emosi, film ini juaranya. Debut akting Chicco Jerikho di layar lebar ini sekali lagi mementahkan stigma yang menganggap bahwa jebolan FTV tidak sanggup main watak. Menceritakan tentang militansi seseorang yang didasari akan kecintaan yang besar terhadap sepak bola, melatih sekumpulan pemuda berbakat kampung sekitar agar mampu bermain dengan benar. Tapi kekuatan terbesar film ini terletak pada bagaimana pembuatnya alih-alih menciptakan keseruan yang mengelilingi semesta sepak bola, justru dengan sabar memaparkan proses. Proses menuju kemenangan dalam konteks yang lebih luas. Setia pada metode itu, bahkan dalam adegan pertandingan bola di akhir film, secara bijak film disudahi dengan sederhana tanpa menghiraukan euphoria.

 

 3. Tabula Rasa (Adriyanto Dewo)

tabula rasa

Tabula Rasa menghadirkan kisah yang tak biasa diangkat pada sebuah film. Cerita drama yang dibumbui oleh pesona gulai kepala kakap dan dendeng bakar batokok menjadi perpaduan yang unik sekaligus menggugah hasrat untuk langsung cepat-cepat memburu rumah makan Padang. Tabula Rasa menawarkan humor yang rasanya seperti di rumah, guruan khas keluarga yang hangat. Akting para pemainnya juga berjalan sangat natural dan menyentuh. Mereka membuat para penonton sadar bahwa makanan bukan sekadar racikan bahan dan bumbu yang membangkitkan rasa lapar melainkan adalah soal pembangkit kenangan. Tabula Rasa tidak berlebihan apabila menjuluki dirinya sebagai film kuliner, gambar-gambar keindahan makanan khas Sumatera Barat begitu hidup membuat para penontonnya tersentuh tidak hanya dalam hati tapi juga pada lidah.

 

 

2. The Raid: Berandal (Gareth Evans)

berandal

Jika The Raid Redemption silam dianugerahi predikat film paling brutal, tahun ini The Raid memecahkan rekornya sendiri lewat sekuel bertajuk Berandal. Sang pembuat tampaknya mengindahkan dengan serius kritik-kritik soal lemahnya jalan cerita pada film sebelumnya. Berandal kemudian tampil mendekati sempurna dengan karakter-karakter yang lebih kuat pun ikonik macam Hammer Girl dan Baseball Bat Boy. Jangan tanya lagi soal aksi baku hantam di dalamnya, The Raid punya efek yang ajaib bagi penonton—membuat penonton tiba-tiba jadi penikmat darah dan bersorak girang sambil tepuk tangan setiap ada orang yang jatuh mati.

 

1. Senyap* (Joshua Oppenheimer)

senyap

 

Tragedi tahun 1965 tak akan pernah habis dibahas. Membicarakannya seperti berdiskusi soal legenda urban yang senantiasa bias mana yang sejarah atau mana yang dilebih-lebihkan. Bisa dibilang tragedi ini adalah konspirasi terbesar yang sampai kini masih tabu untuk diungkap. Senyap adalah bentuk tindakan yang berani terhadap sejarah. Film ini mampu mengupas sisi lain dari yang dikonstruksikan pada pemahaman awam. Tak heran jadi kontroversi. Berbeda dengan pendahulunya, Jagal, Senyap menyorot kisah Tragedi 1965 dari mata salah seorang korban. Bukan soal mengemis belas kasih atau malah mendulang simpati pada hal-hal berbau komunis, Senyap bercerita soal bagaimana seringnya sejarah bukanlah semata-mata peristiwa lampau yang habis dimakan waktu.

*Ya, sama seperti yang Anda pikirkan, Senyap tidak sepenuhnya film indonesia, sutradara asing, dengan produser utama yang juga asing. Namun, melihat isi, dan seluk beluk film ini, ditambah andil besar Co- sutradara dan co produser Indonesia, menjadi beberapa alasan kami memasukan Senyap dalam list ini.

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response