close

Film Indonesia Terbaik 2016 (5-1)

20170101115515

Back to:

Film Indonesia Terbaik 2016 (10-6)

5. Potongan

Sutradara: Chairun Nissa

Yang dilakukan oleh Potongan adalah menelanjangi musuh abadi bersama pegiat dan penonton film Indonesia: Lembaga Sensor Film (LSF). Menggunakan film Babi Buta yang Ingin Terbang karya Edwin, Potongan mengajak kita mengikuti prosedur penyensoran film di LSF, bersabar mengikuti proses birokrasinya yang rumit dan sistemnya yang tak jelas. Di tengah pro-kontra penyensoran film, Potongan menjadi sangat kritis mengingat LSF punyak kuasa yang sangat urgen bagi distribusi film Indonesia ke layar komersil.

Fakta bahwa LSF sekarang ini berada di naungan komisi I DPR di bidang Pertahanan dan Keamanan Negara juga memberikan konteks fungsi LSF pagi pemerintah untuk mengontrol kita. Tanpa arahan dan campur tangan dari Chairun Nissa ataupun kru film lain, footage yang mereka dapat di Potongan justru seolah memperlihatkan LSF sebagai sekelompok komedian alih-alih penjaga moral bangsa, spektakuler. Semakin nakal dengan ditayangkannya footage-footage film yang tersensor di bagian akhir film ini. Jitu!

4. Cado-Cado

Sutradara: Ifa Isfansyah

Pemain:  Tika Bravani, Adipati Dolken, Ali Mensan, Aurellie Moremans

Berapa kali anda menjumpai adegan pasien di rumah sakit yang berdarah-darah di kepala padahal diagnosisnya sakit liver? Atau adegan bunuh diri kilat dengan menyilet-nyilet pergelangan tangan? Ya, semuanya tidak logis. Dan itu yang ingin dibenarkan oleh Cado-Cado. Cado-cado membuat pencapaian lain dalam keseriusan sebuah film Indonesia menggarap referensi dari setting ceritanya. Bertumpu pada kisah Riva yang terlibat kisah cinta di tengah masa Ko-Ass, film ini selesai dengan baik. Tidak ada yang baru dari plotnya, tapi juga tak ada emosi berlebihan, atau joke murah yang terlalu dipaksakan. Semakin manis dengan soundtrack yang pas. Meski bentuknya drama-komedi, narasinya dibungkus dalam dunia kedokteran yang kuat lewat berbagai istilah akademis, prosedur klinis dan setting yang meyakinkan. Rumah sakit, seragam dokter dan darah di film ini tidak jadi tempelan belaka. Ifa Isfansyah menampilkan aktivitas kedokteran senyata mungkin dan yang terpenting, logis.

 

 

3. Athirah

Sutradara: Riri Riza

Pemain: Cut Mini, Christoffer Nelwan, Jajang C. Noer, Indah Permatasari

Baik Mira Lesmana maupun Riri Riza nampaknya sadar betul bagaimana AADC 2 jatuh secara kualitas dan cenderung hadir sebatas pemanis kerinduan dari episode pertamanya. Meski tidak bisa dipungkiri bahwa pasar menyambutnya dengan terbuka yang berdampak masuknya gelontoran keuntungan di depan mata. Seolah ingin mengambil sikap penebusan, sebuah film biopik yang mengisahkan perjalanan Athirah Kalla—ibunda Wakil Presiden negara kita, Jusuf Kalla pun dibuat. Kekuatan Athirah terletak pada dua hal; keberhasilan Riri Riza menyadur cerita tanpa harus mendramatisir suasana dan pesona Cut Mini yang memainkan laku utama. Tak kaget rasanya apabila Athirah sukses menggondol 6 (enam) buah Piala Citra tahun ini dengan dua di antaranya merupakan kategori bergengsi; Film Terbaik serta Sutradara Terbaik.

 

 

 2. Ziarah

Sutradara: BW Purbanegara

Pemain: Ponco Sutiyem, Rukman Rosadi, Ledjar Subroto, Vera Prifatamasari

Ziarah menghadirkan visual yang terlalu asing untuk penonton layar perak Indonesia, dan karena itu ia terasa baru. Alih-alih ikut menampilkan parade modernitas yang bingar, Ziarah menyajikan narasi sepi nan sederhana namun menelusup jauh ke dalam rasa. Kita akan dibawa mengikuti perjalanan Mbah Sri, seorang perempuan tua yang mencari kuburan suaminya yang bekas prajurit Indonesia kala Agresi Militer II tahun 1928 itu. Kisah cinta yang saking realisnya akan membuatmu entah harus menanggapi ending-nya seperti apa, coba saja.

Dalam adegan-adegan long-take yang sepi, raut dan keriput Mbah Sri ternyata menawarkan muatan padat tentang kehidupan. Perkara relasi tanah dan manusia, kematian, cinta, dan sejarah. Kesemuanya kemudian tiba-tiba jadi kontekstual dengan segala carut marut di sekitar kita. Perjalanan Mbah Sri adalah kontemplasi kita tentang pergeseran makna tanah dari ekonomi ke spiritual, ironi usaha rekonsiliasi sejarah kita sendiri, juga membuat kita mempertanyakan kembali cinta yang selama ini mati-matian kita hidupi. Sebuah film rumit yang sederhana.

 1. Istirahatlah Kata Kata

Sutradara: Yosep Anggi Noen 

Pemain:  Gunawan Maryanto. Marissa Anita, Melanie Subono, Eduwart Boang,

Arswendy Nasution, Joned Suryatmoko

Adalah karya sinematik pamungkas oleh Yosep Anggi Noen di akhir tahun ini. Dirilis publik baru 19 Januari 2017 mendatang, artinya masih ada waktu buat yang awam dengan puisi Wiji Thukul untuk mulai membaca dan berkenalan sedikit dengan sosoknya. Masalahnya, film ini terlalu bagus untuk disesalkan karena “kurang memberikan konteks politik” atau “kurang memperkenalkan tokoh utamanya lebih dahulu”. Mari sama-sama mendidik diri sendiri untuk yang satu itu.
Kisahnya berfokus pada perjalanan Wiji Thukul bersembunyi dari daftar cari aparat pasca-kerusuhan 27 Juli 1996. Thukul diburu karena kata-katanya menggentarkan rezim tangan besi. Selain dilantunkan sebagai voice-over, puisi Wiji Thukul dialihbahasakan menjadi bahasa sinema yang tepat guna. Anggi Noen masih teguh pada khas kekaryaannya, menyisipkan alegori melalui adegan dan tokoh rekaan sehingga kritiknya bisa tersampaikan dengan cerdas–dan tidak terendus belati sensor. Istirahatlah Kata Kata ialah panggung buat Gunawan Maryanto dan Marissa Anita mengadu emosi pemirsa, ia juga mimbar untuk bersama-sama mengalami kemanusian bersama tokoh penyair rangkap aktivis Wiji Thukul.
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response